Trip to KL-Singapore Day #3 : Naik ke Skybridge Twin Tower Percuma ke?

Setelah kemarin ke Twin Tower untuk hunting foto dengan night view, pagi ini kami berencana ke Twin Tower (dan juga KL Tower) untuk hunting foto day view. Sebenernya judulnya aja sih “hunting foto”. Isinya sih cuma narsis-narsisan sama 2 bangunan (atau menara?) iconic punya Malaysia ini 😀

Rencananya jam 08.00 kami akan memulai perjalanan hari ini. Dan karena waktu check out adalah jam 11.00, sedangkan kami akan jalan-jalan seharian lagi, kami harus check out sebelum berangkat jalan-jalan. Ketika check out, kami meminta ijin untuk menitipkan barang-barang di hotel untuk diambil nanti sore. Sebenarnya hotel kami ini tidak menyediakan penitipan barang seperti layaknya hostel. Namun karena pemiliknya baik, jadi kami diijinkan menitip barang.

IMG_4641

Tujuan pertama hari ini adalah ke Twin Tower untuk naik ke Sky Bridge-nya. Denger dari teman yang tahun lalu ke sini, serta ulasan-ulasan di blog orang-orang, untuk naik ke Sky Bridge ini gratis, namun harus antre untuk mengambil tiket pagi-pagi sekali karena antrean sangat panjang. Jadilah pagi itu kami naik taksi ke Twin Tower.

Twin Tower (lagi)

Sampai di Twin Tower kami langsung mencari satpam untuk bertanya di mana bisa antre tiket Sky Bridge. Satpam pertama yang kami temui adalah yang lagi berjaga di pintu depan KLCC Suria Mall. Selain bertanya tempat, saya juga sekalian memastikan apakah benar gratis seperti yang saya dengar.

Pertama-tama saya bertanya dengan polosnya menggunakan bahasa Indonesia gaul, “Naiknya gratis kan?” Pak satpamnya bengong denger pertanyaan saya, hingga saya tersadar bahwa saya bukan lagi di Indonesia. Lalu saya ubah kalimatnya jadi lebih formal, “Untuk naik ke sky bridge gratis ya, pak?” Eh si bapaknya masih bengong ga ngerti sambil berusaha mendengarkan ucapan saya. Lalu saya jadi teringat bahwa “gratis” itu bukan “gratis” dalam bahasa Melayu, melainkan “percuma” (mungkin sama dengan “cuma-cuma” kalau di bahasa Indonesia). Akhirnya saya pun bertanya, “Naik ke Skybridge Twin Tower percuma ke?” Kata “ke” saya tambahkan gara-gara sering dengar orang Malaysia kalo bertanya, akhirannya diberi “ke” (sama dengan “kah” kalo di bahasa Indonesia).

Nah baru deh si bapak ngerti. Eh tapi jawabannya cukup membuat kaget. Kata beliau, untuk naik ke sky bridge harus bayar RM 80!! Lalu saya bilang bahwa saya dengar dari teman bahwa naik sky bridge gratis. Trus kata si bapak, itu cuma gratis hingga 2 tahun lalu, jadi sudah 2 tahun belakangan ini memang bayar RM 80. Oalaahh, batal deh liat pemandangan KL dari ketinggian 😦

Ya syudah, akhirnya kami berfoto-foto saja dengan day view-nya twin tower ini.

IMG_4659

Setelah dari Twin Tower, kami hendak ke KL Tower untuk foto-foto dari dekat juga. Liat di peta, kayaknya lokasi KL Tower dan Twin Tower ini deket. Untuk meminimalisasi naik taksi (karena ga ada angkot lho di KL), kami pun jalan kaki saja. Daaann, ini kejadiannya sama persis dengan pencarian Twin Tower semalam 😀 Sudah jalan 30 menit kok ga sampe-sampe? Padahal puncak menaranya kelihatan. Haha 😀 Dan ternyata ga sedekat yang terlihat di peta. Kami berjalan kaki sekitar 45 menit baru akhirnya sampai.

KL Tower

Dari gerbang masuk KL Tower hingga ke Tower-nya sendiri ternyata masih harus naik lagi dengan berjalan kaki 15 menit. Karena sudah kelelahan, kami memilih menunggu free shuttle yang datang setiap beberapa menit sekali. Sambil menunggu kami berkenalan dengan supir taksi yang lagi menunggu calon penumpang di pos satpam. Ternyata supir taksi tersebut blasteran Indonesia-Singapore dan lahir di Malaysia lalu tinggal di sini (KL) hingga sekarang. Supir taksi itu pun bertanya dari sini kami hendak ke mana. Kami bilang hendak ke Batu Caves. Ia pun menawarkan naik taksinya dia dengan bayaran RM 30. Wah, mahal sekali. Kami pun menolak dengan halus.

Beberapa menit kemudian free shuttle pun datang. Kami pun naik, dan perjalanan ke atas hanya memakan waktu 5 menit.

Sampai di atas, ternyata tidak ada spot untuk foto-foto dari depannya seperti di Twin Tower. Selain itu, cahaya mataharinya juga tidak tepat menyorot ke wajah kami sehingga berkali-kali kami menghasilkan foto yang gelap. Alhasil kami kesulitan mencari spot yang paling tepat secara posisi dengan KL Tower-nya, maupun dengan pencahayaannya. Ini foto terbaik yang berhasil diperoleh 😛

IMG_4719

Nah kalo di KL Tower ini untuk naik ke atasnya memang bayar sekitar RM 30-an. Kami lagi-lagi memilih untuk tidak naik. Pokoknya tempat wisata yang kami datangi yang gratis-gratis saja. Hehe. Tapi kalo mau naik, banyak ulasan yang menyebutkan bahwa di atas KL Tower cukup menyenangkan karena ada restoran dan toko cinderamata. Silakan dicoba!

Batu Caves

Sekitar 30 menit kami habiskan untuk berfoto-foto di sini. Kami menumpang free shuttle untuk turun ke bawah lagi. Di bawah, kami berpamitan dengan supir taksi yang baik tadi untuk melanjutkan perjalanan ke Batu Caves.

Keluar dari KL Tower, kami mencari stasiun LRT terdekat untuk menuju ke KL Sentral. Berdasarkan informasi dari teman, untuk ke Batu Caves, kami harus naik KTM dari KL Sentral sampai stasiun Gombak lalu lanjut ke Batu Caves dengan taksi. Stasiun LRT terdekat dengan KL Tower adalah stasiun Dang Wangi, karena agak bingung dan sudah kelelahan, kami pun naik taksi ke stasiun ini. Ternyata kalo naik taksi terasa sangat dekat. Sebentar saja sudah sampai.

Di stasiun Dang Wangi kami membeli tiket LRT ke KL Sentral yang berbentuk seperti token di mesin otomatis. Harga tiketnya murah, hanya RM 1,6 per orang. Sampai KL Sentral, kami mencari KTM yang ke stasiun Gombak. Tanpa diduga, ternyata malah ada KTM yang sampai ke stasiun Batu Caves. Kami pun membeli tiket KTM tersebut yang harganya cuma RM 2 per orang! Jadi total dari KL Tower ke Batu Caves kami cuma menghabiskan RM 3,6. Untung kami ga setuju untuk naik taksi yang berharga RM 30 tadi -_-”

Pukul 11.00 kami naik KTM ke Batu Caves. Perjalanan cukup jauh, alhamdulillah sepanjang perjalanan bisa melihat-lihat pemandangan KL mulai dari pemandangan kota metropolitannya, hingga berangsur-angsur ke pinggir kota dan pemandangan pedesaan yang masih alami. Sebenarnya masih lebih indah di Indonesia sih, tapi tetap saja senang melihat pemandangan negara lain dari kereta yang sangat nyaman 🙂

Sekitar 10 menit kemudian, tiba-tiba hujan deras turun. Wah saya cuma bisa berharap di Batu Caves-nya ga hujan, semoga hujannya di KL saja. Perjalanan ini memakan waktu 30 menit. Ternyata hingga stasiun terakhir yaitu stasiun Batu Caves, hujan tetap turun, bahkan makin deras. Sesampainya di sana, kami bersama semua penumpang turun (karena ini stasiun terakhir). Namun kami tidak dapat langsung ke spot wisatanya karena hujan begitu deras. Jadi kami semua berteduh di stasiun.

Sambil menunggu hujan reda, kami berkenalan dengan seorang turis, perempuan muda berjilbab dari Indonesia. Kalo saya tebak, usianya mungkin hanya 2 atau 3 tahun di atas saya. Dia jalan-jalan sendirian di Malaysia dan ternyata dia berasal dari Bandung! Akhirnya kami mengajaknya untuk bergabung bersama kami.

15 menit kemudian hujan pun reda. Kami pun bergerak ke tempat wisatanya, yaitu kuil Hindu yang ada patung salah satu dewanya umat Hindu (saya lupa namanya siapa) yang terbesar di dunia. Istimewanya lagi, selain kuil “biasa” yang terletak tak jauh dari stasiun, ada juga kuil yang terletak di gua (inilah asal mula nama Batu Caves alias gua batu), dan guanya ini berada di ketinggian sekitar 200 anak tangga (bener ga ya?). Ini fotonya

IMG_4741

Setelah berfoto-foto di bawah, kami bertiga pun mencoba menyusuri tangga-tangga itu hingga ke atas. Dalam perjalanan naik, di kiri-kanan gua terdapat beberapa batu yang dipahat jadi patung dewa-dewa. Saya bingung itu orangnya berdiri di mana ya pas memahat batunya >_< Atau naik apa buat naroh patungnya di situ. Memang luar biasa sekali membayangkan apa yang dapat manusia lakukan dengan keterbatasan yang ada pada zaman dahulu.

IMG_4759

Di tengah-tengah anak tangga

Sampai di atas, lumayan capek juga, tapi worth it 😀 Pemandangan guanya bener-bener alami. Apalagi karena abis hujan, jadi basah-basah sisa hujannya masih ada, lalu dari atas “atap” gua yang bolong, cahaya matahari cerah menyelinap menerangi sekeliling gua. Ditingkahi dengan asap dupa dari sebuah acara yang sedang berlangsung di kuil tersebut, serta wanita hindu India dengan pakaian sarinya, benar-benar sebuah pemandangan eksotis yang langka 🙂

Saat itu sepertinya ada upacara doa bagi seorang anak kecil. Mungkin mirip aqiqahan kalo bagi umat Islam, tapi bedanya, anak ini sudah cukup besar. Mungkin berumur sekitar 2 tahun. Saat kami di sini, kami melihat anak itu dibawa dengan tandu dari bawah hingga atas sini. Aduh, apa ga takut ngegelinding ya tu anak >_<

Kami tidak lama berada di sini karena tidak terlalu paham dengan upacaranya dan tidak ada guide yang bisa menjelaskan. Mungkin kalau ada guide jadi lebih menarik ya. Setelah puas berkeliling gua dan berfoto-foto, kami pun turun kembali.

Sesampainya di bawah, kami merasa agak lapar. Di sekitar kuil banyak sekali restoran India, tapi India Hindu, bukan India Islam. Karena kami tidak yakin dengan kehalalan makanannya, kami tidak berani makan di sana. Akhirnya kami ke minimarket yang ada di situ dan membeli cemilan serta minuman kotak yang ada label halal Malaysia-nya.

Kami pun kembali ke stasiun untuk naik KTM lagi ke KL Sentral. Kebetulan teteh tadi mau ke Central Market. Kami yang sudah hapal jalan ke sana pun memberi tahu bagaimana cara ke sana dan kami memutuskan naik kereta bersama hingga KL Sentral, lalu berpisah di KL Sentral. Kami pun membeli tiket seharga RM 2 lagi dan masuk ke KTM yang lagi ngetem. Karena stasiun ini merupakan stasiun pertama kalo dari arah Batu Caves ke KL Sentral, KTM menunggu beberapa menit sebelum berangkat.

Saat sudah masuk KTM, saya memeriksa barang-barang karena merasa ada yang kurang. Ternyata saya melupakan payung saya! Saya pun teringat bahwa terakhir memegang payung ini saat membayar makanan di mini market. Karena payung ini sangat berharga buat saya (belinya di Jepang dan harganya supermahal >_<) saya dan Nisa pun keluar lagi dari KTM untuk mengambil payung saya. Kami pun berpisah dengan teteh itu dalam keadaan panik (saya sih yang panik, haha).

Saya pun berlari keluar stasiun menuju mini market. Deket sih, tapi tetep aja saya lari-lari karena takut diambil orang (payungnya lucu soalnya). Dalam hati berdoa, semoga payung itu masih menjadi rejeki saya ya, Allah. Sampai di mini market, Alhamdulillah, payungnya masih ada di tempat saya meninggalkannya >_<

Kembali ke stasiun, sudah ada KTM lain yang sedang ngetem. Kami pun langsung naik, dan karena kelelahan, kami tertidur sepanjang perjalanan ke KL Sentral. Alhamdulillah ga kelewatan 😀

Stasiun KL Sentral

Sampai di stasiun KL Sentral sudah pukul 14.00. Kami pun mencari mushola untuk solat. Alhamdulillah musholanya luas dan nyaman. Ber-AC, dipisah mushola ikhwan dan akhwat, tempat wudhunya juga tertutup. Jadi kami sekalian beristirahat di sini, membenahi pakaian dan jilbab yang sudah acak-acakan tidak karuan terkena hujan dan keringat karena berlari-lari dan naik 200 anak tangga tadi 😀

Hari ini spot-spot wisata yang kami rencanakan sudah kami datangi semua, padahal waktu masih menunjukkan pukul 15.00, masih terlalu siang untuk kembali ke hotel, mengambil barang, lalu ke Terminal Bersepadu Selatan (TBS) untuk menunggu bus ke Sg nanti malam. Namun, ada satu hal yang belum kesampaian, yaitu merasakan kuliner asli Malaysia, yaitu nasi lemak dan laksa. Setelah berpikir-pikir, kami memutuskan menghabiskan sore ini di mall saja, supaya nyaman dan bisa mendapatkan makanan yang proper. Mall yang kami pilih adalah Berjaya Times Square (BTS).

Berjaya Times Square

Setelah bertanya dengan mbak2 penjaga loket tiket, untuk menuju BTS ternyata bukan dengan naik KTM, melainkan monorail. Wah makin salut saja sama pemerintah KL, semua mode transportasinya sudah seperti di negara maju saja. Indonesia kalah jauh >_<

Stasiun monorail berada di luar stasiun KL Sentral. Dari KL Sentral terdapat petunjuk yang sangat jelas bagaimana cara ke stasiun monorail, jadi tidak perlu khawatir. Dari stasiun monorail di dekat KL Sentral ini (lupa nama stasiunnya), kami harus turun di stasiun Imbi yang sudah terhubung langsung dengan bagian dalam mall.

Penghubung stasiun dengan bagian dalam mall adalah sebuah lorong ber-AC. Di sepanjang lorong ini juga banyak yang menjual makanan, minuman, dan pakaian. Tak disangka, saya menemukan kios makanan Thailand yang menjual mango rice, makanan khas Thailand yang rencananya akan saya coba pertama kali saat ke Thailand suatu saat nanti. Karena sudah sangat lapar, saya pun membeli mango rice tersebut sebagai cemilan.

Apa sih mango rice? “Rice” yang dimaksud di sini adalah ketan. Jadi intinya makan mangga manis dan ketan, dicampur dengan santan manis. Seperti ini penampakannya

Mango rice

Mango rice

Ternyata rasanya enak sekali, tidak terlalu manis, bertekstur, pas untuk cemilan sore-sore 🙂 Ketan yang warna hijau itu menggunakan pewarna daun pandan (semoga bukan pewarna pakaian kayak di reportase investigasi >_<), tapi memang dari bau dan rasanya seperti daun pandan dan warnanya tidak mencolok.

Sampai BTS, kami mencari restoran khas Malaysia. Ada banyak restoran yang tampak menarik (namanya juga mall), namun yang kami pilih adalah restoran bernama “Wawan” yang benar-benar menjual makanan khas Malaysia. Btw, nama restorannya kayak nama orang Jawa ya 😀

Nisa memesan Nasi Lemak (alias nasi uduk :P) dan teh tarik, sedangkan saya memesan Mie Laksa Ikan Asam dan ice sirup mutiara (ini namanya ga seperti ini sebenarnya, tapi saya lupa, jadi saya kasih nama sendiri :D). Ini makanannya

Nasi Lemak

Nasi Lemak

Mie Laksa

Mie Laksa

Dua makanan di atas enak sekali dan worth it dengan harganya (harga mall, bok! :P). Nasi lemaknya ya rasanya seperti nasi uduk, ayam gorengnya bumbunya meresap sampe dagingnya, renyah, kulit krispi, daging lembut. Kering teri dan kacangnya rasanya mirip dengan yang di Indonesia, agak pedas. Sambalnya tidak terlalu pedas.

Sedangkan mie laksa rasanya asam-pedas, sangat menyegarkan. Ikannya seperti ikan masak asam khas Kalimantan Selatan, kalo pada pernah nyobain. Makan ini panas-panas beneran bikin keringetan >_< Dan setelah sekian lama rasanya makin pedas, jadi ga bisa cepet-cepet makannya. Untungnya restorannya cozy, mas-masnya good looking dan ramah-ramah 😛 jadi kami sekalian santai-santai di sini.

Selesai makan, kami keliling-keliling mall saja sampai menjelang maghrib. Kalau secara isi mall, mungkin mirip dengan BSM kalau di Bandung, bedanya ini ada 12 lantai! Capek juga ngelilingin mall ini >_<

Pukul 17.45 kami memutuskan kembali ke hotel untuk mengambil barang, lalu menuju ke TBS. Dari BTS ke Pudu, kami harus naik monoral ke stasiun Hang Tuah. Di stasiun ini kami ganti naik KTM jalur Ampang (Ampang Line) turun di stasiun Pudu, lalu sambung naik bus RapidKL turun di terminal Pudu Sentral.

Sampai di hotel kami bertanya adakah kemungkinan untuk menumpang mandi sebelum pergi (soalnya badan rasanya udah lengket semua setelah seharian berjalan-jalan). Alhamdulillah, Kak Syarifah memang sangat baik, kami dibolehkan menumpang mandi di kamar mandi luar. Selesai mandi, kami pun berpamitan dengan Kak Syarifah dan bapak pemilik hotel. Tak lupa kami memberikan oleh-oleh dari Indonesia, yaitu Amplang Iwake dari Balikpapan dan Keripik Karuhun dari Bandung 😀

Bus Transnasional

Dari Pudu Sentral ke TBS kami menumpang bus RapidKL yang berangkat pada pukul 21.00. Bus ini tidak dinaiki dari terminal Pudu Sentral, melainkan harus keleuar lewat pintu keluar terminal, di situ ada banyak bus RapidKL yang ngetem, nanti tinggal tanya sama petugas di situ, bus mana yang menuju TBS.

Pukul 21.00 bus berangkat dan sampai di TBS pukul 21.15. Sesampainya di TBS, kami beristirahat saja, santai-santai, tidur-tiduran menunggu pukul 23.59, waktu bus kami berangkat ke Sg.

Seperti yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya, dari Malaysia ke Singapore kami menumpang Bus Transnasional. Pukul 23.50 bus kami datang, kami menaikkan barang-barang, dan naik ke bus. Ternyata, isi bus ini hanya 7 orang! Padahal kapasitasnya sekitar 45 orang dengan proporsi 1 kursi di kolom sebelah kiri dan 2 kursi di kolom sebelah kanan, 15 baris ke belakang (kalau ga salah). Busnya cukup nyaman mengingat harganya yang jauh lebih murah daripada bus FiveStar (seperti sudah diceritakan di postingan sebelumnya).

Ada bagusnya juga ternyata isi bus sedikit. Tadinya saya pikir saya bisa tidur nyenyak dan bangun-bangun sudah sampai Sg. Ternyata sekitar pukul 02.30 saya terbangun karena bus berhenti di rest area. Saya pun turun membeli sarapan untuk besok pagi. Tak disangka, mas-mas penjualnya berasal dari Bandung. Haha.

Kembali ke bus, tak berapa lama kemudian (sekitar pukul 03.30) kami kembali dibangunkan untuk cap imigrasi keluar negara Malaysia. Balik ke bus lagi, saya tertidur lagi dan terbangun saat bus melewati jembatan penyebrangan dari Malaysia ke Johor Baru. Sampai Johor Baru, kami harus turun lagi untuk cap imigrasi masuk negara Singapore dan pemeriksaan barang-barang. Di sini saya merasakan untungnya isi bus cuma 7 orang. Bayangkan kalo bus penuh, ngantrenya pasti lama sekali.

Welcome to Singapore

Menurut ulasan di internet, perjalanan KL-Sg sekitar 6 jam. Tanpa diduga, pukul 04.30 kami sudah sampai Sg, tepatnya kami diturunkan di Beach Road. Mungkin yang menyebabkan perjalanan 6 jam adalah jika penumpangnya banyak, sehingga antre cap imigrasi lebih lama.

Kata teman saya, dari Beach Road ke hostel kami di jalan kubor sangat dekat, bisa dengan berjalan kaki. Namun dia menyarankan kami untuk ke Masjid Sultan terlebih dahulu untuk solat subuh. Masjid Sultan ini juga terletak sangat dekat dengan hostel kami. Kami pun bertanya kepada supir kami jalan menuju Masjid Sultan. Alhamdulillah supirnya tahu. Kami pun berjalan kaki ke sana.

Saat ini masih sangat gelap, sama seperti pukul 03.30 WIB. Tadinya saya tidak merasa takut karena ini di Sg, negara yg ckup aman. Ternyata, saat melewati sebuah bank, di depannya ada beberapa orang yang tampaknya habis mabuk-mabukan. Salah seorang cewek di antara mereka muntah >_< Kami pun mempercepat langkah kami.

Saat memasuki sebuah jalan kecil (mungkin sekecil Jalan Ganesha depan ITB), tiba-tiba ada seorang bapak teriak-teriak, “Hey you, it’s my territory, you have to pay! You can’t pass if you don’t pay!” Kira-kira seperti itu kata-katanya. Wah kami tidak berani menoleh. Makin lama suara bapak-bapak itu makin dekat. Kami benar-benar mengira dia berbicara pada kami. Alhamdulillah, saat melewati kami, dia tetap berteriak-teriak namun tidak menoleh ke arah kami sama sekali, dan ternyata dia menaiki semacam becak. Entah dia berbicara dengan siapa, sepertinya dia juga mabuk >_<

Tak jauh, tiba-tiba terlihat plang nama ABC Hostel. Kami pun memutuskan ke sana dulu untuk menitip barang, baru ke masjid. Dan memang masjidnya sangat dekat dengan hostel.

Kami pun solat subuh pada pukul 05.30, lalu tertidur. Zzzzz….

*****

Alhamdulillah kami sampai dengan selamat di Singapore. Ini rincian itinerary kami di hari terakhir di KL:

  • 08.00     Twin Tower
  • 09.00     KL Tower
  • 10.00     Naik taksi ke stasiun Dang Wangi, naik LRT ke KL Sentral
  • 11.00      Naik KTM ke Batu Caves
  • 11.30      Sampai Batu Caves
  • 13.30      Kembali dari Batu Caves ke KL Sentral naik KTM
  • 14.00     Sampai KL Sentral, solat
  • 14.30     Ke BTS naik monorail turun di stasiun Imbi
  • 15.15      Sampai BTS, makan, jalan-jalan
  • 17.45     Naik monorail ke Hang Tuah, turun, ganti KTM ke stasiun Pudu, turun, naik bus RapidKL sampai Pudu Sentral
  • 18.00     Sampai hotel, numpang mandi, ambil barang
  • 19.45     Ke Pudu Sentral, solat maghrib-isya jamak, naik bus RapidKL ke TBS
  • 21.00     Bus RapidKL berangkat ke TBS
  • 21.15      Sampai TBS
  • 23.50     Bus Transnasional datang, naik bus
  • 04.30     Sampai Singapore
Advertisements

Trip to KL-Singapore Day #2 : Genting Highland, Islamic Arts Museum, Masjid Negara, Bukit Bintang, Twin Tower

Setelah postingan sebelumnya menceritakan tentang hari pertama saya di KL, sekarang berlanjut ke hari keduanya. Hari ini, 16 November 2012, tujuan wisata utama kami adalah Genting Highland. Apa itu Genting Highland? Ada apa saja di sana?

Secara singkat, Genting merupakan daerah wisata yang terletak di atas gunung. Mirip Puncak kalau di Indonesia. Di Genting ini, wisatanya terpusat di sebuah tempat bernama Resort World Genting Highland. Terdapat berbagai wahana yang menarik untuk dikunjungi di sini, antara lain theme park outdoor dan indoor, skyway (alias cable car), snow world, museum Ripley’s Believe it or not, dan yang paling terkenal adalah casino legalnya 😀 Oiya, ada hotel juga.

Saya dan Nisa yang sama-sama belum pernah ngerasain salju seumur hidup hanya berniat ke Snow World-nya Genting Highland, dengan sarana transportasi skyway untuk menuju ke wahana Genting-nya sendiri dan opsi tambahan Museum Ripley’s jika masih ada waktu. Sedangkan untuk theme park, kami tidak terlalu tertarik karena kami berpikir tidak akan banyak perbedaan dengan theme park lain yang sudah pernah kami kunjungi sebelumnya.

Genting Highland

Pagi ini kami awali dengan sarapan roti yang sudah disediakan hotel pada pukul 08.00. Sebenarnya, seorang teman di Indonesia sebelumnya menyarankan saya untuk segera membeli tiket bus menuju Genting pukul 08.00. Namun menurut informasi dari Kak Syarifah, bus menuju Genting baru ada jam 09.00, jadi kami tidak terburu-buru berangkat ke terminal. Lagipula terminalnya dekat, yaitu Terminal Pudu Sentral yang hanya berjarak 200 m dari hotel.

Selesai sarapan pukul 08.30 kami segera berjalan santai menuju Terminal Pudu Sentral. Sampai di terminal sekitar pukul 08.45 (karena jalannya santai :D), kami langsung menuju konter bus menuju Genting yang terletak di lantai 2 terminal. Konter tersebut bertuliskan “Go Genting” di atasnya.

Saat tiba di sana, kami langsung menyatakan hendak memesan tiket bus ke Genting untuk keberangkatan pukul 09.00 alias 15 menit lagi. Dan tahukah Anda saudara-saudara?? Tiket untuk bus jam 09.00 sudah habiiissss 😦 Ternyata benar kata teman saya, jam 08.00 harusnya saya sudah memesan tiket karena jam 09.00 adalah jam favorit keberangkatan ke Genting (karena keberangkatan pertama), dan busnya cuma ada sejam sekali, yang artinya saya baru bisa berangkat ke Genting jam 10.00!! Huaaa rugi sejam deh saya.. 😦

Seakan tak cukup cobaan hari itu, seharusnya tiket skyway juga dapat dibeli di konter tersebut. Namun ternyata, terdapat pengumuman di kaca konternya yang kira-kira tulisannya begini:

“Skyway ditutup sementara sejak tanggal 15-17 November 2012 karena sedang ada maintenance

Subhanallah, ternyata belum rejeki kami untuk naik skyway. Bahkan skyway-nya benar-benar ditutup di tanggal kami berada di KL yaitu 15-17 November -_-” Ya sudahlah, karena sebenarnya kami sudah pernah merasakan cable car di Taman Mini, kami ikhlaskan saja rencana yang belum bisa terlaksana ini.. 😦

Jadi, berdasarkan pengalaman ini, saya menyarankan:

  1. Belilah tiket bus ke Genting sepagi mungkin, paling aman mulai jam 08.00 untuk keberangkatan jam 09.00.
  2. Cek waktu maintenance cable car di website ini. Saya sendiri sih tidak merasa melihat ada info mengenai maintenance tersebut hingga saat saya berangkat ke KL. Mudah-mudahan di masa yang akan datang ada info lebih jelasnya.

Selain membeli tiket bus pergi, kami juga sekalian membeli tiket bus kembali ke Pudu Sentral. Kami memilih bus jam 15.00 karena masih banyak tempat-tempat yang harus kami kunjungi di KL hari ini.

Dari jam 09.00 hingga jam 10.00 kami jalan-jalan keliling terminal untuk melihat-lihat apa yang dijual. Tak disangka saya menemukan komik Doraemon berbahasa Melayu. Iseng saja saya beli untuk bacaan di kala senggang sekaligus sebagai souvenir 😀

Pukul 09.50 kami turun ke platform 1 (jadi ruang tunggu terminal ini terletak di lantai 1-3, sedangkan platform busnya di basement), dan pukul 10.00 lebih dikit bus bertuliskan Genting berwarna ungu pun datang. Kami duduk sesuai nomor kursi yang ada di tiket. Dan ternyata bus jam 10 ini ga terlalu penuh, jadi memang jam keberangkatan favorit adalah jam 9 tadi. Dicatat ya 😀

Dari Pudu Sentral kita akan naik bus menuju lower skyway. Dari lower skyway ini kita akan seharusnya naik skyway (cable car) ke upper skyway. Di upper skyway inilah Resort World Genting Highland berada. Perjalanan ke lower skyway dari Pudu Sentral memakan waktu 1 jam. Sampai di lower skyway sebenarnya ada juga konter untuk membeli tiket skyway, jadi bisa juga kalau baru mau beli di sini.

Karena pada saat kami di sana skyway sedang di-maintenance, disediakan free shuttle yang akan membawa kami ke upper skyway. Free shuttle ini bus yang menyerupai bus Aerobus yang sudah saya ceritakan di postingan sebelumnya. Perjalanan dari lower skyway ke upper skyway ini melewati pemandangan yang sangaaatt indah. Jalannya menanjak dengan kemiringan hampir 45 derajat. Di kanan-kiri jalan terhampar hutan yang rindang dan hijau. Selain itu, ada juga kuil yang sangat indah. Saya bingung, ngapain ya susah-susah ngebangun kuil di situ dan gimana caranya ngangkutin batu-batu dan material bangunan di tempat setinggi itu pada jaman dulu?

Kuil di atas gunung

Ternyata track yang kami lalui ini sejalan dengan track skyway. Saya menyadarinya ketika melihat kabel besar tempat tergantungnya cable car yang terbentang di atas hutan. Wah, kebayang pasti seru sekali kalau naik cable car di atas hutan rindang itu >_<(tapi Nisa  yang takut ketinggian, bersyukur kami ga jadi naik cable car :D) Sekitar 15 menit dari lower skyway, kami mulai dikelilingi kabut alias awan tipis. Benar-benar indah deh pokoknya, rasanya beda dengan dikelilingi awan waktu naik pesawat 😀 Tapi saya juga agak pusing karena jalannya yang menanjak tinggi dan berkelok-kelok.

Perjalanan ini memakan waktu setengah jam sendiri. Jadi total 1,5 jam kami baru sampai di Resort World-nya, alias sudah jam 11.30. Oleh sebab itulah keberangkatan jam 09.00 sangat favorit (dan sangat saya sarankan), semakin cepat sampai semakin baik supaya Genting-nya belum terlalu penuh dan bagi yang mau ke theme park, ngantre-nya juga ga terlalu panjang.

Btw, hari ini kan padahal hari Jumat di mana para lelaki akan melaksanakan solat Jumat. Tapi Genting-nya tetap penuh, lho. Mungkin ada tempat untuk solat Jumat kali ya di sana.

Kemudian kami langsung mencari lokasi Snow World. Hasil bertanya-tanya dengan beberapa pak satpam, katanya Snow World terletak di indoor theme park, yaitu di First World Hotel (ini nama hotel yang ada di Genting). Kami pun berjalan kaki ke sana karena letak hotelnya agak jauh dari tempat kami turun dari Shuttle Bus.

Suhunya -6 derajat celcius

Sampai di konter pembelian tiket Snow World, kami membayar RM 25 untuk masing-masing, dan kami diberi tahu mbak-mbak kasirnya bahwa jam masuk berikutnya adalah jam 12.30. Saat itu saya baru tau kalau di dalam ruangan bersalju itu dibatasi waktu kunjungannya cuma 40 menit. Ya sudah deh, kami nunggu lagi sambil berjalan-jalan di dalam indoor theme park melihat-lihat wahana, toko-toko, serta suguhan hiburan yang ada di sana.

Pukul 12.20 kami sudah mengantre masuk ke Snow World. Alhamdulillah mengantrenya tidak lama. Begitu masuk, kami diberikan kunci loker untuk menaruh tas dan sepatu. Kamera dan hp juga tidak boleh dibawa masuk. Lalu kami dipersilakan memilih winter coat, sarung tangan, serta sepatu boot sesuai ukuran. Habis itu masuk deh ke ruangan bersaljunya.

Di ruangan yang bersuhu -6 derajat celcius ini rasanya seperti di dalam kulkas. Ternyata seperti ini ya rasanya winter. たいへんだ~。 😦 Maaf ya saya norak, secara belum pernah ngerasain salju seumur hidup. 😛

Di dalam ruangan ada beberapa fotografer yang siap memfoto kita di beberapa spot menarik. Selesai difoto dengan beberapa gaya, kami diberikan karcis yang dapat “ditukar” foto di pintu keluar nanti. Maksudnya “ditukar” ini tentu saja ditukar dengan uang alias beli. Hehe.. 😀

Seru juga bermain-main di sini. Kita bisa bermain seluncuran dengan ban yang sudah disediakan, atau bisa juga main lempar-lemparan salju. Beberapa menit sekali ada salju yang turun dari atap. Hahaha 😀 Ada rumah igloo, ada juga ruangan mirip taman yang agak lebih hangat lengkap dengan kursi tamannya.

Ternyata 40 menit itu memang waktu yang pas untuk main-main di dalam “kulkas” ini. Kalo lebih dari itu, kayaknya saya juga ga akan  kuat >_< Pukul 13.10 ada peluit yang ditiup seperti di akhir pertandingan sepak bola 😀

Setelah mengembalikan jaket, sarung tangan, dan sepatu boot, kami langsung mengantre untuk ambil foto. FYI, harga selembar fotonya RM 40, kalau beli 3 jadi RM 100. Mahal ya 😦 Lebih mahal daripada masuk ke wahananya sendiri. Tapi kami tetap beli 3 foto. Haha. Ini salah fotonya

Antre foto ini ternyata memakan waktu 40 menit sendiri. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 13.45. Karena bus yang akan membawa kami ke Pudu Sentral berangkatnya dari lower skyway, kami harus memperhitungkan waktu 30 menit dari upper skyway ke lower skyway. Berarti paling lambat 14.15 kami harus sudah naik shuttle. Tadinya kami ingin mengunjungi Museum Ripley’s. Namun rasanya 30 menit tidak akan cukup dan malah boros tiket masuk museum yaitu RM 22 tapi ga puas. Jadi kami memutuskan tidak jadi ke sana 😦

Jadi saran saya jika mau puas main-main di Genting Highland, menginaplah di salah satu hotel di sana dan habiskan sekitar 2 hari untuk keliling-keliling. Satu hari untuk outdoor theme park, dan satu harinya untuk indoor theme park plus snow world dan museum ripley’s.

Sesuai dugaan, shuttle bergerak turun pukul 14.15. Sampai di lower skyway pukul 14.45, kami langsung menuju platform bus keberangkatan ke Pudu Sentral. Dan pukul 15.00 bus pun datang, kami pun kembali ke KL.

Pukul 16.00 kami sampai di Pudu Sentral. Rencana hari ini dilanjutkan dengan mengunjungi Islamic Arts Museum, Masjid Negara, Bukit Bintang, dan Twin Tower.

Islamic Arts Museum KL

Begitu sampai Pudu Sentral, kami langsung bertanya-tanya bagaimana cara ke Islamic Arts Museum dari terminal. Dari sekian banyak orang yang kami tanyain, mencakup satpam, bagian informasi, dan warga, semua membari tahu bahwa tidak ada cara lain selain naik taksi. Padahal kami menduga naik taksi pasti mahal harganya. Namun karena tidak ada pilihan lain, kami pun akhirnya tetap naik taksi.

Sampai di Islamic Arts Museum, kami harus membeli tiket masuk di bagian resepsionisnya. Mbak resepsionisnya ramah sekali. Begitu kami datang dia langsung menjelaskan bahwa tiket masuk untuk umum RM 12 dan untuk pelajar RM 6. Tanpa ba-bi-bu, dia langsung bilang “Jadi adik-adik mau beli 2 tiket pelajar kan?” Kami berdua otomatis langsung mengangguk kompak. Hahaha. Dasar sama-sama anak kos, ga bisa lihat diskonan 😛

Museum ini koleksinya sangat lengkap. Di lantai dasar ada ruangan khusus penjelasan asal mula negara Malaysia. Di lantai 1 ada miniatur berbagai masjid terkenal di dunia, seperti Masjidil Haram, Masjid Nabawi, Masjid Quba, dan lain-lain. Selain itu ada berbagai naskah Islam, berbagai jenis tajwid, cara baca Al Qur’an dari jaman dulu sampe modern, Al Qur’an dari masa ke masa, alat-alat rumah tangga dengan ukiran Islam, Al Qur’an terkecil di dunia, dan masih banyak lagi deh pokoknya. Sayang sekali karena kami datang sudah terlalu sore, jadi tidak bisa lama-lama di sana, karena jam tutupnya adalah jam 18.00. Jadi ga bisa mengamati semua barang yang dipamerkan di sana dengan detail 😦

Miniatur Masjidil Haram

Masjid Negara

Pukul 18.00 kami menuju Masjid Negara untuk solat. Jam segini baru solat Ashar? Ga parah-parah banget sih, soalnya solat Maghribnya masih sekitar jam 19.00, jadi jam 18.00 itu mirip-mirip jam 17.00 lah kalo di Indonesia. Oh iya, Masjid Negara ini terletak sangat dekat dengan Museum, jalan kaki juga ga capek, kok.

Masjid Negara ini dekorasinya bagus dengan dominasi warna biru. Tapi karena saya tidak terlalu mengerti arsitektur, saya tidak bisa menggambarkan dengan detail seperti apa.

Bagian dalam masjidnya yang buat tempat solat sangat nyaman. Karpetnya empuk, jadi sehabis solat, kami sempet tidur-tiduran sebentar untuk meluruskan badan. Ini fotonya

Bagian dalam masjid negara

Foto ini diambil dari luar tempat solat karena di dalam tidak boleh foto-foto.

Banyak juga turis bule dan chinese yang datang berkunjung. Karena mereka tidak menutup aurat, mereka diberikan semacam jubah berwarna ungu yang menutup tubuh mereka dari atas-sampe bawah. Sayangnya saya ga kepikiran buat ngefoto mereka 😛

Selesai solat kami berjalan-jalan sejenak di sekitar masjid untuk foto-foto. Di salah satu bagian masjidnya ada taman makan pahlawan Malaysia. Banyak warga yang terlihat berziarah dan berdoa di situ (tapi bukan doa minta rejeki, ya, melainkan mendoakan pahlawan yang sudah wafat) 😀

Di bagian luar masjidnya ada taman yang cukup luas untuk duduk-duduk dan main-main. Tak disangka di salah satu sudutnya, terlihat pemandangan puncak Menara KL. Jadi kami iseng foto-foto 😀

Tak terasa hari mulai gelap dan perut kami keroncongan. Kami pun segera mencegat taksi di jalan untuk mengantarkan kami ke Jalan Alor di Bukit Bintang. (Kami tidak berusaha mencari sarana transportasi lain karena benar-benar sudah lelah dan lapar :D)

Jalar Alor

Sopir taksi kami baik sekali. Beliau mau memakai “meter”, atau “argo” dalam bahasa Indonesia (beberapa kali kami bertemu supir taksi yang tidak mau memakai meter. Sesampainya di Jalan Alor, sebelum turun, beliau memperingatkan, “di sini kebanyakan chinese food, hanya beberapa saja yang masakan melayu”. Mungkin karena kami memakai jilbab, beliau memperingatkan akan kemungkinan tidak halalnya makanan di sini. Sekali lagi I found benefit from wearing hijab kalo lagi di luar negeri 🙂

Kami pun mengucapkan terima kasih dan langsung turun. Ternyata, benar kata pak supir itu. Sejauh mata kami memandang hanya ada tulisan kanji..kanji..dan kanji.. -__- Karena haus, kami membeli minum air mata kucing yang khas Malaysia itu.

Kami pun menyusuri jalan sambil berusaha mencari restoran yang halal. Jujur, saya kecewa dengan ulasan yang saya baca di internet tentang jalan alor, tidak ada yang bilang kalau di sini mayoritas chinese food, argh! 😦

Akhirnya kami menemukan beberapa restoran Melayu, namun entah kenapa tidak menarik di mata kami. Sejujurnya, jalan alor ini mirip malioboro. Jadi agak kotor gitu. Ada juga beberapa gerobak yang menjual chestnut, es krim turki yang kalo beli dikerjain dulu sama pedagangnya, dan kacang rebus. Ada juga yang jual mainan dan cinderamata. Hingga sampai ujung jalan ini, kami benar-benar tidak menemukan makanan yang sesuai selera kami 😦

Tapiii, buat kamu yang tidak ada food restriction, di sini banyak sekali makanan chinese dan thailand sejauh yang saya lihat. Ada seafood, sayur-sayuran, tom yum, dan lain-lain. Jadi, ulasan yang bilang bahwa Jalan Alor itu pusat kuliner KL memang ada benarnya. So, maybe it’s really highly recommended and you’ll find some delicious foods here 🙂

Twin Tower Malam Hari

Keluar dari jalan alor, kami masih berusaha mencari makan. Ternyata, ga jauh dari jalan alor, ada restoran India Muslim, namanya “Hanifa”. Akhirnya kami makan roti nan dengan lauk semacam kacang arab berbumbu khas rempah India. Cukup enak, tapi porsinya gede banget. Jadi kami agak menyesal beli 2, harusnya beli 1 saja buat berdua. Tapi alhamdulillah kenyang 🙂

Roti nan

Di restoran ini, tanpa sengaja kami bertemu seorang ibu-ibu TKW. Ibu itu yang pertama menegur kami. Beliau bisa melihat kalo kami dari Indonesia mungkin mendengar percakapan kami. Beliau bertanya, sedang apa kami di sini? Kami bilang, jalan-jalan aja. Lalu ibu itu mengingatkan, hati-hati ya di sini, tasnya ditaruh di depan. Lalu beliau juga bertanya kami menginap di mana. Kami bilang di Jalan Pudu. Wah jauh sekali, kata ibu itu, cepet pulang ya kan udah malam (saat itu sudah hampir pukul 21.00). Dengan sederet peringatan dari ibu itu, kami pun merasa agak was-was dan mempercepat makan kami.

Sayangnya selesai makan, masih ada 1 spot yang harus kami kunjungi yaitu Twin Tower malam hari. Bukan rahasia lagi bahwa Twin Tower terlihat sangat indah kalau malam dengan lampu-lampunya. Kami pun bermaksud mencari taksi untuk langsung ke sana. Tapi ternyata, peringat ibu tadi sangatlah benar.

Begitu keluar dari restoran dan ke jalan untuk mencari taksi, ternyata di jalan kanan kiri jalan ini, semuanya pub alias diskotek ga bener. Ada juga pijat plus-plus. Aaaaaa. Can you imagine??? Dua cewek polos berjilbab, perawan, tanpa kenalan dan hanya bermodal peta jalan-jalan di tempat kayak gituuu >_< Kami pun mempercepat langkah, pas nemu taksi, supirnya mukanya serem dan badannya gede. Mana berani kami naik. Alhamdulillahnya, twin tower yang sangat tinggi itu kelihatan dari jalan ini, tapi dari peta kelihatannya jauh banget. Akhirnya kami nekad, kami putuskan untuk berjalan kaki ke twin tower dengan modal melihat puncaknya dari kejauhan >_<

Sudah berjalan sekitar setengah jam dengan bantuan peta, kok ga sampe-sampe ya? Memang sih makin kelihatan gede twin towernya (artinya hingga saat ini kami masih di jalan yang benar). Dalam hati, saya ga berhenti berdoa, “ya Allah jagalah kami, tunjukkan jalannya bagi kami” >_<

Kemudian alhamdulillah akhirnya kami menemukan penunjuk jalan gede yang bertuliskan “twin tower 1 km, KL tower 800 m”. Oalaah ternyata masih 1 km lagi. Semangaatt!!! Kami pun mengikuti petunjuk jalan itu. Sekitar 15 menit setelah melewati penunjuk jalan itu, masih belum sampe juga. Haha. Tapi tanpa sengaja kami menemukan spot untuk foto dengan puncak KL tower malam hari. Akhirnya kami istirahat sambil foto-foto di situ.

Setelah foto, kami melanjutkan perjalanan, dan tepat jam 22.00 kami pun sampai di Twin Tower!!! Alhamdulillah wa syukurillah. It was worth the pain though 😀 Emang beneran indah banget si Twin Tower malam hari ini. Kami pun foto-foto hingga batere kamera kami habis 😀

*****

Alhamdulillah rencana hari ini berjalan dengan lancar. Ini ringkasan itinerary kami hari ini:

  • 09.00     Beli tiket bus ke Genting
  • 10.00     Bus berangkat ke Genting
  • 11.00      Sampai lower skyway, naik free shuttle ke upper skyway
  • 11.30      Sampai upper skyway, genting highland theme park
  • 11.55      Beli tiket masuk snow world
  • 12.30     Masuk snow world
  • 13.10     Keluar snow world, antre beli foto
  • 13.45     Selesai antre foto, menuju free shuttle
  • 14.15     Free shuttle berangkat ke lower skyway
  • 14.45     Sampai lower skyway
  • 15.00     Naik bus kembali ke Pudu Sentral
  • 16.00     Sampai Pudu Sentral, makan, cari transport ke Islamic Arts Museum
  • 17.00     Sampai Museum
  • 18.00     Ke masjid Negara
  • 19.00     Ke Jalan Alor, Bukit Bintang
  • 21.00     Ke Twin Tower jalan kaki
  • 22.00     Sampai twin tower, foto-foto
  • 23.00     Sampai hotel