Siapa yang Tidak Ingin Traveling Gratis?

Seharusnya postingan kali ini adalah melanjutkan cerita saya tentang stereotip di Jepang. Namun, saya ingin berbagi sedikit kesan saya setelah membaca sebuah buku karya penulis favorit saya, sekaligus salah seorang inspirasi yang bisa dibilang membentuk pribadi saya hingga seperti sekarang ini. Beliau adalah Kak Trinity.

Saya yakin pasti teman-teman pun sudah tahu siapa sosok Kak Trinity ini. Beliau adalah seorang travel blogger. Namun uniknya dari Kak Trinity adalah, di saat para travel blogger kebanyakan membahas dengan detail bagaimana ‘cara’ jalan-jalan di suatu tempat, Kak Trinity lebih sering membahas hal-hal lucu dan unik dari perjalanan yang pernah ia alami. Sebagai pembaca bukunya, kita serasa ikut mengalami hal-hal tersebut dan jadi ingin juga pergi ke tempat-tempat yang pernah beliau datangi.

Saya ingat pertama kali saya membaca “The Naked Traveler” (buku seri cerita perjalanan Kak Trinity) adalah pada saat saya kuliah. Saat itu saya menjadi benar-benar terinspirasi untuk bisa banyak jalan-jalan dan menuliskan perjalanan saya. Dan karena itulah blog ini lahir :’) Bisa dibilang, Kak Trinity dan karyanya memiliki kedekatan emosional dengan saya dan blog ini (ih ngaku-ngaku 😛 ).

Berkat Kak Trinity dan cerita-ceritanya, saat (kuliah) itu saya makin yakin bahwa saya harus melihat bumi Allah yang begitu luas ini lebih banyak lagi. Singkat cerita, saya yang memang bercita-cita ingin sekali melihat negara Jepang sejak kecil, jadi semakin mantap mengikuti seleksi beasiswa Monbusho untuk melanjutkan studi S2 di Jepang, karena saya sadar saya tidak berasal dari keluarga berlebih, maka saya harus mencari cara agar bisa ke Jepang gratis tanpa memberatkan orang tua.

Baru-baru ini, Kak Trinity merilis sebuah buku terbaru berjudul “69 Cara Traveling Gratis”. Sebagai emak-emak yang sudah punya anak dan jadi lebih sering di rumah, sebenarnya hobi jalan-jalan saya tidak pernah padam ataupun menurun dibandingkan dengan saat masih single dulu. Saya tahu saya harus baca buku ini. Saya harus bisa jalan-jalan (gratis) lagi!

Buku kali ini agak berbeda style-nya dengan buku-buku Kak Trinity sebelumnya. Buku kali ini sengaja dibuat berilustrasi full-colour karena diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Indonesia sekarang untuk lebih cinta buku dan tentu saja lebih cinta traveling!

Nah, siapa sih yang tidak suka jalan-jalan? Ada sih, tapi anggap aja sebagian besar BANGET orang suka jalan-jalan ya (maksa), apalagi kalau gratis. Ya kan? Namun tentu saja, namanya manusia itu hidup, pasti punya tanggung jawab yang harus dilakukan sehari-hari, yang menyebabkan kita harus menunggu waktu cuti/libur untuk bisa traveling atau jalan-jalan (kecuali kalau kamu anak konglomerat yang Sabtu-Minggu aja mainnya ke Singapura ya). Lalu bagaimana supaya kita bisa jalan-jalan terus, dan terutama gratis?

Jawabannya mudah saja. Pilihlah profesi yang menyebabkan kamu bisa banyak jalan-jalan! Jika kamu bisa traveling karena tugas dari profesimu itu, maka kamu tidak perlu membayar (setidaknya sebagian) biaya yang normalnya kamu keluarkan untuk traveling pada umumnya. Profesi apa saja itu? Jawabannya ada di buku ini.

Sesuai judulnya, Kak Trinity (dan Kak Yasmin, partner-in-crime per-traveling-an Kak Trinity), menjabarkan berbagai profesi yang berpotensi untuk sering traveling. Dilengkapi dengan ilustrasi yang lucu-lucu, buku ini sangat ringan dibaca, dan saya pun selesai membacanya hanya dalam beberapa jam saja (sambil diselingi mengasuh anak).

Alhamdulillah, saya pernah mengalami dari beberapa profesi yang disebutkan di buku ini. Dan tak dapat dipungkiri, waktu-waktu ketika saya menjalani profesi ini adalah waktu-waktu terbaik dalam hidup saya.

Pertama, beasiswa. Dengan kesempatan berkuliah dan tinggal di negara orang, saya jadi dapat kesempatan untuk mengeksplor negara tersebut selama beberapa tahun, sehingga sangat banyak tempat-tempat yang saya datangi, yang mungkin tidak bisa saya kunjungi jika saya hanya berlibur ke negara itu. Dan dengan tinggal di negaranya, saya juga merasakan menjadi bagian dari penduduk negara tersebut, yang secara tidak langsung, membuat saya menjadi lebih terbuka terhadap berbagai budaya dan kebiasaan.

Kedua, KKN, atau dalam kasus saya disebut KP (Kerja Praktek). Sebenarnya saya KP sengaja di kota kelahiran agar bisa tinggal di rumah. Saya KP di salah satu foreign oil & gas company di kota kelahiran saya, Balikpapan. Saat itu saya ditugaskan untuk memeriksa sebuah alat di salah satu tempat pengeboran minyak yang terletak di tengah laut. Maka saya pun berkesempatan naik chopper (helikopter) untuk menuju tempat tersebut dan menginap di sana selama 5 hari! Saat itu saya benar-benar wanita sendirian selama 5 hari di antara bapak-bapak dan mas-mas XD Akibatnya, saya mendapat perlakuan istimewa, dong. Dikasih tempat tidur di satu-satunya kamar di kilang minyak itu dengan kamar mandi pribadi (asalnya kamar ini milik pemimpin kilang, tapi bapaknya jadi ngalah sama saya selama saya menginap di sana). Pegawai biasa yang lain tidur di bunk bed di kamar berisi 3 bunk bed dengan kamar mandi luar bareng-bareng.

Walaupun ini disebut kilang minyak, namun jangan salah, fasilitasnya top notch, karena mereka juga sering kedatangan ekspat yang inspeksi ke kilang. Makan tiga kali sehari lengkap dengan pembuka, inti, dan penutup yang dibuatkan oleh chef beneran. Bisa pilih mau Indonesian style atau western style (demi mengantisipasi jika ada bule yang lagi datang dan tidak cocok dengan makanan Indonesia). Makannya pun bisa tambah sepuasnya, bisa request dibikinin telor berbagai macem. Uniknya, saat malam menjelang, kadang kamar saya terasa bergetar jika ombak sedang kencang. Hiii…

Ketiga, lomba. Sejak SD, SMP, dan SMA, saya sering dikirim oleh sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat atau pun olimpiade bidang mata pelajaran Matematika dan Fisika. Akibatnya, saya pun beberapa kali dikirim keluar kota untuk mewakili sekolah saya. Bahkan saat SMP, saya pernah masuk TV lokal provinsi untuk mengikuti cerdas cermat tersebut. Salah satu puncaknya, saat SMP, saya mengikuti Olimpiade Sains Nasional dan alhamdulillah lolos dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional, dan mewakili provinsi saya di tingkat nasional tersebut. Saat itu puncak olimpiade dilaksanakan di Kota Pekanbaru, Riau. Saya yang tidak memiliki kerabat di Kota Pekanbaru, tidak pernah terpikir bisa ke sana, jika bukan karena lomba ini.

Keempat, nikah (bukan jadi simpanan orang kaya, lho ya). Karena suami saya berasal dari kota yang sangaaat jauh dari kota asal saya, saya jadi punya kesempatan berlibur di sekitar kota kelahiran suami, yaitu Ciamis. Salah satu tempat yang berkesan adalah Green Canyon, saat itu kami melakukan body rafting di sungainya. Jika biasanya rafting dengan naik boat, ini hanya badan kita berlapis pelampung telempar-lempar oleh arus sungai. Seru banget! Kalau tidak karena mengenal suami saya, mungkin saya nggak akan seniat ini buat jalan-jalan sampai ke Green Canyon.

Kelima, outing kantor, atau dalam kasus saya outing bersama teman-teman lab saat kuliah S2 di Jepang. Di lab kami ada sebuah tradisi setiap musim panas untuk menginap di penginapan ala Jepang untuk membahas riset sekaligus berlibur, dengan tujuan refreshing agar tidak terlalu mumet membahas riset di lab terus-menerus. Umumnya penginapan ini tidak terletak di kota-kota besar di Jepang, melainkan di kota kecil dan bahkan pedesaan. Jika bukan karena outing lab ini, saya mungkin tidak tahu kota ini ada. Alhamdulillah saya jadi pernah mengunjungi kota-kota non-touristy di Jepang, yang sebenarnya tak kalah indah dengan kota yang sering kamu dengar namanya.

Keenam, peneliti. Masih saat saya S2 di Jepang, sebagai mahasiswa S2, kami juga bagian dari peneliti di lab kami. Beberapa kali kami mengadakan konferensi kecil dan bertemu dengan peneliti dari universitas lain untuk saling bertukar ide dan pemikiran, juga menjalin koneksi.

Di luar keenam ‘profesi’ ini, sebenarnya masih ada lagi seperti kunjungan keluarga/berlibur bersama keluarga. Namun tentu saja teman-teman pernah mengalami ini juga, kan?

Setelah ditulis seperti ini, saya jadi bersyukur sekali akan rejeki jalan-jalan yang sudah Allah kasih ke saya hingga saat ini. Namun, selama masih ada umur, saya masih ingin terus berjalan-jalan dan mengalami berbagai hal unik yang tidak bisa saya dapatkan jika hanya berdiam di rumah saja. Dan dari membaca buku “69 Cara Traveling Gratis” ini, saya menjadi tersadar masih banyak cari lain yang belum pernah saya coba. Saya berjanji akan mencobanya juga mulai sekarang. Saya yakin berkeluarga dan memiliki anak tidak menjadi hambatan kan? Mohon doanya, ya!

Untuk teman-teman yang suka jalan-jalan juga, coba baca buku ini deh, siapa tau ternyata teman-teman juga sudah tanpa sadar mengalami yang dituliskan di buku ini. Kalau malas beli di toko buku, belinya online aja di www.bentangpustaka.com.

Untuk adik-adik yang masih di bawah SMA usianya dan pengen jalan-jalan gratis juga, yuk baca buku ini supaya kalian bisa dapat inspirasi profesi apa yang akan kalian pilih jika sudah dewasa nanti dan bisa mempersiapkannya dari sekarang sesuai bakat dan minat adik-adik, karena tidak pernah terlalu dini untuk merencanakan masa depan. Percayalah pada kakak! *atau ‘tante’ ya? 😦

******

Psst, siapa yang sudah baca buku ini selain saya? Nyadar nggak kalau urutan penulisan profesinya berdasarkan abjad? 🙂

Advertisements

Tips Independent Traveling untuk Pemula (Part 1)

Tak terasa sudah memasuki 2 November. Itu artinya, D-13 dari rencana traveling saya ke Malaysia dan Singapore!! Woohoo!!

Jadi insya Allah saya akan merayakan 1 Muharram 1434 H, yang jatuh pada 15 November 2012, di luar negeri untuk pertama kalinya dalam hidup saya!! \^o^/*haha ga penting.

Sebenarnya ini bukan kali pertama saya ke luar negeri. Sebelumnya alhamdulillah saya sudah pernah ke Arab Saudi untuk umroh dan ke Jepang untuk mengikuti konferensi pemuda internasional. Namun, ini insya Allah adalah kali pertama saya pergi ke luar negeri tanpa orang tua dan tanpa temen cowok yang bisa baca peta! Yeah, I’am a kind of woman that can’t read maps 😦

Karena itu, persiapan matang pun harus dilakukan. Nah berikut ini, saya mau nge-share bagaimana mempersiapkan sendiri perjalanan ke luar negeri tanpa harus ikut tour dan tanpa harus ngeluarin duit banyak. Semoga bermanfaat! 😉

Tentukan Tujuanmu

Yaiyalah yaa..kalo ga tau mau ke mana, gimana mau nyiapinnya? hehe 😀

Menurut saya, Malaysia (Mal) dan Singapore (Sg) adalah dua negara yang sangat layak untuk dikunjungi oleh traveler pemula atau kamu yang baru akan pertama kali ke luar negeri. Karena Mal dan Sg terletak sangat dekat dengan Indonesia, tidak memerlukan visa, dan memiliki budaya yang mirip dengan Indonesia. Jadi kalo kita jalan-jalan ke kedua negara tersebut, kita ga akan terlalu mengalami culture shock maupun jetlag.

Untuk kita yang muslimah berjilbab juga ga perlu khawatir. Secara mereka sudah sangat mengenal Islam, dalam artian gampangnya, tau kalo yang pake jilbab itu ga makan babi dan ga minum alkohol. Senang ya jadi muslimah berjilbab! 🙂

Nah saya sendiri kenapa memilih Mal dan Sg, soalnya saya udah traveling negara yang lebih jauh tapi kok malah belum pernah ke negara tetangga sendiri 😦 Jadi saya penasaran, pengen liat gimana sih sodara-sodara kita di negara sebelah 😀 Dan lagi, budget dan waktu yang tersedia saat ini memang bukan untuk jalan-jalan yang jauh >_<

Kemudian jika kamu berencana mengunjungi beberapa negara/kota dalam satu perjalanan, tentukan kota tempat memulai dan kota tempat mengakhirinya. Kalau saya, saya pilih ke Mal dulu baru ke Sg. Soalnya dari saran beberapa teman, Mal itu ga jauh beda sama Indonesia, sedangkan Sg kan negara yang maju banget. Jadi kalo ke Sg dulu baru ke Mal, ntar kebanting rasanya, abis enak-enak naik MRT ke mana-mana eh tiba-tiba balik lagi ke yang mirip Indonesia. Jadi mendingan bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian 🙂

Tentukan Style-mu

Apakah mau jadi backpacker gembel, budget traveler, atau luxury tour?

Nah ini sih pengelompokan menurut sesuka hati saya, berdasarkan pengetahuan saya dari membaca berbagai buku tentang traveling 😀

Backpacker gembel (sebenernya ga gembel-gembel banget sih, jadi no offense ya :D) secara harfiah berarti mereka yang traveling dengan menggunakan backpack. Artinya, bawaannya sebisa mungkin diuwel-uwel sampe bisa masuk ke backpack yang setinggi punggung orang bule dan beratnya paling “cuma” 10 kg *tapi inget, 10 kg itu harus kamu bawa ke mana-mana di punggungmu. Backpacker ini memiliki ciri-ciri meminimalisasi pengeluaran sesedikit mungkin. Tinggal di hostel semurah mungkin di kamar mixed dorm (cewe-cowo gabung di satu kamar berisikan 4-5 kasur bertingkat), makan di gerobak atau stall pinggir jalan, dan ke mana-mana diusahakan jalan kaki. Bahkan beberapa backpacker biasa tidur di mana saja, misalnya emperan toko, masjid, atau kalau PD, numpang di rumah warga >_< Secara penampilan, mereka biasanya pake kaos oblong, celana kargo, topi, dan sendal jepit atau sendal gunung. Penerbangan yang mereka pilih, tentu saja low cost airlines 😀

Banyak yang menyamakan backpacker dengan Budget Traveler. Tapi kalo saya punya definisi sendiri. Budget traveler adalah traveler yang memiliki budget terbatas (tapi ga kere-kere amat) dan memperhitungkan pengeluarannya sebaik mungkin namun juga nyaman untuk dirinya. Budget traveler biasanya menggunakan koper atau suitcase instead of backpack. Budget traveler juga berusaha tinggal di penginapan yang murah namun tetap nyaman dan aman dari segi lokasi (jadi ga ngasal-ngasal banget lah). Secara penampilan, budget traveler lumayan agak bervariasi bajunya, ga cuma kaos oblong yang bisa digulung-gulung masukin koper. Dari segi penerbangan, tetep dong milih yang low cost airlines. Yang penting mah selamat sampe tujuan 🙂

Luxury tour biasanya dipilih sama mereka yang ga bermasalah sama duit. Tinggalnya aja di hotel minimal bintang 4, bahkan bisa di villa atau cottage pribadi. Jalan-jalannya ke tempat-tempat hip yang ngerogoh kocek nggak sedikit. Bawaannya koper gede, biasanya kalo pulang malah nambah koper baru gara2 kebanyakan belanja >_< Penerbangannya pun pilih yang high class kayak Garuda. hoho.

Setelah 3 tipe tadi, tentukan juga mau jadi solo traveler, duo, trio, atau group (yang anggotanya 4 orang atau lebih). Kalau menurut saya pribadi, makin sedikit anggota semakin baik. Ga ribet dalam memenuhi kemauan tiap orang yang beda-beda. Dan lagi, kamu bisa patungan beberapa biaya, seperti taksi, private room yang cuma buat 2-3 orang, makanan yang bisa sepiring berdua, dll. Kalo pun ga dapet temen jalan, sapa bilang solo traveler itu menyedihkan? Kamu bisa jalan-jalan membolang ke mana pun yang kamu suka tanpa ada yang menghalangi! Tapi jangan lupa bawa tripod, ya, buat foto diri dengan landmark tempat yang kamu kunjungi 😀

Nah untuk trip saya ke Mal dan Sg nanti ini, saya masuk ke kategori budget-duo-traveler. Karena saya akan membawa suitcase untuk barang-barang saya yang ga sedikit meliputi celana panjang, baju lengan panjang, jilbab, kaos kaki, manset tangan, and the other girl stuffs; dan saya juga sudah merancang itinerary+budget saya sedemikian rupa sehingga murah namun tetap gemah ripah loh jinawi 😀 Dan saya akan pergi bareng seorang sepupu saya (cewek) yang sebaya sama saya dan memiliki budget serta karakteristik jalan-jalan yang serupa.
Nah, jadi mulai sekarang hingga postingan selanjutnya, saya akan memberikan tips-tips bagi kamu yang ingin menjadi budget traveler seperti saya. *ting! 😉

Siapkan Paspormu

Tentu saja ini benda keramat yang wajib dimiliki traveler untuk keluar negeri. Jadi, untuk kamu yang belum punya paspor, ayok buruan bikin! Ga ribet dan ga perlu calo kok. Cuma butuh segudang kesabaran dan sejumlah uang, yang tentu saja bukan buat menyogok petugas imigrasinya loh, tapi murni untuk biaya administrasi.

Nah buat kamu yang berdomisili di Bandung, bisa liat tata cara pembuatan paspor di website ini. Lama pembuatan cuma satu hingga dua minggu. Ga lama kan?

Cari Tanggal

Nah sekarang saatnya menentukan tanggal kepergianmu. Karena saya dan sepupu saya sama-sama sudah bekerja, kami langsung mencari tanggal di mana ada liburan yang mepet sama weekend supaya kami ga perlu cuti lama-lama 😀

Di akhir tahun ini, terpilihlah tanggal 15 November hari Kamis yang merupakan libur 1 Muharram, di mana hari Jumatnya cuti bersama, jadi kami tinggal izin cuti 3 hari pada hari Senin-Selasa-Rabu minggu depannya. Berhasil deh dapet waktu jalan-jalan seminggu, yaitu 15-21 November, tanpa menghabiskan jatah cuti! 😀

Cara lain, jika kamu melihat ada penerbangan yang lagi promo ke tempat yang sangat kamu inginkan, bisa juga kamu segera booking pada tanggal tersebut, baru deh mikir gimana cutinya (buat yang sudah bekerja) atau ijin kuliahnya (buat yang masih kuliah). Inilah yang terjadi saat tahun lalu saya ke Jepang. Secara penerbangan ke Jepang mahal buanget kalo normal, ketika itu ada promo Air Asia yang pas dengan tanggal konferensi yang saya ikuti, namun artinya saya harus bolos kuliah 2 minggu! Hajar aja lah, kapan lagi bok! >_< Udah itu saya bikin surat ijin deh ke masing-masing dosen yang saya tinggalin kuliahnya. Alhamdulillah ga bermasalah sama sekali.

Cara lain lagi, jika kamu memiliki beberapa kandidat tanggal yang potensial, carilah harga-harga penerbangan pada tanggal-tanggal tersebut. Kemudian pilihlah tanggal di mana harga penerbangannya paling murah. Simpel kan? 🙂

Booking Tiket PP

Udah nemu tanggal yang pas, rajin-rajinlah browsing harga beberapa low cost airlines pada tanggal tersebut agar kamu dapat menemukan harga tiket yang benar-benar paling murah. Syukur-syukur kalo kebetulan lagi ada promo pas tanggal tersebut.

Tapi ingat, di low cost airlines, harga tiket itu belum termasuk harga bagasi, harga kalo milih kursi, dan services fees. Jadi kalo pengen semurah mungkin, jangan bawa bagasi! hehe, tapi kan saya ga mungkin. Jadi tinggal pilih mau bawa bagasi 15 kg, 20 kg, 25 kg, atau 30 kg karena harganya juga beda. Trus kalau mau milih seat duluan, harus bayar lagi -__-

Nah untuk masalah booking ini memang untung-untungan. Sudah pasti semakin jauh jarak booking dengan waktu berangkat akan dapat tiket makin murah. Tapi yang namanya low cost airlines, bisa aja tiba-tiba mepet suatu tanggal dia ngadain promo! Jiah, udah terlanjur beli tiket jauh-jauh hari malah jadi lebih mahal. Kalo ini yang terjadi, ingat saja bahwa rejeki itu sudah ditentukan, jadi ga nyesel-nyesel banget, insya Allah ini yang terbaik :’)

Dari kandidat Air Asia, Lion Air, dan Tiger Airways yang kami browsing, kami memutuskan untuk terbang dengan Tiger Airways yang pada tanggal 15 (tanggal berangkat) dan 21 (tanggal pulang) November harga tiketnya paling murah, dengan pilihan bagasi 20 kg dan tidak memilih tempat duduk.

Berikut rincian biayanya:
15 Nov: CGK-KL IDR 534000 (raw fare)
21 Nov: SIN-CGK SGD 76 (raw fare)

FYI:
1. Raw fare artinya harga tiket saja tanpa bagasi dll yang sudah saya sebutkan di atas tadi.
2. 1 SGD kurang lebih IDR 7800 saat ini

Booking Penginapan

Supaya aman, lebih baik booking penginapan dari sebelum berada di negara yang ingin kamu kunjungi. Walaupun go show juga sebenernya bisa dapat, dengan booking terlebih dahulu, kita bisa dapat info lebih detail mengenai penginapan yang diinginkan beserta review dari orang-orang yang pernah menginap di sana. Supaya bener-bener ga salah pilih. Tapi buat kamu yang cuek dan ga mau ribet, ga masalah juga kalo mau nyari penginapan yang kosong pas udah sampe tujuan.

Untuk memilih tempat menginap, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan:

  1. Carilah lokasi yang strategis. Pilih penginapan yang dekat dengan banyak tourism spot, seperti tempat belanja souvenir, tempat nyari makanan khas, tempat ibadah tertentu (masjid, gereja, kuil, dll) yang menarik, museum, dan lain-lain sesuai keinginanmu. Dengan begini kamu bisa pergi ke banyak tempat hanya dengan berjalan kaki, yang artinya irit ongkos transportasi kan? 🙂 Pilih juga yang dekat dengan stasiun atau terminal, jadi kalo mau ke mana-mana naik bus atau kereta, ga perlu jauh-jauh jalan kaki.
  2. Mau tinggal di penginapan seperti apa, hotel, hostel, guest house, dll. Hostel jelas jauh lebih murah daripada hotel, ada tempat penitipan barang walaupun belum check in maupun ketika sudah check out, dan cukup nyaman. Di Mal nanti saya insya Allah akan menginap di EV World Puduraya Hotel. Walapun namanya hotel, tp (kayaknya) fasilitasnya ga jauh beda sama hostel. Saya pilih hotel ini atas rekomendasi teman saya yang sudah pernah menginap di sana, dan karena hotel ini dekat dengan terminal bus yang dapat membawa saya ke Genting Highland, salah satu tujuan wisata saya kelak. Di hotel ini saya akan tinggal di private room untuk 2 orang dengan attached shower di dalamnya. Sementara di Sg saya akan tinggal di ABC Backpackers Hostel. Saya memilih hostel ini setelah membaca berbagai review yang ditulis oleh traveler Indonesia yang pernah menginap di sana. Selain itu tempatnya pun sangat strategis karena dekat dengan sebagian besar tourism spot di Sg, seperti Little India, China Town, Esplanade, Clark Quay, dll. Nah di hostel ini, tipe kamarnya dorm, artinya kita bakal sekamar sama traveler-traveler lain dari berbagai negara. Ada female-only dorm, ada juga mixed dorm. Tentu saja saya pilih yang female-only. Selain itu, kamar mandinya juga shared. Tapi berdasarkan review yang saya baca, katanya kamar mandinya selalu bersih karena lumayan sering dibersihkan. Well, let’s see then.

Mengenai shared bathroom ini, ada pengalaman yang ingin saya ceritakan. Ketika ke Jepang tahun lalu, saya juga menginap di hostel dengan tipe kamar female-only dorm. Di websitenya juga disebutkan bahwa kamar mandinya shared. Dan yang namanya shared di hostel itu artinya kamar mandi di luar kamar tidur, ada kamar mandi khusus pria dan khusus wanita, tapi digunakan bersama-sama dengan penghuni kamar lain. Sejak itu di mindset saya, shared bathroom berarti seperti itu.

Pada awalnya, saya sudah book hostel dengan inisial BB di Sg. Di website resminya BB hostel ini dituliskan bahwa kamar mandinya shared, dan saya membayangkan shared itu ya seperti yang di Jepang. Saya sih ga masalah jika harus berbagi kamar mandi dengan tamu wanita yang lain.

Suatu saat saya sedang baca The Naked Traveler (lupa no berapa). Di situ mbak Trinity menceritakan tentang shared bathroom di sebuah hostel (bukan di Sg tapi), di mana yang namanya shared itu benar-benar berbagi antara laki-laki dan perempuan *AAA!!! dan kamar mandinya hanya diberi tirai yang kalo kita mandi itu bagian bawah kaki kita keliatan dari luar *AAAA!!!! >_< Ga mungkin banget bagi saya yang berjilbab ini 😦 Kemudian saya langsung mengemail BB hostel itu untuk menanyakan tentang shared bathroom di sana, dan ternyata memang benar bahwa shared itu artinya berbagi antara laki-laki dan perempuan. *hiks

Lalu saya pun segera mencari hostel lain yang kamar mandinya lebih baik. Ternyata ga ada (ada sih, tapi mahal banget). Kemudian saya nanya seorang temen cewek yang pake jilbab, waktu di Sg nginep di mana. Katanya di ABC hostel ini, kamar mandinya bersih walaupun shared. Lalu saya cari reviewnya melalui google, ternyata memang cukup bagus juga. Karena itu akhirnya saya memutuskan booking ABC hostel dan mencancel BB hostel.

Jadi, untuk kamu yang tidak nyaman dengan shared bathroom (saya juga ga nyaman sih sebenarnya, namun demi dompet yang aman sejahtera ya mau gimana lagi :(), lebih baik mencari yang attached shower tapi siap-siap bayar lebih mahal. Kalo mau tetap murah, pastiin aja hostelnya memang reliable.

Untuk pencarian penginapan bisa melalui website hostelbookers.com, tripadvisor.com, hostels.com, asia.hostels.com, asiatravel.com, dan lain-lain masih banyak lagi. But basically, you can just simply googling it. 🙂

Jadi, rincian biaya untuk booking penginapan ini adalah:
EV World Puduraya Hotel – Superior room (RM 60 per night untuk 2 orang selama 2 malam): RM 60/2×2= RM 60
ABC Backpackers Hostel – Female-only dorm (SGD 24 per night per orang selama 3 malam): SGD 24×3= SGD 72

FYI:
1. RM 1 kurang lebih IDR 3200.
2. Pembayaran EVWorld Hotel dilakukan secara cash saat check in.
3. Untuk ABC Hostel harus transfer 50% pembayaran sebagai tanda jadi booking, 50% sisanya akan dibayar cash pada saat check in.

***

Paspor udah punya, booking tiket PP udah, booking penginapan juga udah, tinggal tentuin deh mau keliling ke mana aja!
insya Allah, sampai jumpa di postingan berikutnya! 😉

 

*ini foto waktu saya transit di LCCT KL dalam perjalanan menuju Jepang tahun lalu