Day 6: Five Ways to Win My Heart

Hello, everyone!

Today’s theme is, as you’ve might known from the title, five ways to win my heart. Umm, actually, I am bit confused with the term “win” here. Is it supposed to be winning in a romantic way, I mean like attraction between man and woman? Or just in general? Because I think what a friend did to me can win my heart too. But finally, I decided to write about winning in a romantic way (even though I am married now so who cares XD ), just because 😛

Care. It doesn’t have to be necessarily care about me solely, but about other people too.For example, before speaking, he always think whether it will hurt other people’s feeling or not. Or, care to tell his girl friends (not girlfriend) to not going home late, and if they do, he makes sure they go home with some other people to ensure their safety.

Remember small details. I think I mentioned before that I don’t have very good memory about particular episodes in my life, but, if I am attracted to someone, I will remember every detail about him. So I expect he also remember small details about me, or something I’ve ever told him.

Click in conversation. We don’t have to be having similar interest or hobby, but you know you had a good conversation when you didn’t notice where time has gone, right?

Initiative. Initiative to help even though he is not asked to, or initiative to apologize even if he knows he did nothing wrong 😛

Well-groomed. It shows that he has good manners toward others, because he doesn’t want other people to see him in untidy appearance.


For boys who read this list, I hope you find it helpful for you to win your lady’s heart 😀

Day 5: Five Places I Want to Visit

Hello, everyone!

It seems like I’m still on my track on doing this challenge. Yay! 🙂 So here we go the day 5: five places I want to visit.

UK, or to be more specific, all Harry Potter filming locations in UK. You might have bored listening to me talking about how I like all about HP world, so sorry, I have to mention this again 😦 UK is definitely on the top of my travel bucket list. I already have the list of places I want to go to if I had a chance to go UK. I don’t know when this dream will come true, since it’s quite far from Indonesia, my husband now is working in a company, and my son is still too small. But, who knows? Luckily, my husband’s travel bucket list is also UK, since he loves football (not American football, but soccer) and Sherlock Holmes. So UK is on the very top of our dream destinations 🙂

Alnwick Castle, where Harry learnt to fly for the first time

NORWAY. In term of natural phenomenon, I really want to see aurora or northern lights in Norway. For me, aurora is very special since it can’t be seen everywhere. For example you can see snow in most of sub-tropical countries, you can see sea in any coastal areas, but aurora can be seen only in northern countries. That’s why Norway is also on my bucket list.

Aurora spotted in Norway

SANTORINI, Greece. Because the place is so pretty and has that romantic vibe. Enough said.

No caption needed

NETHERLANDS (or Holland? I don’t know 😦 ) Ever since I was a kid, my mom always read bedtime stories for me. I have a whole rack of children’s books with stories from around the world. You know, books with stories on the left side, and illustrations on the right side. I think that’s when my love for books grew. I always love reading books and going to the library near my house. And I think that’s also when my dream to travel the world arose. On one (or some) of those bedtime stories, I saw a very pretty illustration of windmill with tulip field and dutch house. And also pretty dutch ladies with dress and klompen (dutch shoes, also called clogs). Since then, I’ve always wanted to see them with my own eyes.

Windmill with tulip field and dutch houses
Cute klompen

MAKKAH and MADINAH to do pilgrimage. I’ve been there before but only to do umrah. Insha Allah I will go there again to do pilgrimage or hajj. Amen.

Masjidil Haram in Makkah, a city that never sleep


Actually, as someone who loves to travel, there are many more places I want to visit. I even haven’t mentioned some in Indonesia, my own country. But I think, currently these five are on the very top of my bucket list.

See you on the next day! 🙂

PS: picture credit goes to Google

Day 4: Someone Who Inspires Me

Halo, semua!

Maaf ya, saya nggak ngepost apa-apa selama 2 hari kemarin. Kebetulan ada acara seharian terus, dan lagi pengen family time juga, jadi sengaja nggak buka laptop kecuali mendesak banget 🙂

Oke, masih melanjutkan 30 day writing challenge, hari ke-4 ini temanya adalah seseorang yang menginspirasi. Sejujurnya, banyak banget orang yg menginspirasi saya dalam hidup saya. Setiap orang tersebut menginspirasi dengan value mereka masing-masing. Tapi karena disuruh menuliskan satu saja, saya mau menuliskan tentang orang ini. Bukan berarti dia paling menginspirasi saya dibanding yg lainnya. Hanya saja, dia yg menginspirasi saya akhir-akhir ini.

Namanya adalah Muhammad Al Fatih, seorang sultan Turki Utsmani yang menaklukkan Konstantinopel. Kalau mau baca profil dan sejarah lengkapnya, banyak kok, ada di wikipedia. Kalau saya tulis di sini, nanti jadi kayak mengulang isi wikipedia, jadi googling sendiri aja ya 🙂

Saya pribadi ngefans banget sama beliau karena beliau adalah seorang pakar di berbagai bidang (seperti sains, matematika, dan peperangan) dan menguasai banyak bahasa pada usia sangat muda. Kalau aja saya tau kisah beliau dari saya kecil, mungkin saya bakal lebih rajin dalam les yg dulu saya ikuti. Saya sendiri adalah orang yg sangat suka mempelajari bahasa. Dulu waktu kecil saya les bahasa Prancis, tapi kemudian terputus di tengah jalan karena susah hehe. Kemudian, karena saya SMA di madrasah, saya jadi belajar bahasa Arab. Alhamdulillah karena belajar bahasa Arab, saya merasa jadi lebih mudah menghapal Al Qur’an, karena kita tahu yang mana subjek, predikat, objek, jadi menghapalnya seperti menghapal cerita. Lalu, waktu kuliah saya juga belajar bahasa Jepang. Alhamdulillah, kemampuan bahasa Jepang ini yg masih terpakai sampai sekarang. Terus karena saya suka nonton drama korea, saya jadi bisa baca hangeul. Dan karena grammar Korea itu sama persis dengan Jepang, saya jadi agak paham bahasa Korea (bukan berarti bisa, hanya sekadar tahu susunan subjek, predikat, dan objeknya. Hehe).

Terus saya juga les renang, tapi  putus juga di tengah jalan karena nggak mau badannya gosong kena matahari 😀 Nyesel banget nggak nerusin les renang, padahal itu kan salah satu keterampilan yg dianjurkan dalam hadits 😦 Alhamdulillah sih sampai sekarang masih sekadar bisa ngambang dan bergerak dari satu tempat ke tempat lain kalau di kolam renang. Hehehe.

Karena saya ngefans sama Al Fatih inilah saya memberi nama anak saya Fatih (nama lengkapnya Abizar Fatih Pratama, panggilannya Abizar sih bukan Fatih-nya), karena saya ingin anak saya mencontoh Al Fatih. Saya tahu dan paham, kita sebagai orang tua tidak boleh memaksakan kehendak anak. Jadi saya nggak akan memaksa Abizar untuk belajar bahasa ini itu atau les ini itu kalau dia memang nggak suka. Tapi saya ingin Abizar mencontoh semangat Al Fatih dalam membekali diri dengan berbagai keterampilan. Dan biarkan Abizar sendiri yg memutuskan mau ahli di keterampilan yg mana yg dia suka, selama itu positif.

Nah sekian cerita tentang orang yg menginspirasi saya. Sampai ketemu di postingan hari ke-5!

Day 3: My Top Three Pet Peeves

Yay! Ever since I read the list of 30 day writing challenge titles, I knew what I want to write for this one right away. It is as easy as abc!

Oh and FYI, according to, pet peeve is something that annoys or bothers a person very much.

Ok, so here they are..

SPOILERS. Ugh I hate spoilers to the bottom of my heart. And it happened just last night! As a witch trapped in a Muggle body Harry Potter geek, I read not only the book but also Pottermore, Harry Potter wikia, and sometimes I watch YouTube videos about HP facts. Last night, when I was watching a video about Fantastic Beasts, without warning, the people on the video spilled an important plot of The Cursed Child! I haven’t even finished reading the book yet 😦 Before this, when I was reading a fact about The Malfoys, I also accidentally bumped into an important fact that will be revealed on The Cursed Child book. Whoever reading this, please don’t spoil anymore thing from The Cursed Child… ><

Thanks to my best friend, Wia, who gave this as a birthday present for me straight from the UK 🙂

TARDINESS without effort to be punctual. I accept tardiness with a credible reason, but some people just don’t value punctuality that much. Even when I was studying in Japan (a country famous for its punctuality), one of my lab mates was always late to our lab meeting. He is a kind person, but he’s just always late. And the other lab members sometimes talk about his habit behind him. You do know some of your friends who are always late, don’t you?

People DISCUSSING ABOUT MOVIE they are watching inside the theater. Hello, there are other people who are also watching the same movie around you. Can’t you just talk inside your head? -_- And sometimes they also spill some of their knowledge about the movie! Ugh 😦

What are your pet peeves? Do you have the same ones as me?

Day 2: Something That Someone Told Me About Myself That I Never Forgot

Halo, teman-teman!

Hari kedua ini temanya adalah menuliskan tentang “perkataan seseorang tentang saya yg tidak pernah saya lupakan”. Waduh, baru hari kedua aja udah susah temanya >< Jujur, saya ini memiliki ingatan seperti Dory di Finding Nemo. Hehe, tidak sependek itu sih, tapi saya bukan orang yg mudah ingat hal-hal kecil atau obrolan yg hanya selintasan. Jadi susah sekali untuk saya mengingat-ingat perkataan orang tentang diri saya.

Akhirnya, setelah saya menggali-gali ke lubuk memori saya yang terdalam, saya jadi ingat suatu kejadian yg agak membekas, yg tanpa saya sadari, it shaped how I am today. Kejadian ini bukan kejadian yg cukup positif, jadi sebenarnya saya tidak ingin terjebak di nostalgia hal ini mempengaruhi sikap saya. Well, at least I’m working on it right now.

Sebagai prolog, saya bukan orang yg hobi masak. Bukan berarti saya tidak bisa masak sama sekali, saya hanya tidak merasakan kenikmatan dalam aktivitas memasak. Saya masak, ya hanya supaya suami saya bisa makan 😀 Tapi alhamdulillah, kalau masaknya sambil melihat resep, rasa masakan saya lumayan lah. Cukup untuk nambah sepiring lagi, hehe.

Suatu masa dalam hidup saya, saya masak suatu makanan. Kemudian saya mengundang beberapa orang makan bareng. Kalau diingat-ingat, itu sepertinya pertama kali saya mengundang orang makan hasil masakan saya. Berarti mestinya saya pede dong ya dengan masakan saya saat itu. Dan saya ingat juga, saya udah beberapa kali masak menu tersebut dan setiap saya masak selalu seperti itu dan perasaan saya sih makanan itu kalau dimasak ya harusnya memang kayak gitu (halah belibet).

Eh tapi nggak disangka-sangka, orang yg saya undang itu komentar seperti ini, “kok ini-nya keras sih?” di depan orang-orang. Waaa, langsung lah hancur hati saya berkeping-keping. Sejak saat itu, saya jadi trauma masak makanan itu lagi, dan saya juga trauma mengundang orang untuk makan masakan saya >< Saya yg memang sudah dasarnya nggak hobi masak, jadi makin ga pede untuk masak lagi 😦

Saya jadi teringat Rasulullah yg tidak pernah berkomentar kurang baik pada suatu makanan. Jika tidak suka, ya diam saja. Ternyata memang dampak psikologisnya lumayan yah. Saya sendiri mengalami sampai trauma hehe. Kalaupun memang ada yg kurang dan ingin memberi masukan, ada baiknya disampaikan di saat tidak ada orang lain dan juga pastinya dengan bahasa yg tidak menjatuhkan.

Yah demikianlah ceritanya. Setelah dibaca-baca lagi, jadi kayak bukan “about myself” yah, tapi lebih ke “perkataan orang yg memorable bagi saya”. Soalnya kalau yg “about myself” banget, rata-rata orang komentar yg sama tentang saya, seperti saya orangnya terencana, rapi, golongan darah O yg menjelma jadi A, dan yg semacamnya. Karena banyak yg bilang seperti itu ke saya, jadi bukan sesuatu yg hanya terjadi sekali dan teringat terus.

Semoga besok masih konsisten nulisnya. Perjalanan masih panjang! 😀

Krisis Identitas

Teman-teman yang budiman,

Sebelum saya melanjutkan tulisan dari 30 day writing challenge, saya mau cerita tentang suatu hal yang akhir-akhir ini menjadi pikiran saya. Nggak kepikiran sampe stres juga sih, cuma kalo nulis blog, saya selalu kepikiran hal ini. Dan saya juga nggak pengen ada dua tulisan dalam 1 hari, jadi writing challenge nya saya sambung besok ya.

Ceritanya, saya merasa lagi krisis identitas. Hubungannya sama blog ini apa? Hehe, saya merasa, blog ini terlalu nano-nano dari segi penulisannya. Kadang saya nulis pake bahasa Inggris, kadang bahasa Indonesia. Kalopun nulis pakai bahasa Indonesia, kadang pakai bahasa Indonesia baku, kadang nggak.

Saya sejujurnya pengen membuat blog ini lebih mengerucut dari segi tema maupun penulisan. Supaya lebih mudah juga merutinkan nulis blognya, dan enak juga bagi yang membaca, kayak blognya Trinity, atau temen saya blogger kelas kakap Adam. Kalo pake bahasa Indonesia, pastinya lebih mudah dibaca bagi sebagian besar teman-teman saya. Tapi kadang saya ngerasa ada istilah yg lebih tersampaikan dengan bahasa Inggris. Tapi saya juga nggak mau dalam 1 postingan ada bahasa yg nyampur2 gitu. Karena saya menghargai both bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dengan tingkat penghargaan yg sama (nah loh udah nyampur2 lagi kan nulisnya).

Terus yg bikin bingung lagi, kalo bahasa Inggris, harusnya saya nulis dalam British English atau American English? Sebenernya kita orang Indonesia ini belajarnya British atau American English sih? Perasaan saya  sih emang American English, soalnya kita nulis beberapa kata sesuai kamus American English, seperti “cozy” bukan “cosy”, “color” bukan “colour”, dst. Tapi eh tapi, banyak banget kata2 bahasa Indonesia yg diserap dari British English, kayak huruf “z” kan dalam bahasa Indonesia kita baca “zet”, sama kayak orang Inggris, sementara orang Amerika kan bacanya “zee”. Trus “lift” yg ada di mall itu kan kita nyebutnya “lift”, bukan “elevator” (orang Inggris nyebutnya “lift”, orang Amerika nyebutnya “elevator”).

Akhirnya, saya mencoba merenungkan (caelaaa) permasalahan ini. Kalo postingan saya ga relevan untuk pembaca internasional, saya tulis dalam bahasa Indonesia. Tapi kalo sekiranya tulisan saya bisa bermanfaat for broader community (halah udah nyampur lagi), mungkin akan saya tulis dalam bahasa Inggris. Ini juga masih “mungkin” lho ya, soalnya saya juga ga bisa nulis bahasa Inggris effortlessly kayak Sasky >< Tapi saya selalu seneng ketika ada orang dari negara lain yg komen di blog saya. Seperti di kanal youtube saya. Karena saya konsisten memberi subtitle dan description dalam bahasa Inggris, saya jadi dapat banyak teman dari berbagai belahan dunia.

Minta sarannya dong temen-temen blogger semua 🙂 Kalo temen-temen gimana nulis blognya?

Day 1: 10 Things that Make Me Really Happy

Halo. Ketemu lagi dengan Nadine di sini. Hehe. Ceritanya masih semangat memulai 30 day writing challenge yg sudah saya tulis kemarin, hari pertama ini saya diminta menuliskan tentang “10 hal yg membuat saya benar-benar senang”.

Sejujurnya, saya orang yg mudah senang. Maksudnya, saya gampang senang akan hal-hal kecil dan sederhana. Tapi karena di judulnya ini ada kata-kata “really” atau “benar-benar”, berarti senengnya harus seneng banget gitu kan ya. Jadi saya mau coba membayangkan, kalo terjadi sesuatu apa sih yg bakal bikin saya seneng banget.

  1. Nomer 1 ini bisa dibilang sangat obvious. Buat temen-temen yg ngikutin blog ini, pasti tau deh hobi saya yg satu ini ^_^ Yes bener banget, JALAN-JALAN! Saya suka banget traveling. Traveling itu buat saya bener-bener stress reliever. Ga mesti jauh, ga mesti mahal, ga mesti mewah, asalkan saya bisa lihat tempat baru yg belum pernah saya lihat, saya pasti udah bahagiaaa banget.
  2. Ini masih berkaitan dengan nomor 1. MENYUSUN RENCANA PERJALANAN. Buat saya, membuat itinerary itu sama excitingnya dengan traveling itu sendiri. Seperti nyusun rute untuk mendapatkan waktu dan biaya paling efisien, nyari-nyari penginapan, nyari info alat transportasinya, dan seterusnya.
  3. HARRY POTTER MARATHON, buku maupun film. Temen-temen yg kenal saya juga pasti tahu kalo saya ini maniak HP. Ketika saya libur panjang, pasti ada aja kalanya saya ngulang nonton HP dari  nomor 1 sampe 8 berurutan. Kalo baca bukunya, dulu masih sering marathon, tapi akhir-akhir ini saya lagi suka baca buku yg lain, jd belum sempet ngulang baca buku HP lagi.
  4. BERADA DI JEPANG. Sebagai satu-satunya negara di mana saya pernah tinggal lama selain Indonesia, Alhamdulillah, Jepang meninggalkan kenangan indah yg begitu membekas di hati saya. Saya bahagia di sana karena saya nggak pernah mengalami dizolimi sama birokrasi, saya juga betah karena mau ke mana-mana mudah, informasinya jelas, dan selalu ada orang yg bisa ditanyai. Saya juga senang dengan bantuan yg selalu diberikan oleh siapa saja. Memang setiap negara pasti ada plus-minusnya. Dan mungkin, justru karena saya cuma 3 tahun di sana, saya cuma ngerasain yg indah-indah aja. But honestly, as soon a I left Japan, I realize that a piece of my heart stays there, even until now (eeaa baper).
  5. Mengetahui bahwa ORANG-ORANG YANG KITA SAYANGI BAIK-BAIK SAJA (cieee). Karena saya dari SMA sudah jauh dari orang tua (saya sekolah SMA di boarding school), saya sudah terbiasa tidak bertatap langsung dengan orang2 terdekat saya. Ditambah lagi pernah menjadi pejuang LDM (long distance marriage) bersama suami saya selama hampir 2 tahun, berada dekat dengan keluarga dan sahabat merupakan privilege tersendiri. Karena itu, tidak perlu deh bertatap wajah, hanya dengan tau kabar mereka baik-baik saja sudah membuat saya benar-benar lega 🙂
  6. Anak saya TERLAHIR SEHAT dan selamat tanpa kurang suatu apa pun. Sepertinya semua ibu di dunia ini akan merasa yang sama ya. Beratnya mengandung dan melahirkan seakan lupa seketika saat melihat si kecil untuk pertama kalinya. Walaupun tentu saja, PR kita dalam membesarkannya masih sangat panjang.
  7. Apa yang saya lakukan BERMANFAAT BAGI ORANG LAIN. Ketika ada yg bilang ke saya bahwa apa yg pernah saya lakuin ke orang itu sangat membantunya, atau ketika ada yg menghargai usaha yg saya lakukan, rasanya bersyukur banget. Tidak sia-sia saya ada di dunia ini (halah).
  8. FOTO ALA-ALA. Jujur saja, saya bukan orang yg tertarik belajar fotografi. Selama ini saat saya traveling, saya cuma foto-foto pakai kamera digital Canon G15 yg udah lumayan banget bisa diatur2 ISO dan fokusnya. Udah gitu ringan sehingga gampang dibawa ke mana-mana. Jadi buat saya kamera saya sekarang ini sudah lebih dari cukup untuk mendokumentasikan perjalanan saya. Tapi saya sering juga mengabadikan momen-momen paling penting dalam hidup saya dengan berfoto ala-ala dan minta tolong temen yg memang jago fotografi. Seperti waktu wisuda S2 saya kemarin. Kan sayang saya udah nyewa hakama mahal-mahal tapi ga difoto dengan kamera bagus hehehe. Oia, sejak tahun 2011 saya sudah rutin menyimpan semua foto perjalanan saya dengan rapi dalam satu folder per bulan atau per event, lho 🙂
  9. Nomor 9 dan 10 ini sebenernya sesuatu yg belum pernah terjadi dalam hidup saya, tapi saya udah bisa ngebayangin kalo saya pasti akan bahagia banget seandainya mimpi saya ini menjadi kenyatan. HARRY POTTER TOUR. Lagi-lagi berhubungan sama si HP >< Salah satu bucket list saya adalah ke Inggris dan liburan khusus lihat tempat-tempat syutingnya si HP, termasuk juga ke Warner Bros Studios di Leavesden. Sampai saat ini saya nggak tahu kapan mimpi ini akan terwujud, karena anak saya masih kecil banget, dan suami saya kerja kantoran. Pasti bakal susah nyari waktu libur yg cukup panjang plus harus nunggu si kecil sudah cukup umur untuk dibawa jalan-jaan. Tapi saya udah ngesave info-info yg berhubungan sama HP tour ini, seperti list tempat-tempatnya. Bahkan saya sudah ngelist mau beli souvenir apa aja di tempat-tempat itu berikut harganya. Jadi saya bisa mengira-ngira saya akan bawa uang berapa kalau ke sana. Freak banget ya 😛 haha.
  10. Meninggal dalam keadaan KHUSNUL KHOTIMAH. No need explanation, just action. Temen-temen sama2 mengamini doa ini yuk. Aamiin 🙂

Huft selesai jugaa. Ternyata menulis ini membuat saya jadi bisa merefleksikan lagi hidup saya akhir-akhir ini, dan menata ulang mimpi-mimpi saya. Susah-susah gampang juga yah nulisnya. Di antara list di atas, ada yg sama dengan temen-temen nggak?

Sampai jumpa di tantangan menulis Day 2!

Foto ala-ala waktu wisuda S2. Photo credit: Riska Ayu Purnamasari.


30 Day Writing Challenge

Halo semua.

Ceritanya di rumah saya baru pasang indihome, trial 3 bulan pertama gratis. Alhamdulillah internet jadi kenceng dan saya jadi semangat buat nulis lagi ^_^ Kemarin2 kalo internetan di laptop kan pakai modem. Mau buka wordpress nya aja udah loading dulu. Kalo mau cepet internetannya di HP yg pakai kuota, tapi ngetik di HP males soalnya kekecilan. Jadilah saya ga update-update ini blog (banyak excuse 😛 ).

Demi menandai kembalinya saya aktif ngeblog (semoga!), saya terinspirasi dari tulisan temen saya, Saskya, yaitu 30 day writing challenge, atau tantangan menulis selama 30 hari. According to Sasky, doi dapet list writing challenge ini di pinterest. Saya pun iseng coba-coba juga cari di pinterest. Ternyata tentang writing challenge ini sendiri sebenernya banyak jenis list-nya. Tapi setelah membandingkan sana-sini, akhirnya pilihan list saya jatuh ke list yg juga dipakai Sasky, karena saya lihat topiknya cukup objektif. Kalo yg lain-lain terlalu banyak ngebahas diri sendiri, kasian nanti yg baca emangnya ada yg mau kepoin saya gituh? Wkwkwk.. Jadi saya pilih list ini supaya yg baca jg bisa mengambil manfaat dari apa yg saya tulis. Aamiin 🙂

Ini list judul tulisannya:


Semoga saya bisa rutin nulisnya tiap hari, atau paling lambat per dua hari yah >< Mari berjuang!!!

We are Ready to Back on Track!

Di beberapa postingan terdahulu, saya sempat cerita bahwa saya dan suami punya youtube channel yang membahas halal tourism di Jepang. Long story short, sejak September 2015 lalu, karena kami merasa masih kurangnya kesadaran umat Muslim tentang pentingnya kehalalan suatu makanan, dan karena kami melihat bahwa Jepang masih merupakan tujuan wisata populer di kalangan umat Muslim, saya dan suami pun memulai youtube channel yang bernama Halaljapanlife (go check it out!). Alhamdulillah, sambutan pemirsa (caelaa) sangat baik ^_^ Senang rasanya informasi yang kami berikan di sana bisa bermanfaat untuk semua.

Bulan April 2016 lalu, Alhamdulillah, our youtube channel was featured on Majalah Cahaya Hati. Semoga dengan adanya artikel di majalah tersebut, semangat untuk selalu berusaha mencari makanan halal bisa menular ke temen-temen semua yg baca artikelnya ya 🙂

Dan tanpa disangka-sangka, hari ini kami mendapat email dari, sebuah website untuk memesan hotel yg Muslim-friendly. Dalam email tersebut, kami diberi tahu bahwa lagi-lagi kanal youtube kami di-feature di website mereka. Ini linknya. Ketika saya membuka link yang mereka berikan, saya terharu sekali melihat judulnya. “7 Youtube channels Every Muslim Traveler Should Subscribe To!” :’) Sungguh tidak menyangka bahwa hal sederhana yang kami lakukan diapresiasi begitu besar oleh orang lain :”) Dan yang lebih membuat saya terharu lagi, nomor 1 dalam list tersebut adalah Dina Tokio!!! Dan 5 kanal youtube lainnya juga sangat keren kereeenn!!! Apalahhh kami ini dibanding youtubers-youtubers ituuuu T_T

Kejutan hari ini seakan mengingatkan saya untuk tidak pernah berhenti berkarya dalam hal apa pun yang kita bisa, dan terutama untuk terus berusaha menebar manfaat bagi orang lain :”) Sejujurnya, dalam waktu dekat ini kami berencana mengaktifkan kembali kanal youtube kami. Sudah ada beberapa video yang kami siapkan, dan hanya tinggal menunggu ketersediaan kuota internet untuk meng-upload XD

Selain itu, guess what? Ada hal spesial lain yang sedang kami siapkan untuk temen-temen semua! Dijamin temen-temen bakal sukaaaa banget dan juga insya Allah bermanfaat yaa.. Bismillah..insha Allah we are ready to back on track again!!


Menanggapi Ajakan Minum-minum

Ajakan minum-minum atau nomikai rasanya adalah suatu keniscayaan yang akan kita hadapi ketika kita tinggal di Jepang. Nomikai memang tidak bisa dipisahkan dari budaya Jepang. Bagi orang Jepang, nomikai merupakan sarana untuk melepas lelah dan bergaul dengan leluasa. Hampir semua acara pertemuan disandingkan dengan nomikai, sebagai contoh: pesta akhir tahun, acara penyambutan murid baru di lab, acara kelulusan, acara perpisahan, dan bahkan acara santai semacam camp bersama teman lab pun kemungkinan besar akan ada acara nomikai malamnya. Contoh-contoh ini nyata dan berasal dari pengalaman saya sendiri, yang akan saya ceritakan lebih lengkap di bawah.

Menurut cerita yang saya dengar dari mereka yang pernah menghadiri nomikai, orang Jepang biasanya lebih ceria, terbuka, dan mudah bercanda jika mereka berada dalam keadaan sedikit mabuk. Itulah mengapa nomikai bagi mereka (orang Jepang) adalah cara untuk mingle dengan kolega-kolega mereka.

Lalu, bagaimana sikap kita sebagai seorang Muslim?

Hmm, memang sih membicarakan nomikai ini rasa-rasanya agak sensitif >_< Saya yakin pasti banyak di antara teman-teman yang sebetulnya merasa jengah jika harus kumpul-kumpul dengan mereka yang minum-minum. Tapi karena merasa nggak enak menolak ajakan teman lab, sensei, atau bos, jadi terpaksa datang. Padahal di hati ada perasaan risau dan nggak nyaman. Tidak apa-apa, jika teman-teman sudah merasa risau, itu pertanda bagus, artinya solat teman-teman tidak sia-sia 🙂 Karena solatlah yang mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, dan solat juga yang membedakan orang muslim dan orang kafir.

Disebutkan dalam sebuah riwayat:

“Barang siapa yang menjaga sholat maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan di Hari Kiamat, dan barang siapa yang tidak menjaga sholatnya maka dia tidak akan mendapatkan cahaya, petunjuk dan keselamatan, dan pada Hari Kiamat dia akan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf.”(Diriwayatkan oleh Ahmad, Ath-Thabarani dan Ibnu Hibban dengan sanad yang baik, jayyid.)

Perasaan risau ketika merasa sudah melakukan dosa itulah ‘cahaya’ yang Allah janjikan 🙂

Mengenai bagaimana hukumnya dalam Islam, karena saya bukan ahli fiqh, pertama-tama, silakan baca di tautan berikut ini mulai halaman 11.

Dari artikel di atas, sudah jelas yaaa dapat disimpulkan bahwa haram hukumnya bagi seorang muslim menghadiri acara di mana disediakan minuman keras di acara tsb.

Tips menghindarinya

Saya sendiri pun tak luput dari undangan menghadiri acara serupa. Dari awal saya datang ke Jepang, saya sudah diajak nomikai sebagai penyambutan mahasiswa baru. Sebenarnya saat pertama saya datang ke sini, saya belum pernah baca artikel di atas. Jadi saat itu saya cuma bertanya-tanya ke senior yang sudah lebih dulu berada di Jepang, bagaimana sikap mereka saat diajak nomikai. Di antara  yang saya tanya ada yang tetap datang namun tidak minum, ada pula yang bilang datang di awal tapi  pas mereka mulai minum-minum pamit duluan.

Saya sendiri saat ajakan pertama itu, saya menolak datang dengan cara yang halus, begini caranya. Jadi sebelum menentukan tanggal, panitia acara meminta calon peserta acara untuk mengisi voting online waktu-waktu di mana kami kosong. Simpel saja, dari hasil voting online tersebut, akan dipilih waktu yang paling banyak pemilihnya. Ketika itu, saya bilang ke panitianya, “Karena saya nggak bisa minum-minum, tidak perlu menunggu voting dari saya.” Tapi saya TIDAK bilang “Saya akan ngikut hasil terbanyak.” Kemudian ketika hasil voting telah keluar, saya bilang “Wah mohon maaf saya sudah ada acara pada waktu tersebut” dan lalu saya mencari-cari hal yang bisa saya lakukan pada waktu tsb supaya saya nggak bohong 😀 (Boleh disontek lho cara ini 😀 )

Saya memutuskan untuk speak up

Lambat laun mereka tidak pernah lagi mengajak saya ke acara nomikai. Saya pun mulai merasa tenang 😀 Sampai suatu ketika, lab saya mengadakan acara camp rutin setiap musim panas. Di acara camp ini, semua anggota lab saya plus sensei akan menginap di cottage atau ryokan di pedesaan Jepang. Akan ada acara belajar bersama, diskusi, dan juga acara santai-santai seperti main kembang api dan jalan-jalan di sekitar ryokan. Saya sendiri sebenarnya sangat menikmati acara camp ini, karena saya jadi ada alasan untuk jalan-jalan ke daerah Jepang yang lebih tenang dan melihat pemandangan pengunungan, sawah, sungai, maupun pedesaan yang jarang bisa saya lihat sehari-hari. Dan juga kegiatan diskusi menjadi tidak bosan dengan adanya suasana baru.

Camp ini berlangsung selama 3 hari 2 malam dan jadwal acara baru dibagikan saat hari H. Siang hari selalu digunakan untuk belajar, dan malam hari selalu digunakan untuk acara santai. Malam pertama jadwalnya adalah main kembang api, dan malam kedua jadwalnya adalah…bisa ditebak, nomikai.

Nah loh, bingung kan saya. Kalau saya lagi nggak berada di tempat yang sama dengan mereka saya sih bisa menghindar dengan bilang ada acara lain seperti yang udah saya ceritain di atas. Tapi ini keadaannya saya kan berada di atap yang sama dengan mereka, mau menghindar ke mana saya? >_<

Saat itulah saya mendapat artikel yang saya berikan link-nya di atas. Alhamdulillah ya artikel itu datang di saat yang tepat. Setelah membaca artikel itu, saya pikir sudah tidak perlu lagi saya mencari-cari alasan untuk menghindari acara nomikai. Just ‘simply’ because I am a Muslim, I don’t attend an event where alcoholic drinks are served. Saya benar-benar merasa sudah saatnya saya speak up sekaligus memberikan pernyataan jelas kepada teman-teman lab saya, orang seperti apa saya.

Akhirnya sebelum malam di mana nomikai itu tiba, saya bilang ke teman-teman lab saya, “Mohon maaf ya saya nggak ikut kumpul-kumpul malam ini. Sebetulnya, saya tidak boleh menghadiri acara yang ada minuman kerasnya.” Tentu saja mengumpulkan nyali untuk bilang ini tidak mudah, namun jawaban teman-teman lab benar-benar membuat saya lega. Ternyata mereka menanggapi pernyataan saya simpel aja, “Oh ya? Wah maaf banget ya kami nggak tau. Terus kamu mau ngapain sekarang?” Saya bilang saja, “Nggak apa-apa kok, saya di kamar aja.” Lalu mereka bilang lagi, “Oh ya udah kalo gitu. Tapi kamu nggak apa-apa sendirian? Selamat tidur ya.”

Udah. Beres.

Ternyata sesimpel itu aja yang harus kita lalui untuk menghindari acara nomikai. Tinggal bilang kita nggak bisa hadir, kemudian tinggal masuk telinga kanan keluar telinga kiri apa pun tanggapan mereka >_<

Beberapa hal yang menjadi penguat saya

Mungkin banyak di antara temen-temen yang baca ini yang bilang saya berani banget ngomong gitu di depan semuanya. Pertama-tama, tentu saja alhamdulillah, laa haulaa wa laa kuwwata illa billah. Hanya Allah pemberi kekuatan. Dan sebenernya sebelum saya bilang itu saya pun deg-degannya ampun-ampunan kok >_< Banyak yang saya pikirin sebelum akhirnya saya memutuskan udahlah biarin aja dianggap aneh, pokoknya saya nggak mau dateng ke acara nomikai dan saya harus bilang itu. Mungkin alasan-alasan di bawah ini bisa dijadikan inspirasi oleh teman-teman semua.

Satu. Kita mulai dari yang sederhana dulu. Jika kita menghadiri nomikai, kita harus patungan untuk konsumsinya. Patungan ini biasanya berkisar antara 3000-5000 yen. Dan bisa ditebak ke mana sebagian besar uang itu dipakai? Ya beli minuman keras. Bayangin kita bayar 3000 yen tapi cuma bisa minum jus padahal jus itu bisa dibeli di mini market harganya 100 yen-an sekotak. Rugi banget kan >_<

Lagipula disebutkan juga dalam sebuah riwayat

“Rasulullah s.a.w. melaknat tentang arak, sepuluh golongan: (1) yang memerasnya, (2) yang minta diperaskannya, (3) yang meminumnya, (4) yang membawanya, (5) yang minta dihantarinya, (6) yang menuangkannya, (7) yang menjualnya, (8) yang makan harganya, (9) yang membelinya, (10) yang minta dibelikannya.” (Riwayat Tarmizi dan Ibnu Majah)

(Baca selengkapnya di:

Jadi, sudah jelas juga jangan sampai uang kita digunakan untuk membeli minuman keras. Pokoknya jangan deket-deket dan jangan berhubungan deehh sama minuman keras >_<

Dua. Di akhirat nanti kita akan mempertanggungjawabkan amal perbuatan kita di dunia SENDIRIAN. Ya, sendirian. Nggak akan ada temen-temen lab dan sensei kita yang akan belain kita karena udah ngajak kita ke acara nomikai >_< Impact dari ketidakikutan saya dalam nomikai ini sih nyata banget, saya dan temen-temen lab saya jadi nggak terlalu dekat dan nggak kayak temen banget. Tapi ya sudahlah, saya mengambil resiko nggak terlalu deket dan nggak punya temen daripada saya harus mendapat dosa yang sama seperti minum-minum (dengan menghadiri acara nomikai) hueee takut bangeett. Yang pasti, kita masih bisa kok berbuat baik sama temen-temen lab. Insya Allah kita ga akan dicap buruk hanya karena nggak ikut nomikai 🙂 Kalo dicap aneh sih…sudah biasa hehehe

Sikap positif orang Jepang

Alhamdulillah bangeettt setelah saya bilang kalo saya sebenernya nggak bisa menghadiri acara nomikai, ternyata temen-temen lab dan sensei saya sangat-sangat menerima kok. Saya tidak tahu apakah saya bisa men-generalisasi atau nggak tapi orang Jepang itu sangat toleran terhadap kepercayaan yang kita anut. Kalau kita sudah bilang saya nggak makan ini atau itu, mereka nggak akan mengganggu gugat. Kemudian mereka akan konsisten membantu kita menghindari apa yang nggak bisa kita makan itu. Ini yang membuat saya benar-benar kagum sama orang Jepang. Kalau sudah mengetahui suatu peraturan, mereka pasti akan menjalaninya.

Berikut ini, saya mau cerita pengalaman saya lagi setelah saya speak up.

Tahun ini tibalah juga saatnya acara perpisahan saya dengan lab saya, karena masa studi saya telah selesai. Acara perpisahan ini juga rutin tiap tahun dan tahun-tahun lalu selalu diadakan di izakaya a.k.a bar-nya orang Jepang. Tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah ikut, tapi tahun ini tidak mungkin kan saya tidak ikut padahal saya yang diperpisahkan?

Akhirnya saya coba komunikasikan kebimbangan saya tentang acara perpisahan ini ke salah satu lab member saya. Tersebutlah seorang temen cewek berinisial W-san, orang Jepang. Saya bilang, “W-san, saya kan ga bisa ikutan acara nomikai. Kalo nanti perpisahan ada acara nomikainya, mohon maaf lagi ya saya tidak bisa ikut. Tapi saya tetep pengen ada acara perpisahan sama temen-temen lab. Apa di waktu lain saya masak-masak aja trus kita makan-makan di lab?”

Ternyata oh ternyata, alhamdulillah W-san nya bilang gini, “Oh tenang aja Nadine-san, kita ga akan ngadain di izakaya kok. Malah kita mau ngadain di Ali’s kebab (salah satu restoran halal di Tsukuba). Gimana?”

Jelas saja saya sangat berterima kasih, tapi FYI, tidak semua resto halal bebas alkohol, dan di Ali’s kebab ini tetap disediakan alkohol walaupun resto halal. Jadi saya bilang ke W-san lagi, “Wah iya terima kasih banget kalo mau ngadain di Ali’s kebab. Tapi nanti kalau sudah mau mulai acara minum-minumnya saya pulang duluan ya.”

Dan W-san nya malah bilang lagi, “Oh ga apa2 kok, Nadine-san. Nanti ga akan ada minum-minum.”

Dan benar saja, alhamdulillah acara perpisahan untuk saya (dan mahasiswa tahun terakhir lainnya) telah terlaksana bulan Februari lalu, dan berhasil dilalui tanpa ada acara minum-minum.

Begitulah orang Jepang, mereka sangat mudah untuk patuh terhadap peraturan. Bahkan dalam kondisi acara perpisahan kemarin ini, mereka semua mau mengalah terhadap kebutuhan saya atau hal yang saya anut meskipun saya hanya satu orang di antara mereka >_<

Yang penting adalah komunikasi bukan kompromi

Jadi ternyata, setelah saya memberanikan diri menolak ajakan-ajakan nomikai dari mereka, saya jadi menyadari bahwa ketakutan atau perasaan nggak enak nolak itu murni hanya asumsi kita saja.

Sebagai muslim kan kita memiliki peraturan yang tidak bisa dikompromikan, namun, jika kita sudah berusaha meng-komunikasikan dengan baik, insya Allah mereka pasti akan menerima dan bahkan membantu kita mematuhi peraturan itu lho.

Tetapi ketika sedang berusaha mengkomunikasikan, usahakan ada alternatif dari kita, sehingga menunjukkan bahwa kita tak hanya ingin dimengerti, tapi yuk sama-sama bikin acara yang saya bisa ikut dan mereka pun bisa menikmati. Misalnya kasus saya tadi ketika menawarkan untuk memasak di acara perpisahan. Jika sudah demikian, mereka pasti juga akan melihat usaha kita untuk mendekat ke mereka.

Semoga temen-temen semua juga diberikan kemudahan dan kemantapan hati untuk bisa selalu menjalankan syariat-Nya meskipun sedang menjadi kaum minoritas, ya. Aamiin 🙂