Pindahan Rumah

Halo!

Kali ini saya ingin membagikan cerita mengenai proses pindahan saya dari asrama kampus ke apartemen (atau apato dalam bahasa Jepang). Semoga bisa memberikan gambaran bagi penduduk baru di Jepang mengenai tahap-tahap pindahan maupun mencari apato yang tepat dan hemat πŸ˜€

Honeymoon Part 2 – 28 Maret sampai 2 April 2014

Kunjungan suami saya kali ini memang tujuan utamanya adalah membantu saya pindahan πŸ˜€ Soalnya saya nggak mau ngangkat-ngangkat barang saya yang banyak ini sendiri *manja* dan merasa agak kurang nyaman juga kalau merepotkan bapak-bapak atau mas-mas di sini πŸ˜€ Jadi lebih baik merepotkan “mas” sendiri πŸ˜›

Asrama saya sekarang ini memang cuma boleh saya tempati selama setahun, terhitung mulai 2 April 2013-31 Maret 2014. Karena itu saya terpaksa harus mencari tempat tinggal lain selepas bulan Maret kemarin. Pilihannya adalah pindah ke asrama kampus dengan tipe berbeda atau ke apato.

Memilih Antara Asrama atau Apato

Sebenarnya terdapat berbagai tipe asrama yang disediakan oleh kampus saya, seperti asrama family, asrama couple, dll. Namun yang paling mungkin saya tempati sebagai seorang singel lokal adalah asrama bertipe single πŸ˜€ Jika ingin tinggal di asrama family, tentu harus ada visa dependen dari family yang ikut tinggal bersama kita. Karena suami saya tidak tinggal di sini, saya tidak dapat apply asrama tipe ini. Asrama bertipe single sendiri ada dua jenis. Mari kita bahas secara singkat satu per satu.

Asrama tipe single yang pertama. Kamar berukuran 2×4 meter persegi, dilengkapi tempat tidur, meja belajar, kursi, dan wastafel. Tidak ada kamar mandi dan dapur dalam. Toilet luar sharing bertipe western (yang duduk, bukan jongkok tipe Jepang), hanya dilengkapi tissue pembersih. Shower bertipe koin. Maksudnya adalah, untuk dapat mandi, kita harus memasukkan koin 100 yen ke slot yang tersedia, dan air pun akan keluar selama 9 menit. Mesin cuci dan pengering baju juga bertipe koin. Dapur sharing. Biaya sewa per bulan sekitar 14000 yen. Murah bukan? πŸ˜€

Yang membuat saya tidak cenderung tinggal di sini adalah, saya tidak bisa sharing toilet >_< Saya adalah orang yang sangat parno terhadap kebersihan. Jadi saya tidak mungkin duduk di toilet yang bekas diduduki orang lain membuang hajat. Dan saya ini juga sangat Indonesia sekali yang setiap habis buang air harus membersihkan dengan air dulu baru dengan tissue. Jadi, mengingat urusan buang-membuang ini merupakan salah satu syarat kenyamanan hidup saya, saya mengeliminasi asrama ini dari pilihan.

Asrama tipe single yang kedua. Saya kurang paham ukurannya, namun kamar ini sudah lengkap dengan dapur, toilet, dan shower di dalamnya. Disediakan juga kasur, meja belajar, kursi, sebuah lemari, dan AC! Mesin cuci dan pengering baju sama dengan sebelumnya yaitu bertipe koin. Biaya sewa per bulannya kurang lebih 30000 yen.

Sebenarnya asrama ini sudah memenuhi kualifikasi kenyamanan hidup saya. Namun apa daya, asrama yang bagus memenuhi standar kenyamanan di sini hanya boleh ditempati selama setahun, sama dengan asrama yang saya tempati selama setahun kemarin. Padahal saya masih di sini insya Allah dua tahun lagi. Artinya jika saya pindah ke sini, tahun depan saya harus pidah lagi. Oh no… 😦

Baiklah dengan ini disimpulkan, saya tidak dapat pindah ke pilihan asrama mana pun yang disediakan kampus saya. Maka sudah saatnya lah saya berburu apato.

Memilih Apato

Saya sudah harus pindah pada akhir bulan Maret, maka mulai bulan Januari saya mulai bertanya-tanya pada rekan-rekan di sini yang tinggal di apato untuk membanding-bandingkan antara apato yang satu dengan yang lain. Saya pribadi memiliki requirement: ada AC, kamar mandi dalam dan dapur, kamar mandinya digabung antara toilet dan shower, dekat dengan bus stop, dengan kisaran biaya sewa per bulan di bawah 30.000 yen. Alhamdulilah, di Tsukuba memang kisaran biaya apatonya mulai dari 20.000 yen pun ada, jadi tidak susah mencari yang biayanya di bawah 30.000 yen.

Apato pertama yang saya survei memiliki semua kualifikasi di atas, dengan harga 20.000, namun ternyata tidak memiliki balkon untuk menjemur pakaian, ukurannya pun juga sangaatt kecil. Ya wajar memang dengan harga segitu πŸ˜€ Maka apato ini pun dieliminasi.

Apato kedua memiliki semua kualifikasi di atas, dengan biaya sewa 30.000 belum termasuk internet. Ukuran kamar jauh lebih besar dari apato pertama, cukup lah buat sendirian. Maka apato ini di-keep dulu πŸ˜€

Apato ketiga merupakan apato yang sudah ditinggali salah satu teman di sini. Apato ini juga memenuhi kualifikasi di atas dengan harga 27.000, ada balkon dan ada mesin cuci koin, jadi saya tidak perlu mencari mesin cuci lagi. Dan lagi, harga 27.000 ini sudah termasuk internet dan air. Ukuran kamar memang lebih kecil dari apato kedua. Namun dengan mempertimbangkan harga dan semua fasilitas yang disediakan, akhirnya saya memilih apato ini πŸ™‚

Teken Kontrak

Ternyata tidak sulit untuk teken kontrak dengan apato di Jepang. Salah satu yang menjadi kekhawatiran tentu saja uang pangkalnya 😦 Memang uang pangkal untuk sewa apato di Jepang ini sangatlah mahal. Jangan dirupiahin kalau nggak mau sakit hati 😦 Namun Alhamdulillah karena saat teken kontrak saya bersama teman yang jago bahasa Jepang dan teman yang sudah duluan tinggal di apato ini, saya jadi bisa menawar uang pangkalnya hingga lebih murah sampai 30.000 yen >_<

Secara umum tidak ada hal khusus yang harus disiapkan. Saya hanya diminta surat guarantor dari kampus yang harus ditandatangi profesor saya. Surat ini bertujuan sebagai penjamin agar kita tidak mangkir dari membayar apato πŸ˜€ Selebihanya saya hanya mengisi form-form yang dijelaskan oleh agen apatonya. Nah dalam proses teken kontrak dan penjelasan-penjelasan ini saya memang ditemani oleh teman yang jago bahasa Jepangnya. Saya tidak tahu apakah mereka akan berusaha menjelaskan dengan bahasa Inggris jika kita tidak bisa bahasa Jepang. Namun kalau saran saya. lebih baik bersama teman yang jago bahasa Jepang supaya tidak ada yang miskom dan kita benar-benar detail akan hal-hal yang wajib kita bayar apa, yang tidak wajib yang mana supaya dapat dieliminasi.

Pindahan!!

Pindahan adalah hal yang paling mendokusai menurut saya, karena kita harus mengepak barang-barang dengan rapi agar mudah dibawa, dan kemudian mengeluarkanya dan menatanya lagi dengan rapi -.-”

Sebenarnya saya punya suatu sifat, saya ga tahu ini positif atau negatif, yaitu terlalu attached dengan lingkungan where I used to be. Akibatnya saya jadi mellow harus meninggalkan kamar yang sudah menjadi tempat saya bernaung selama setahun ke belakang. Saking susahnya move on, saya jadi menunda-nunda packing sampai suami saya datang πŸ˜€

Berkat bantuan suami, berhasil juga saya membereskan semua barang-barang yang ada di dorm saya, kemudian mengangkutnya ke apato baru saya. Untuk mengangkutnya ini, saya meminjam mobil masjid dan disupiri oleh salah seorang rekan di sini yang punya SIM Jepang.

Sewaktu mengangkut barang pemberian orang lain maupun barang nemu di gomi :P

Sewaktu mengangkut barang pemberian orang lain maupun barang nemu di gomi πŸ˜›

Ga kebayang pindahan tanpa orang satu ini >_< Makasih udah bantuin ngepakin barang, angkut-angkutin ke mobil lagi hujan-hujanan, ngeluarin lagi dari mobil dan masukin ke kamar, dan udah bantuin ngedesain dan menata kamar juga :)γŠη–²γ‚Œζ§˜γ§γ—γŸ!!

Advertisements

First 2 Months in Japan

Alhamdulillah akhirnya bisa nulis blog lagi. Setelah beberapa bulan terakhir disibukkan dengan persiapan ke Jepang dan juga menyelesaikan kerjaan sebelum berangkat, blog jadi benar-benar terlantar gini L Gomen nasai..

Hmm, tanpa terasa sudah dua bulan saya di sini. Banyak juga suka-duka yang dialami, tapi banyakan sukanya sih, Alhamdulillah πŸ™‚

Sakura

Ketika saya datang ke sini yaitu tanggal 2 April, seharusnya bunga-bunga sakura baru saja bermekaran. Saya sudah membayangkan akan disambut bunga sakura di kiri-kanan jalan, membayangkan bakal hanami sama temen-temen di sini, dan foto-foto di taman dengan latar belakang bunga sakura. Tapi ternyata, semua berubah ketika negara api menyerang (karena global warming). Tanpa disangka, sakura mekar sebelum waktunya. Yang biasanya awal April, ini akhir Maret sudah pada bermekaran. Dan karena memang si sakura hanya mekar sekitar 1 atau 2 minggu, ketika saya datang, sakuranya udah pada rontok L Jadi saya cuma dapet sisa-sisa sakura yang ada. Walaupun tak seindah foto yang biasa diliat di website-website tentang Jepang, Alhamdulillah saya masih tetap bisa melihat cantiknya bunga ini saat mekar πŸ™‚

1

Spring

Bayangan saya tentang spring adalah cuaca yang sejuk dan pemandangan yang indah. Tapi ternyata bukan sejuk yang saya dapat melainkan dingiiinn bangeett >_< Selama 2 minggu awal menurut ramalan cuaca built-in hp saya, suhu sering sekali di bawah 150C, bahkan saat malam hingga pagi bisa sampai di bawah 100C! Dan pada suatu pagi saya terbangun dalam keadaan menggigil dan jendela kamar saya bagian dalam basah semua. Ketika saya cek ramalan cuaca, suhu saat itu 00C! Ga tau bener apa lebay doang si aplikasi, tapi ternyata seperti ini rasanya 0 derajat ya. Antara ga kuat dan excited. Hehe πŸ˜€

Ngomong-ngomong tentang weather forecast, saya di sini jadi terbiasa mengecek weather forecast sebelum bepergian. Soalnya mau menentukan hari ini pakai baju apa, hehehe. Eits tapi bukan untuk gaya-gayaa, lho, melainkan menyesuaikan dengan keadaan cuaca saat itu. Sebagai contoh, kalau diramalkan hari ini akan hujan, saya bawa payung, pakai jaket yg ga menyerap air, dan pakai sepatu yang juga tahan air. Kalau suhu di bawah 150C, saya bakal pakai baju beberapa lapis dan bawa syal. Sebaliknya, kalau cuaca (agak) hangat, lapisan baju saya lebih sedikit supaya ga kepanasan. Hehe, seru ya J

Kembali ke cuaca. Selain cuaca yang dingin, angin di Tsukuba juga sangat kencang. Itulah yang menyebabkan sakura pada cepat rontok semua. Hiks. Ini perbandingan foto yang saya ambil dalam rentang waktu 2 minggu

2

Karena tadinya saya pikir saat spring ga akan dingin-dingin banget, saya cuma bawa satu jaket yang agak tebal dari Indonesia. Sisanya saya cuma bawa cardigan-cardigan tipis, cuma buat gaya doang, bukan untuk menghangatkan. Ternyata, jaket β€˜tebal’ saya ini pun tak mampu menahan dinginnya musim semi tahun ini. Terpaksalah saya akhirnya beli jaket lagi di sini. Alhamdulillah, di Jepang banyak sekali toko pakaian second yang masih sangat bagus, jadi saya bisa membeli jaket dengan harga sangat murah. Selain itu saya juga dapat jaket dan scarf/syal dari senpai di sini karena pada kasian melihat saya kedinginan. Hehe..

Di Jepang ini saya baru mengenal yang namanya β€˜kairo’. Dulu saya cuma melihat kairo di dorama-dorama Jepang dan Korea.Β Kairo ini sering dipegang-pegang saat cuaca dingin. Katanya bisa menghangatkan. Dulu saya bingung gimana cara benda berbentuk segi empat itu bisa menghangatkan. Eh ternyata bener lho, kalau dipegang dan digosok-gosok, kairo jadi hangat sekali jadi bisa disimpan di saku jaket dan dipegang-pegang waktu jalan. Ini karena kairo berisi serbuk karbon yang jika digosok-gosok terjadi perpindahan kalor dan akan menghasilkan panas (kalo ga salah πŸ˜› )

Asrama

Alhamdulillah University of Tsukuba (Tsukuba-dai) otomatis menyediakan asrama bagi mahasiswa asing, jadi saya tidak mengalami bersusah payah mencari tempat tinggal sebelum datang ke Jepang. Asrama Tsukuba-dai terletak di dalam areal kampus, karenanya sangat dekat dengan lab dan gedung perkuliahan. Karena areal kampus Tsukuba sangat luas (katanya Tsukuba-dai kampus terluas se-Jepang, bener ga ya?) untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain terkadang tidak cukup dengan berjalan kaki seperti di ITB, namun memerlukan sepeda atau bus kampus. Di tiap bus stop, bus datang setiap 20 menit sekali dan di tiap stasiun sudah terpampang jadwal kedatangan tiap bus, jadi kita tinggal memfoto jadwal dari bus stop yang akan sering kita lewati supaya tidak terlambat untuk naik bus. Harga tiket untuk naik bus ini bagi pelajar adalah 4200 yen per tahun, dan bagi yang bukan pelajar harga tiketnya tergantung jarak.

Bagi yang belum punya sepeda, bus ini sangat praktis karena bus stop terakhir dari bus ini adalah Tsukuba Sentaa di mana terletak berbagai shopping mall dan supermarket. Tentu saja ini sangat memudahkan jika tiba-tiba kita perlu mecari barang yang tidak ada di konbini dekat asrama masing-masing. Kelemahan bus ini hanya memang kita harus sabar menunggu.

Asrama yang saya tempati ini terletak di area yang bernama Ichinoya. Ternyata (lagi-lagi) Alhamdulillah asrama yang saya dapatkan ini adalah asrama terbaik di Tsukuba-dai. Di dalam kamar ada kamar mandi, tempat tidur, meja belajar dan kursi, serta lemari baju. Yang dipakai bersama penghuni lain hanya dapur, mesing cuci, serta pengering baju. Asrama di area lain tidak memiliki kamar mandi dalam, tidak disediakan lemari baju, serta ukurannya jauh lebih sempit.

Untuk mencuci baju dan mengeringkannya menggunakan mesin cuci dan pengering yang tersedia, kami harus memasukkan koin 100 yen untuk masing-masing mesin. Jadi total untuk mencuci baju memerlukan uang 200 yen alias 20ribu rupiah. Karena mahal, saya mencuci baju seminggu sekali saja, jadi sekaligus banyak baju yang dicuci. Dan saya juga tidak perlu khawatir kehabisan baju karena mesin pengering di sini ajaib banget >_< Bajunya benar-benar kering dan hangat seperti habis dijemur di bawah terik matahari seharian. Jadi saya ga perlu repot-repot menjemur baju seperti di Indonesia deh πŸ™‚

Disiplin

Jepang sangat terkenal dengan disiplin waktunya, semua orang sudah tau ini ya kayaknya. Dua tahun lalu saat saya pertama kali datang ke Jepang, saya ga ngerti kenapa orang suka lari-lari waktu mau naik kereta. Saya pikir kalau terlambat toh nanti beberapa menit lagi juga bakal ada kereta dengan tujuan yang sama kan, jadi buat apa lari-lari? Sekarang saya sudah tahu jawabannya. Contoh kasusnya adalah apa yang saya alami sendiri di Tsukuba.

Suatu malam, hari ketiga saya tiba di Jepang, saya dan seorang teman yang sama-sama baru datang bermaksud untuk membeli hape di Tsukuba Sentaa. Kami pun keluar setelah solat isya sekitar jam setengah 8 malam. Saat itu kami belum ngeh mengenai jadwal bus yang cuma lewat 20 menit sekali itu, jadi kami jalan dengan santai.

Ketika melewati sebuah gomi (tempat sampah yang berukuran besar dan bersekat-sekat sesuai jenis sampahnya), saya melihat ada yang membuang rak buku, dan kondisinya masih sangat bagus dan bersih. Kami pun berhenti sebentar dan mempertimbangkan apakah mengambil rak buku tersebut dan balik ke asrama sebentar untuk menaruhnya, atau tetap meneruskan perjalanan ke bus stop. Akhirnya karena males, kami memutuskan tetap lanjut ke bus stop dengan harapan, kalau rejeki, rak buku itu masih akan ada di situ sepulangnya kami dari membeli hape.

Begitu mendekati bus stop, busnya sudah terlihat di kejauhan. Kami pun lari-lari menuju bus stop tersebut. Sebelum kami sampai bus stop, busnya udah berhenti untuk menaikkan dan menurunkan penumpang di bus stop itu. Ketika penumpang terakhir sudah turun, tepat sejengkal lagi kami sampai di bus stop. Tak disangka, pintu bus langsung tertutup tanpa menunggu kami, dan bus pun pergi begitu saja. Saya dan teman saya langsung speechless dan tertawa miris. Ketika itu kami langsung melihat jadwal bus dan kami baru tau kalau bus berikutnya datang 20 menit kemudian yaitu jam 20.03. Kami pun menunggu bus berikutnya.

Perjalanan dari bus stop terdekat asrama ke Tsukuba Sentaa memakan waktu 20 menit, jadi kami sampai sekitar jam 20.25. Karena belum tau letak persis tempat beli hapenya, kami mencari-cari dulu dan sekitar jam 20.30 baru menemukan kantornya Softbank, salah satu provider di Jepang yang banyak dipake orang Indonesia karena harganya paling murah πŸ˜€

Sampai di kantornya kami langsung masuk dan bilang ke mbak salesnya kalau kami mau beli hape. Ternyata oh ternyata pemirsa, memang saat itu kantornya belum tutup, tapi jam terakhir mereka dapat menerima pelanggan untuk beli hape adalah jam 20.15. Jadi bagi pelanggan terakhir yang datang masih dapat dilayani hingga pukul 20.30. Jadi untuk kami yang datang pukul 20.30 sudah tidak diterima lagi karena dapat membuat mereka telat tutup kantornya.

Saya dan teman saya lagi-lagi cuma ketawa aja dengan pengalaman kami hari ini. Sudah tertinggal bus, ga bisa beli hape pula karena telat datang. Akhirnya kami mencari konter Softbank di dalam mall yang ada di Tsukuba Sentaa, dan Alhamdulillahnya masih ada yang buka dan menerima pelanggan. Jadi juga kami beli hape malam ini. πŸ™‚

Hikmah dari pengalaman ini adalah : seandainya kami tidak berhenti untuk melihat rak buku di gomi, mungkin kami akan tiba di bus stop 1 menit lebih awal, dan artinya kami tidak akan tertinggal bus. Dan kalau kami tidak tertinggal bus, artinya kami bisa sampai di Tsukuba Sentaa 20 menit lebih awal, dan artinya kantor Softbank yang pertama kali kami datangi masih mau menerima pelanggan, dan artinya kami tidak perlu bersusah payah mencari konter Softbank di tempat lain lagi.

Sejak malam ini, saya langsung memfoto jadwal kedatangan bus di bus stop terdekat asrama saya itu. Dan karena busnya cuma datang 20 menit sekali, artinya jika ada appointment saya harus siap 30 menit sebelum appointment tersebut jika tidak mau terlambat. Dan sekarang saya mengerti kenapa orang-orang Jepang sering lari-lari untuk menuju kereta atau bus di sini karena waktu 1 menit saja bisa begitu berharga.

Membeli hape

Nah sekarang saya mau cerita tentang proses membeli hape di sini.

Beli hape dan nomor di Jepang tidak semudah di Indonesia. Di sini beli hape harus di konter provider yang diinginkan, karena provider tersebutlah yang menyediakan berbagai jenis hape yang dapat kita pilih. Jadi di sini beli hape dan nomor itu satu kesatuan, bukan 2 hal yang berbeda, dan karenanya kita tidak dapat ganti-ganti nomor hape seenaknya.

Jadi jika sudah memutuskan mau pake provider apa, datanglah ke konter provider tersebut, dan pilihlah jenis hape yang diinginkan. Setelah itu kita harus mengisi berbagai formulir berkaitan dengan data pribadi kita. Kalau sudah, kita bisa bawa pulang hape tanpa mengeluarkan uang sedikitp pun J

Loh, jadi gimana system pembayarannya?

Nah pembayaran hape di sini sistemnya kredit. Per bulan kita akan mendapat tagihan yang include cicilan hape serta pulsa telepon, sms, dan internet yang kita gunakan pada bulan itu. Sebagai contoh provider yang saya pakai, Softbank. Tagihan dasar hape saya per bulan adalah 5000 sekian yen. Uang tersebut sudah termasuk cicilan harga hape, sms dan telepon gratis ke sesame Softbank, serta internet 8 Gb. Nah kalau kita menggunakan hape di luar hal-hal di atas, akan ada biaya tambahan lagi. Jadi kita baru akan mengkhawatirkan tagihan hape kita di akhir bulan, hihi πŸ˜€ Tapi kita bisa kok mengecek tagihan hape kita di website provider masing-masing.

Belajar Bahasa Jepang

Alhamdulillah penerima beasiswa Monbusho G2G mendapat kesempatan 6 bulan untuk fokus belajar bahasa Jepang. Sebenarnya untuk menentukan level atau kelas bahasa Jepang mana yang harus kita ambil, ada placement test yang wajib dilakukan di awal kedatangan di sini. Namun untuk penerima Monbusho G2G, test itu cuma untuk mengetahui siapa yang sudah pernah belajar bahasa Jepang sebelum datang ke Jepang, dan siapa yang belum pernah sama sekali. Jadi kami terbagi menjadi 2 kelas intensif, kelas pertama bagi yang belum pernah belajar sama sekali jadi mulai dari belajar katakana-hiragana, sedangkan saya masuk ke kelas yang sudah pernah belajar, jadi kami belajarnya tinggal melanjutkan grammar dan kanji yang selama ini sudah dipelajari.

Karena kelas saya ini judulnya kelas intensif, kami belajar dari jam 08.40-15.00 tiap hari dari Senin sampe Jumat! Haha, benar-benar intensif kan udah kayak kuliah bahasa Jepang deh saya. Kelas saya terdiri dari teman-teman yang berasal dari Kuba, Serbia, Brazil, Portugal, dan Chile. Senangnya, teman-teman kelas saya ini asyik semua orangnya, dan juga pinter-pinter jadi belajarnya cepat. Jadi saya selalu senang kembali ke kelas meskipun harus bangun pagi banget dan pulang sore banget J

Sholat

Jika di Indonesia kita bisa dengan mudah mengetahui waktu sholat karena adzan berkumandang dari segala penjuru, tidak demikian halnya dengan di sini.

Sebagai warga minoritas, tentu saja tidak bisa mengharapkan dengan mudah mendengar suara adzan. Walaupun ada masjid di beberapa kota besar, tapi (kalo ga salah) suara adzan ga boleh sampai keluar bangunan masjid karena khawatir mengganggu.

Namun jaman sekarang teknologi sudah canggih. Kita dapat mengunduh aplikasi yang bisa memberi tahu waktu solat dan arah kiblat kalau kita menggunakan smartphone. Jadi saya tau waktu sholat dari notification yang diberikan oleh aplikasi ini.

Tempat solatnya bagaimana?

Waktu sholat zuhur harus saya sempat-sempatkan di antara waktu istirahat makan siang kelas bahasa Jepang saya. Karena begitu banyaknya mahasiswa Muslim di Tsukuba, staf-staf Tsukuba sudah tau mengenai kami yang harus melaksanakan sholat di waktu-waktu tertentu. Jadi ketika saya meinta izin untuk sholat, mereka bilang saya boleh sholat di mana saja.

Tempat yang paling aman tentu saja kelas bahasa Jepang saya sendiri. Waktu istirahat teman-teman saya selalu makan di luar kelas. Biasanya selesai makan, saya izin kabur duluan ke kelas sementara yang lain masih pada ngobrol-ngobrol. Jadi saya bisa sholat di kelas dengan tenang.

Sholat ashar dan maghrib biasanya saya masih di lab. Jadi saya juga sudah meminta izin untuk menggunakan space kosong di pojokan tiap waktu sholat tiba untuk melaksanakan sholat. Alhamdulillah, teman-teman dan sensei semua memaklumi dan mengizinkan J

Bagaimana jika sedang jalan-jalan?

Biasanya kami diliatin sih kalau lagi wudhu di toilet L Ya mau bagaimana lagi, namanya juga minoritas. Biarin deh dibilang aneh juga.

Orang Jepang sangat menjaga kebersihan, karena itu toilet di Jepang sangat bersih dan kering. Sehabis wudhu, sebaiknya kita membersihkan wastafel dan lantai yang terkena cipratan air wudhu kita. Sudah sewajarnyalah kita mengikuti aturan yang berlaku di suatu tempat, karena kita tidak hanya membawa nama diri sendiri, namun juga nama Indonesia dan Islam pastinya. Ga mau kan orang Islam dicap jorok gara-gara kalau wudhu ngebasahin toilet Β >_<

Mengenai tempat solatnya, saya sejauh ini pernah solat di densha, tapi kebanyakan solat sambil duduk, karena sulit sekali menemukan tempat yang cukup lowong untuk menggelar alas solat, dan saya juga kurang yakin dengan kebersihannya, habis orang Jepang sering banget bawa anjing jalan-jalan. Jadi yang terbaik yang bisa saya lakukan adalah solat sambil duduk.

*****

Yah seperti inilah selayang pandang kehidupan saya selama dua bulan di sini. Alhamdulillah saya senang dan betah walaupun tiap hari sibuk dengan berbagai kegiatan. Insya Allah kalau ada cerita-cerita menarik lainnya akan segera saya share di sini di waktu yang akan datang πŸ™‚