Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 2.2

Halo! Kembali lagi dengan saya di sini. Sesuai judulnya, di post ini saya akan melanjutkan cerita dari post 2 bulan sebelum ini (ya! nggak nyangka sudah 2 bulan sejak saya menuliskan cerita tentang ini +_+). Buat yang belum baca part 2.1-nya, bisa lihat di sini ya.

Setelah melewati ujian dan alhamdulillah dinyatakan lulus, maka kami tinggal menunggu tahun ajaran baru pada bulan April tahun berikutnya. Selama 6 bulan ini, saya (dan mahasiswa beasiswa MEXT lainnya) hanya fokus mempersiapkan penelitian yang akan dilakukan ketika memulai kuliah S2 nanti.

Kemudian, tahun ajaran baru pun dimulai. Karena satu jurusan, saya sering menanyakan S mata kuliah apa saja yang akan dia ambil tiap semester. Saya ingin ikut mengambil mata kuliah tersebut supaya ada teman kuliah dan ada tempat bertanya seputar tugas dan ujian. Beberapa mata kuliah yang dia ambil ada yang tidak terlalu dekat keilmuannya dengan lab saya, maka tidak saya ambil. Teman-teman juga kadang seperti itu kan ya, mengambil mata kuliah karena ada teman. Hehehe :D.

Jujur saja di saat benar-benar mulai kuliah ini, saya sangat sibuk tidak hanya dengan jadwal kuliah dan tugas-tugasnya, namun juga dengan penelitian yang ternyata tidak semudah itu. Banyak sekali paper yang harus saya baca agar mendapat referensi serta mengetahui penelitian mana yang sudah pernah dilakukan agar saya tidak dituduh mem-plagiat paper orang lain.

Berbeda dengan teman-teman yang jurusannya sebagian besar banyak kegiatan lab yang sifatnya percobaan, kegiatan lab saya sebagian besar adalah pemrograman. Hari-hari saya sebagian besar BANGET dihabiskan di depan laptop, dan sejujurnya itu agak sangat membosankan bagi saya. Saya tahu ada orang yang sangat menikmati ngoding,ย maka ia bisa lupa waktu jika sedang ngoding, debugging, extracting data, lalu menganalisis hasilnya. Sangat disayangkan saya bukanlah orang seperti itu, dan di saat inilah saya mulai menyadari sepertinya salah pilih jurusan dan terutama salah pilih lab. Padahal di saat S2 seperti ini, sangatlah krusial untuk tidak salah pilih jurusan maupun bidang keilmuan, karena keilmuan inilah yang akan kita pegang terus ke depannya saat melanjutkan karir +_+

Kemudian, untuk hal yang sifatnya penelitian yang belum dipublikasikan seperti ini, kami tidak boleh membicarakan penilitian kepada orang di luar lab. Alhasil ketika saya kebingungan, saya hanya bisa berdiskusi dengan sensei (profesor supervisor penelitian) saya atau teman satu lab. Nah mengenai diskusi ini ternyata jadi masalah yang cukup membebani saya di masa S2 saya.

Jadi, teman satu lab saya sebagian besar BANGET tidak dapat berbahasa Inggris. Sementara, saya yang memang saat menjalani S2 ini sudah cukup lancar berbahasa Jepang level SEHARI-HARI, selalu berusaha berbicara menggunakan bahasa Jepangย  setiap mengobrol dengan teman lab. Oleh sebab itu, teman-teman lab saya berasumsi bahwa saya sudah dapat berbahasa Jepang selayaknya orang Jepang sehingga mereka tidak berusaha berbicara menggunakan bahasa Inggris dengan saya sama sekali, begitu pun ketika kami mendiskusikan penelitian. Padahal, bahasa Jepang untuk sehari-hari itu sangat berbeda level dengan bahasa Jepang yang terkait masalah penelitian. Banyak sekali technical term yang tidak saya pahami yang berhubungan dengan penelitian kami.ย  Akibatnya, sulit sekali bagi saya untuk berdiskusi atau meminta tolong teman lab mengajari saya di saat ada yang tidak saya pahami.

Bagaimana dengan sensei saya? Tentu sensei saya cukup lancar berbahasa Inggris (ya, saya bilang ‘cukup’ karena sensei saya tidak selancar itu bahasa Inggrisnya). Namun ternyata, berdiskusi masalah penilitian dengan sensei juga tidak lebih mudah daripada dengan teman lab ๐Ÿ˜ฆ Entah mengapa, saya selalu kesulitan menyampaikan ide-ide maupun kesulitan saya kepada sensei. Sehingga tidak jarang setelah berdiskusi dengan sensei, malah timbul pertanyaan yang lebih banyak daripada sebelum berdiskusi. Padahal harusnya sensei lah orang pertama dan utama yang bisa kita curhatin masalah penelitian ini. Turned out that’s not always the case.

Lalu, kepada siapa kah saya bisa mencari jawaban ketika sedang kesulitan masalah penelitian? Ya, pasti teman-teman sudah bisa menebak. Kepada S lah akhirnya saya bertanya dan berdiskusi. Tak jarang setelah saya berdiskusi dengan sensei dan malah tambah bingung, saya diskusi dengan S masalah yang sama persis dan S dengan mudahnya memberikan solusi atas permasalahan saya.

S ini tidak pernah menolak kalau saya meminta waktunya untuk berdiskusi. Dan saat berdiskusi dia juga benar-benar mengajari sampai saya paham dan sampai selesai permasalahan yang saya tanyakan.

Meskipun dengan tertatih-tatih, akhirnya berhasil juga saya menyelesaikan pendidikan S2 serta penelitian saya. Tibalah waktu sidang penelitian saya (dan juga S) pada akhir bulan Januari 2016. Saya pun memberi tahu teman-teman Indonesia maupun internasional termasuk S jadwal sidang saya secara sekilas saja karena saya tidak berharap ada yang punya waktu luang untuk datang. Tidak saya sangka, di antara sekian banyak teman yang saya beri tahu, S-lah satu-satunya yang datang menonton sidang saya.

Mulai dari belajar untuk ujian masuk universitas, tugas kuliah, permasalahan terkait penelitian, semua saya tanyakan ke S. Bisa dibilang saya tidak tahu bagaimana nasib S2 saya kalau saya tidak bertemu dengan S. But indeed, everyone comes in our life for a reason, right?

*****

PS: Sejak lulus pada Maret 2016 lalu hingga saat ini, S masih bekerja di salah satu perusahaan IT di Jepang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s