Tips Independent Traveling untuk Pemula (Part 2)

Wah ga kerasa udah D-2 dari rencana trip saya ke Mal dan Sg. Selama 10 hari dari postingan terakhir, saya sibuk mengerjakan macem-macem, mulai dari working stuffs, JLPT preparation, and of course, trip finishing plan. Hufft >_<

So, setelah di postingan sebelumnya saya membahas persiapan awal untuk traveling independen bagi pemula, sekarang saya akan membahas persiapan lanjutannya. Semoga bermanfaat! ^_^d

Tentukan Tema Jalan-jalanmu

Saat datang ke suatu negara, sebenarnya banyaakk sekali yang bisa kita explore dari negara tersebut, tidak hanya tempat-tempat wisata yang memang sudah sering kita dengar dipromosikan oleh kementrian pariwisata negara tersebut.

Karena itu, untuk dapat menentukan tempat-tempat yang ingin kamu datangi, terlebih dahulu tentukan tujuan utama traveling-mu kali ini. Apakah wisata budaya? wisata kuliner? wisata alam? wisata bawah laut? shopping? atau yang lainnya?

Jika ini adalah pertama kalinya kamu ke negara tersebut dan waktumu singkat, menurut saya yang paling tepat adalah mendatangi landmark-landmark yang menjadi ciri khasnya, sekaligus mencoba beberapa makanan khas utama negara tersebut. Tapi kalo waktumu panjang, jangan ragu-ragu,coba saja semuanya! Kapan lagi ada di negara itu, belum tentu di masa depan akan ada kesempatan mengunjungi negara itu lagi >_<

Susun Rencana Perjalanan

Nah, karena ini pertama kalinya saya ke Mal dan Sg, tempat-tempat yang saya rencanakan untuk saya datangi adalah tempat-tempat mainstream yang didatangi turis kalo ke sana πŸ˜› Tempat-tempat tersebut antara lain mencakup:

Untuk Malaysia:

1. Landmark utama: Twin Tower, KL Tower
2. Pusat perbelanjaan: Pasar Seni, Petaling Street, KLCC
3. Wisata kuliner: Jalan Alor
4. Pusat hiburan: Bukit Bintang, Genting Highland
5. Tempat peribadatan: Masjid Negara, Masjid Jamek, Batu Caves
6. Pusat pemerintahan: Putrajaya, Merdeka Square

Untuk Singapore:
1. Landmark utama: Merlion, Esplanade, Marina Bay Sands
2. Pusat perbelanjaan: Bugis, Little India, China Town, IKEA, Orchard road
3. Wisata kuliner: Seoul Garden, The Banquet
4. Pusat hiburan: Clark Quay, Vivo city, Sentosa Island, Suntec city
5. Tempat peribadatan: Masjid Sultan, Masjid Al Falah
6. Taman: Garden by the bay

Hitung Budget

Dari tempat-tempat yang sudah kamu tentukan akan kamu datangi, cari tahu tempat mana yang perlu ada tiket masuk, wahana mana yang harus bayar, serta transportasi apa untuk mencapai tempat tersebut dan berapa biayanya. Dari situ kamu bisa menghitung budget utama yang akan kamu keluarkan.

Untuk trip ke Mal, saya mematok budget transport dalam sehari RM 10, sedangkan untuk trip ke Sg, saya mematok budget transportnya SGD 7. Selain itu ada juga tambahan beberapa wahana yang memerlukan tiket masuk, seperti skyway menuju Genting Highland, Snow World dan Museum Ripley’s di Genting, pertunjukan Song of The Sea, serta beberapa wahana di Sentosa Island.

Kemudian tentukan juga dalam sehari kamu mau menghabiskan berapa duit untuk makan. Mungkin ada satu hari yang budget makannya sedikit, tapi di hari lain karena kamu ingin mencoba makanan tertentu yang lebih mahal, ada budget tambahan yang harus dikeluarkan.

Untuk trip ke Mal, saya mematok budget makan dalam sehari RM 15 dengan asumsi sekali makan RM 5 dan makan 3x. Sedangkan untuk trip ke Sg, saya mematok budget makanΒ dalam sehari 12 dengan asumsi sekali makan 4 dan makan 3x. Tapi, khusus untuk kuliner di Sg, saya berencana mencoba Seoul Garden, restoran khas Korea yang bersertifikasi halal. Loh, jalan-jalan di Sg kok malah makan makanan Korea? Hehe, gapapa, abis belum dapet kesempatan pergi ke negaranya langsung πŸ˜› Lagian kalo di negaranya sana, belum terjamin kehalalannya >_< Btw, restoran Seoul Garden ini juga ada di Jakarta loh, kalo ga salah di PIM.

Lalu, list siapa saja yang mau kamu beri oleh-oleh sepulangnya dari negara tersebut, dan tentukan budgetnya.

Terakhir, siapkan juga sejumlah uang untuk keperluan tak terduga atau jajan-jajan tambahan.

Oiya, jangan lupa juga menambahkan budget ini dengan biaya penginapan yang sudah dibahas di postingan sebelumnya, ya! πŸ™‚

So, setelah dihitung-hitung dari semua perintilan di atas, saya “hanya” memerlukan masing-masing RM 250 dan SGD 250, lho! Kalo dirupiahin dengan kurs 1 RM = IDR 3200 dan 1 SGD = IDR 7800, maka saya “hanya” memerlukan Β IDR 2.750.000 untuk trip selama seminggu ini! Murah apa mahal ya? Hehe, itu sebenarnya relatif. Silakan kamu menilai sendiri πŸ™‚

Tukar Uang

Untuk penukaran uang ini, ada trik-trik khusus yang saya terapkan.

    1. Tukarkan uang ke beberapa pecahan agar untuk beberapa keperluan, kamu tiak memerlukan kembalian. Sebagai contoh, harga sewa kamar saya di Mal adalah RM 60 untuk 2 malam (liat di postingan sebelumnya). Jadi saya usahakan ada pecahan 50 dan 10 ringgit yang saya tukarkan. ya, kira-kira seperti itulah.
    2. Ada beberapa negara yang nilai beli mata uangnya lebih mahal di negaranya daripada di Indonesia, namun ada juga yang sebaliknya. Waktu saya ke Jepang tahun lalu, saat itu nilai tukar JPY 1 di Indonesia sebesar IDR 100, sedangkan waktu di Tokyo, nilai tukarnya menjadi 120. Lebih mahal kan?Β Lain halnya dengan Sg. Seorang teman memberi tahu nilai tukar SGD di Sg lebih murah daripada di Indonesia. Jadi kalo mau irit, tukarkan sedikit saja di Indonesia untuk keperluan awal, lalu bawalah rupiah untuk ditukarkan di sana.

Well, mari kita buktikan apakah benar demikian! πŸ™‚

Packing!!

Salah kostum is a big no-no untuk seorang traveler >_< Sebelum kamu pergi ke suatu negara, lakukanlah riset kecil-kecilan, bagaimana kondisi cuaca saat kamu datang nanti. Untuk negara tropis seperti Mal dan Sg (atau negara-negara Asia Tenggara lainnya) sih mudah saja, karena tidak jauh berbeda dengan Indonesia, yaitu cuaca hangat sepanjang tahun. Bawalah baju-baju yang nyaman untuk jalan-jalan. Namun karena ada kemungkinan hujan yang tidak diduga-duga, bawa payung juga, ya! Ga asik kan kalo jadi ga bisa ke mana-mana hanya gara-gara hujan >_<

Sementara untuk negara sub tropis, pastikan dulu lagi musim apa di saat kamu datang nanti. Btw, waktu 4 musim di negara sub tropis yang di utara dan selatan berbeda, lho. Jadi jangan sampe salah perkiraan ya. Hanya karena di Inggris winternya bulan Desember, bukan berarti di Australia juga, namun justru kebalikannya. Australia yang bagian selatan malah lagi summer pas waktu itu.

Lalu, lihat juga di antara tempat-tempat yang kamu datangi, adakah yang memerlukan kostum khusus. Seperti saya yang akan ke Genting. Karenanya katanya Genting itu dingin banget, jadi saya sudah menyiapkan jaket dan syal untuk bekal perjalanan ke sana karena saya cenderung kurang tahan dingin.

Selain kostum, terdapat beberapa perlengkapan lain yang tidak kalah pentingnya, yaitu:

  1. Perlengkapan mandi: Bawalah pack-pack kecil yang sekarang sudah banyak dijual. Untuk sampo, bawa sachet saja supaya habis dipake bisa langsung dibuang dan mengurangi bawaan pulang. Untuk handuk, jika tidak disediakan di hostel/hotel, bawa saja handuk kecil supaya ga ngeberat-beratin.
  2. Gadget: kamera dan chargernya, hp dan chargernya, laptop dan chargernya, dan lain-lain sesuai kebutuhanmu. Pastikan juga jenis colokan di negara tersebut sama atau nggak dengan di Indonesia. Jika tidak, jangan lupa bawa converter, ya!
  3. Alas kaki: kalo saya selalu bawa sepatu yang nyaman seperti crocs, dan sandal jepit untuk jaga-jaga. Tapi kalo ke negara yang lagi winter, kayaknya sih perlu bawa sepatu boot ya πŸ˜•
  4. Obat-obatan: obat-obatan standar yang selalu saya bawa adalah antimo, tolak angin, new diatab, panadol, dan obat flu. Selain itu saya juga bawa balsem yang serba guna, bisa buat sakit perut, pusing, ataupun digigit serangga. Bawa juga plester dan hand sanitizer.
  5. Kosmetik: yang saya maksud kosmetik di sini bukan untuk make-up kondangan gitu, lho, namun semacam sunblock untuk yang kulitnya ga tahan panas (tergantung cuaca sih), lip balm untuk yang bibirnya sensitif, dan lotion (supaya kulit ga kering di musim dingin).
  6. Lain-lain: kacamata hitam, topi, plastik untuk baju kotor, hanger untuk gantung baju (bawa sedikit saja), kaos kaki, dan lain-lain according to your preferences πŸ™‚

Yah seperti inilah segelintir persiapan yang sudah saya lakukan. Semoga bermanfaat dan bisa diterapkan untuk perjalanan ke negara lainnya.

And finally, let’s see whether all goes according to plan >_< I’ll report after I get back later πŸ™‚ Wish me a safe trip, ya!!! πŸ˜‰

β€œDan berencanalah kalian, Allah membuat rencana. Dan Allah sebaik-baik perencana.” (Ali Imran: 54)

Advertisements

Tips Independent Traveling untuk Pemula (Part 1)

Tak terasa sudah memasuki 2 November. Itu artinya, D-13 dari rencana traveling saya ke Malaysia dan Singapore!! Woohoo!!

Jadi insya Allah saya akan merayakan 1 Muharram 1434 H, yang jatuh pada 15 November 2012, di luar negeri untuk pertama kalinya dalam hidup saya!! \^o^/*haha ga penting.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ke luar negeri. Sebelumnya alhamdulillah saya sudah pernah ke Arab Saudi untuk umroh dan ke Jepang untuk mengikuti konferensi pemuda internasional. Namun, ini insya Allah adalah kali pertama saya pergi ke luar negeri tanpa orang tua dan tanpa temen cowok yang bisa baca peta! Yeah, I’am a kind of woman that can’t read maps 😦

Karena itu, persiapan matang pun harus dilakukan. Nah berikut ini, saya mau nge-share bagaimana mempersiapkan sendiri perjalanan ke luar negeri tanpa harus ikut tour dan tanpa harus ngeluarin duit banyak. Semoga bermanfaat! πŸ˜‰

Tentukan Tujuanmu

Yaiyalah yaa..kalo ga tau mau ke mana, gimana mau nyiapinnya? hehe πŸ˜€

Menurut saya, Malaysia (Mal) dan Singapore (Sg) adalah dua negara yang sangat layak untuk dikunjungi oleh traveler pemula atau kamu yang baru akan pertama kali ke luar negeri. Karena Mal dan Sg terletak sangat dekat dengan Indonesia, tidak memerlukan visa, dan memiliki budaya yang mirip dengan Indonesia. Jadi kalo kita jalan-jalan ke kedua negara tersebut, kita ga akan terlalu mengalami culture shock maupun jetlag.

Untuk kita yang muslimah berjilbab juga ga perlu khawatir. Secara mereka sudah sangat mengenal Islam, dalam artian gampangnya, tau kalo yang pake jilbab itu ga makan babi dan ga minum alkohol. Senang ya jadi muslimah berjilbab! πŸ™‚

Nah saya sendiri kenapa memilih Mal dan Sg, soalnya saya udah traveling negara yang lebih jauh tapi kok malah belum pernah ke negara tetangga sendiri 😦 Jadi saya penasaran, pengen liat gimana sih sodara-sodara kita di negara sebelah πŸ˜€ Dan lagi, budget dan waktu yang tersedia saat ini memang bukan untuk jalan-jalan yang jauh >_<

Kemudian jika kamu berencana mengunjungi beberapa negara/kota dalam satu perjalanan, tentukan kota tempat memulai dan kota tempat mengakhirinya. Kalau saya, saya pilih ke Mal dulu baru ke Sg. Soalnya dari saran beberapa teman, Mal itu ga jauh beda sama Indonesia, sedangkan Sg kan negara yang maju banget. Jadi kalo ke Sg dulu baru ke Mal, ntar kebanting rasanya, abis enak-enak naik MRT ke mana-mana eh tiba-tiba balik lagi ke yang mirip Indonesia. Jadi mendingan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian πŸ™‚

Tentukan Style-mu

Apakah mau jadi backpacker gembel, budget traveler, atau luxury tour?

Nah ini sih pengelompokan menurut sesuka hati saya, berdasarkan pengetahuan saya dari membaca berbagai buku tentang traveling πŸ˜€

Backpacker gembel (sebenernya ga gembel-gembel banget sih, jadi no offense ya :D) secara harfiah berarti mereka yang traveling dengan menggunakan backpack. Artinya, bawaannya sebisa mungkin diuwel-uwel sampe bisa masuk ke backpack yang setinggi punggung orang bule dan beratnya paling “cuma” 10 kg *tapi inget, 10 kg itu harus kamu bawa ke mana-mana di punggungmu. Backpacker ini memiliki ciri-ciri meminimalisasi pengeluaran sesedikit mungkin. Tinggal di hostel semurah mungkin di kamar mixed dorm (cewe-cowo gabung di satu kamar berisikan 4-5 kasur bertingkat), makan di gerobak atau stall pinggir jalan, dan ke mana-mana diusahakan jalan kaki. Bahkan beberapa backpacker biasa tidur di mana saja, misalnya emperan toko, masjid, atau kalau PD, numpang di rumah warga >_< Secara penampilan, mereka biasanya pake kaos oblong, celana kargo, topi, dan sendal jepit atau sendal gunung. Penerbangan yang mereka pilih, tentu saja low cost airlines πŸ˜€

Banyak yang menyamakan backpacker dengan Budget Traveler. Tapi kalo saya punya definisi sendiri. Budget traveler adalah traveler yang memiliki budget terbatas (tapi ga kere-kere amat) dan memperhitungkan pengeluarannya sebaik mungkin namun juga nyaman untuk dirinya. Budget traveler biasanya menggunakan koper atau suitcase instead of backpack. Budget traveler juga berusaha tinggal di penginapan yang murah namun tetap nyaman dan aman dari segi lokasi (jadi ga ngasal-ngasal banget lah). Secara penampilan, budget traveler lumayan agak bervariasi bajunya, ga cuma kaos oblong yang bisa digulung-gulung masukin koper. Dari segi penerbangan, tetep dong milih yang low cost airlines. Yang penting mah selamat sampe tujuan πŸ™‚

Luxury tour biasanya dipilih sama mereka yang ga bermasalah sama duit. Tinggalnya aja di hotel minimal bintang 4, bahkan bisa di villa atau cottage pribadi. Jalan-jalannya ke tempat-tempat hip yang ngerogoh kocek nggak sedikit. Bawaannya koper gede, biasanya kalo pulang malah nambah koper baru gara2 kebanyakan belanja >_< Penerbangannya pun pilih yang high class kayak Garuda. hoho.

Setelah 3 tipe tadi, tentukan juga mau jadi solo traveler, duo, trio, atau group (yang anggotanya 4 orang atau lebih). Kalau menurut saya pribadi, makin sedikit anggota semakin baik. Ga ribet dalam memenuhi kemauan tiap orang yang beda-beda. Dan lagi, kamu bisa patungan beberapa biaya, seperti taksi, private room yang cuma buat 2-3 orang, makanan yang bisa sepiring berdua, dll. Kalo pun ga dapet temen jalan, sapa bilang solo traveler itu menyedihkan? Kamu bisa jalan-jalan membolang ke mana pun yang kamu suka tanpa ada yang menghalangi! Tapi jangan lupa bawa tripod, ya, buat foto diri dengan landmark tempat yang kamu kunjungi πŸ˜€

Nah untuk trip saya ke Mal dan Sg nanti ini, saya masuk ke kategori budget-duo-traveler. Karena saya akan membawa suitcase untuk barang-barang saya yang ga sedikit meliputi celana panjang, baju lengan panjang, jilbab, kaos kaki, manset tangan, and the other girl stuffs; dan saya juga sudah merancang itinerary+budget saya sedemikian rupa sehingga murah namun tetap gemah ripah loh jinawi πŸ˜€ Dan saya akan pergi bareng seorang sepupu saya (cewek) yang sebaya sama saya dan memiliki budget serta karakteristik jalan-jalan yang serupa.
Nah, jadi mulai sekarang hingga postingan selanjutnya, saya akan memberikan tips-tips bagi kamu yang ingin menjadi budget traveler seperti saya. *ting! πŸ˜‰

Siapkan Paspormu

Tentu saja ini benda keramat yang wajib dimiliki traveler untuk keluar negeri. Jadi, untuk kamu yang belum punya paspor, ayok buruan bikin! Ga ribet dan ga perlu calo kok. Cuma butuh segudang kesabaran dan sejumlah uang, yang tentu saja bukan buat menyogok petugas imigrasinya loh, tapi murni untuk biaya administrasi.

Nah buat kamu yang berdomisili di Bandung, bisa liat tata cara pembuatan paspor di website ini. Lama pembuatan cuma satu hingga dua minggu. Ga lama kan?

Cari Tanggal

Nah sekarang saatnya menentukan tanggal kepergianmu. Karena saya dan sepupu saya sama-sama sudah bekerja, kami langsung mencari tanggal di mana ada liburan yang mepet sama weekend supaya kami ga perlu cuti lama-lama πŸ˜€

Di akhir tahun ini, terpilihlah tanggal 15 November hari Kamis yang merupakan libur 1 Muharram, di mana hari Jumatnya cuti bersama, jadi kami tinggal izin cuti 3 hari pada hari Senin-Selasa-Rabu minggu depannya. Berhasil deh dapet waktu jalan-jalan seminggu, yaitu 15-21 November, tanpa menghabiskan jatah cuti! πŸ˜€

Cara lain, jika kamu melihat ada penerbangan yang lagi promo ke tempat yang sangat kamu inginkan, bisa juga kamu segera booking pada tanggal tersebut, baru deh mikir gimana cutinya (buat yang sudah bekerja) atau ijin kuliahnya (buat yang masih kuliah). Inilah yang terjadi saat tahun lalu saya ke Jepang. Secara penerbangan ke Jepang mahal buanget kalo normal, ketika itu ada promo Air Asia yang pas dengan tanggal konferensi yang saya ikuti, namun artinya saya harus bolos kuliah 2 minggu! Hajar aja lah, kapan lagi bok! >_< Udah itu saya bikin surat ijin deh ke masing-masing dosen yang saya tinggalin kuliahnya. Alhamdulillah ga bermasalah sama sekali.

Cara lain lagi, jika kamu memiliki beberapa kandidat tanggal yang potensial, carilah harga-harga penerbangan pada tanggal-tanggal tersebut. Kemudian pilihlah tanggal di mana harga penerbangannya paling murah. Simpel kan? πŸ™‚

Booking Tiket PP

Udah nemu tanggal yang pas, rajin-rajinlah browsing harga beberapa low cost airlines pada tanggal tersebut agar kamu dapat menemukan harga tiket yang benar-benar paling murah. Syukur-syukur kalo kebetulan lagi ada promo pas tanggal tersebut.

Tapi ingat, di low cost airlines, harga tiket itu belum termasuk harga bagasi, harga kalo milih kursi, dan services fees. Jadi kalo pengen semurah mungkin, jangan bawa bagasi! hehe, tapi kan saya ga mungkin. Jadi tinggal pilih mau bawa bagasi 15 kg, 20 kg, 25 kg, atau 30 kg karena harganya juga beda. Trus kalau mau milih seat duluan, harus bayar lagi -__-

Nah untuk masalah booking ini memang untung-untungan. Sudah pasti semakin jauh jarak booking dengan waktu berangkat akan dapat tiket makin murah. Tapi yang namanya low cost airlines, bisa aja tiba-tiba mepet suatu tanggal dia ngadain promo! Jiah, udah terlanjur beli tiket jauh-jauh hari malah jadi lebih mahal. Kalo ini yang terjadi, ingat saja bahwa rejeki itu sudah ditentukan, jadi ga nyesel-nyesel banget, insya Allah ini yang terbaik :’)

Dari kandidat Air Asia, Lion Air, dan Tiger Airways yang kami browsing, kami memutuskan untuk terbang dengan Tiger Airways yang pada tanggal 15 (tanggal berangkat) dan 21 (tanggal pulang) November harga tiketnya paling murah, dengan pilihan bagasi 20 kg dan tidak memilih tempat duduk.

Berikut rincian biayanya:
15 Nov: CGK-KL IDR 534000 (raw fare)
21 Nov: SIN-CGK SGD 76 (raw fare)

FYI:
1. Raw fare artinya harga tiket saja tanpa bagasi dll yang sudah saya sebutkan di atas tadi.
2. 1 SGD kurang lebih IDR 7800 saat ini

Booking Penginapan

Supaya aman, lebih baik booking penginapan dari sebelum berada di negara yang ingin kamu kunjungi. Walaupun go showΒ juga sebenernya bisa dapat, dengan booking terlebih dahulu, kita bisa dapat info lebih detail mengenai penginapan yang diinginkan beserta review dari orang-orang yang pernah menginap di sana. Supaya bener-bener ga salah pilih. Tapi buat kamu yang cuek dan ga mau ribet, ga masalah juga kalo mau nyari penginapan yang kosong pas udah sampe tujuan.

Untuk memilih tempat menginap, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Carilah lokasi yang strategis. Pilih penginapan yang dekat dengan banyak tourism spot, seperti tempat belanja souvenir, tempat nyari makanan khas, tempat ibadah tertentu (masjid, gereja, kuil, dll) yang menarik, museum, dan lain-lain sesuai keinginanmu. Dengan begini kamu bisa pergi ke banyak tempat hanya dengan berjalan kaki, yang artinya irit ongkos transportasi kan? πŸ™‚ Pilih juga yang dekat dengan stasiun atau terminal, jadi kalo mau ke mana-mana naik bus atau kereta, ga perlu jauh-jauh jalan kaki.
  2. Mau tinggal di penginapan seperti apa, hotel, hostel, guest house, dll. Hostel jelas jauh lebih murah daripada hotel, ada tempat penitipan barang walaupun belum check in maupun ketika sudah check out, dan cukup nyaman. Di Mal nanti saya insya Allah akan menginap di EV World Puduraya Hotel. Walapun namanya hotel, tp (kayaknya) fasilitasnya ga jauh beda sama hostel. Saya pilih hotel ini atas rekomendasi teman saya yang sudah pernah menginap di sana, dan karena hotel ini dekat dengan terminal bus yang dapat membawa saya ke Genting Highland, salah satu tujuan wisata saya kelak. Di hotel ini saya akan tinggal di private room untuk 2 orang dengan attached shower di dalamnya. Sementara di Sg saya akan tinggal di ABC Backpackers Hostel. Saya memilih hostel ini setelah membaca berbagai review yang ditulis oleh traveler Indonesia yang pernah menginap di sana. Selain itu tempatnya pun sangat strategis karena dekat dengan sebagian besar tourism spot di Sg, seperti Little India, China Town, Esplanade, Clark Quay, dll. Nah di hostel ini, tipe kamarnya dorm, artinya kita bakal sekamar sama traveler-traveler lain dari berbagai negara. Ada female-only dorm, ada juga mixed dorm. Tentu saja saya pilih yang female-only. Selain itu, kamar mandinya juga shared. Tapi berdasarkan review yang saya baca, katanya kamar mandinya selalu bersih karena lumayan sering dibersihkan. Well, let’s see then.

Mengenai shared bathroom ini, ada pengalaman yang ingin saya ceritakan. Ketika ke Jepang tahun lalu, saya juga menginap di hostel dengan tipe kamar female-only dorm. Di websitenya juga disebutkan bahwa kamar mandinya shared. Dan yang namanya shared di hostel itu artinya kamar mandi di luar kamar tidur, ada kamar mandi khusus pria dan khusus wanita, tapi digunakan bersama-sama dengan penghuni kamar lain. Sejak itu di mindset saya, shared bathroom berarti seperti itu.

Pada awalnya, saya sudah book hostel dengan inisial BB di Sg. Di website resminya BB hostel ini dituliskan bahwa kamar mandinya shared, dan saya membayangkan shared itu ya seperti yang di Jepang. Saya sih ga masalah jika harus berbagi kamar mandi dengan tamu wanita yang lain.

Suatu saat saya sedang baca The Naked Traveler (lupa no berapa). Di situ mbak Trinity menceritakan tentang shared bathroom di sebuah hostel (bukan di Sg tapi), di mana yang namanya shared itu benar-benar berbagi antara laki-laki dan perempuan *AAA!!! dan kamar mandinya hanya diberi tirai yang kalo kita mandi itu bagian bawah kaki kita keliatan dari luar *AAAA!!!! >_< Ga mungkin banget bagi saya yang berjilbab ini 😦 Kemudian saya langsung mengemail BB hostel itu untuk menanyakan tentang shared bathroom di sana, dan ternyata memang benar bahwa shared itu artinya berbagi antara laki-laki dan perempuan. *hiks

Lalu saya pun segera mencari hostel lain yang kamar mandinya lebih baik. Ternyata ga ada (ada sih, tapi mahal banget). Kemudian saya nanya seorang temen cewek yang pake jilbab, waktu di Sg nginep di mana. Katanya di ABC hostel ini, kamar mandinya bersih walaupun shared. Lalu saya cari reviewnya melalui google, ternyata memang cukup bagus juga. Karena itu akhirnya saya memutuskan booking ABC hostel dan mencancel BB hostel.

Jadi, untuk kamu yang tidak nyaman dengan shared bathroom (saya juga ga nyaman sih sebenarnya, namun demi dompet yang aman sejahtera ya mau gimana lagi :(), lebih baik mencari yang attached shower tapi siap-siap bayar lebih mahal. Kalo mau tetap murah, pastiin aja hostelnya memang reliable.

Untuk pencarian penginapan bisa melalui website hostelbookers.com, tripadvisor.com, hostels.com, asia.hostels.com, asiatravel.com, dan lain-lain masih banyak lagi. But basically, you can just simply googling it. πŸ™‚

Jadi, rincian biaya untuk booking penginapan ini adalah:
EV World Puduraya Hotel – Superior room (RM 60 per night untuk 2 orang selama 2 malam): RM 60/2×2= RM 60
ABC Backpackers Hostel – Female-only dorm (SGD 24 per night per orang selama 3 malam): SGD 24×3= SGD 72

FYI:
1. RM 1 kurang lebih IDR 3200.
2. Pembayaran EVWorld Hotel dilakukan secara cash saat check in.
3. Untuk ABC Hostel harus transfer 50% pembayaran sebagai tanda jadi booking, 50% sisanya akan dibayar cash pada saat check in.

***

Paspor udah punya, booking tiket PP udah, booking penginapan juga udah, tinggal tentuin deh mau keliling ke mana aja!
insya Allah, sampai jumpa di postingan berikutnya! πŸ˜‰

 

*ini foto waktu saya transit di LCCT KL dalam perjalanan menuju Jepang tahun lalu