Menonton Fantastic Beasts The Crimes of Grindelwald di Bioskop 4Dx3D

Sebagai penggemar berat Harry Potter, tentunya film terbaru produksi J.K. Rowling ini sudah saya tunggu-tunggu sejak tanggal penayangan perdananya diumumkan. Sekitar seminggu sebelum tanggal yang diumumkan tersebut (16 November 2018), saya mendapat info dari suami bahwa pada tanggal 14 November, bioskop-bioskop di kota tempat kami tinggal sudah akan menayangkannya untuk pertama kalinya. Saya juga sebenarnya agak bingung kenapa bisa ditayangkan dua hari lebih awal dari tanggal resmi yang tertera di sosial media Fantastic Beasts (FB), tapi kami akhirnya memutuskan menonton pada tanggal 14 November tersebut. Alhamdulillah ada yang bisa menjaga anak di rumah selama kami pergi 🙂

Kebetulan suami punya satu tiket gratis menonton di bioskop CGV. Kami pun berencana menonton di sana. Namun sayangnya di CGV sini belum ada bioskop 3d maupun 4Dx3D. Maka kami hanya menonton di bioskop 2D.

Singkat cerita, tiga hari setelahnya saya ada keperluan ke Jogja bersama anak. Suami tidak ikut. Di Jogja saya menginap di rumah orang tua saya. Nah, di Jogja ada bioskop 4Dx3D, dan saya pun tergugah untuk menonton kembali. Kebetulan saya belum pernah menonton di bioskop 4Dx3D, dan setelah saya pikir-pikir, tidak ada film lain yang ingin saya tonton dengan efek 4Dx3D ini selain film FB. Akhirnya saya memutuskan untuk nonton sekali lagi, dan kali ini di bioskop 4Dx3D.

Saya memesan tiket menggunakan aplikasi. Karena menonton sendirian dan memesan tiket cukup awal, saya bisa mendapat tiket yang cukup di atas dan tengah. Setelah memesan tiket menggunakan aplikasi, kita tinggal datang ke bioskop lalu mencetak sendiri tiket kita di mesin self-ticketing. Oh ya, tiket bioskop 4Dx3D ini di Jogja dibanderol dengan harga Rp 80.000,00 untuk hari Senin, dan Rp 90.000,00 untuk hari lainnya.

imageedit_1_6847241479

 

Setelah pintu teater dibuka, kami dipersilakan mengambil kacamata, dan seperti ini tata tempat duduk di dalam teater 4Dx3D-nya.

imageedit_4_7342959202

imageedit_6_4486363220

Kursi saya di G8 (kursi A di yang paling dekat dengan layar), ketinggian pas serta posisi tengah. Di layar sedang ditayangkan trailer film yang akan datang.

Teater saat itu lumayan penuh karena saya menonton di hari Senin (yang harga tiketnya lebih murah) dan besoknya, hari Selasa, merupakan tanggal merah. Saya perhatikan banyak penonton yang sepertinya baru pulang kerja atau pun mahasiswa-mahasiswa yang baru pulang kuliah langsung ke bioskop.

Saya pun iseng-iseng mengobrol dengan penonton di sebelah saya. Saya bertanya apakah mereka pernah menonton di 4Dx3D juga sebelumnya, karena saya ingin tahu seberapa parah efek guncangan yang disajikan. Ternyata mereka pun baru pertama akan menonton di teater 4Dx3D sama seperti saya.

Tidak lama kemudian, lampu di dalam teater dipadamkan dan di layar diputar beberapa trailer film yang akan tayang di bioskop. Setelah beberapa trailer selesai ditayangkan, ditampilkan peraturan-peraturan menonton di bioskop seperti biasa, lalu setelah itu ada yang istimewa.

Apakah dia…

Ternyata penonton diberikan simulasi 4Dx3D dulu sebelum film benar-benar ditayangkan. Di simulasi singkat ini, kami jadi bisa tahu separah apa guncangan yang mungkin terjadi, serta efek-efek lain yang ditawarkan. Saya pun merasa lega karena saya jadi bisa siap-siap atau berekspektasi terhadap efek dari film sebenarnya.

Dan film pun dimulai. Selain merasa seperti benar-benar berada di lokasi film layaknya menonton di teater 3D, di teater 4D ini kami juga serasa ikut bergerak dengan tokoh-tokoh di filmnya. Sebagai contoh, saat kamera menyorot pemandangan dari atas, lalu bergerak dari atas ke bawah, kursi juga bergerak memberikan efek serupa sehingga penonton juga merasa seakan-akan terbang. Selain itu, saat kamera bergerak miring atau sang aktor terjatuh dari ketinggian, maka penonton pun merasakan yang sama. Bahkan botol minum yang saya taruh di tempat minuman di lengan kursi sampai hampir jatuh karena guncangannya.

Selain itu tentu saja ada efek lain, seperti cahaya, angin, dan… ah lebih baik ditonton sendiri saja supaya ada sensasi kagetnya. Kalau saya beri tahu semua sekarang, nanti tidak seru lagi 🙂

Nah, mengingat durasi film yang kebanyakan di antara satu setengah hingga dua jam, maka jika kalian memutuskan menonton film di teater 4Dx3D, pastikan kalian tidak punya motion sickness yang parah ya, karena menurut saya efeknya lumayan terasa walaupun tidak separah wahana-wahana ekstrim di taman bermain. Untuk ibu hamil, hmm sebetulnya tidak ada peringatan tertulis bahwa ibu hamil dilarang menonton di teater 4Dx3D (mohon dibetulkan jika saya salah), tapi kalau saya pribadi sepertinya lebih tidak dulu, karena seringan-ringannya, ibu-ibu bisa saja muntah atau pusing. Bersabar saja dulu ya, ibu-ibu 🙂

Apakah teater 4Dx3D ini worth the splurge? Menurut saya menonton di 4Dx3D ini lebih berfungsi sebagai refreshing daripada menikmati cerita dari filmnya sendiri. Jika saya menonton film FB ini untuk pertama kalinya di 4Dx3D, bisa jadi ada detail cerita atau film yang terlewat oleh saya. Karena kebetulan ini adalah kedua kalinya saya menonton film yang sama, maka kali ini saya lebih fokus di menikmati efeknya daripada di cerita filmnya sendiri. Lalu, untuk film lain yang tidak terlalu saya gemari seperti layaknya film FB ini, sepertinya 3D atau bahkan 2D saja sudah cukup bagi saya. Dan, kalau pun di lain waktu saya menonton di 4Dx3D untuk film lain lagi, saya rasa saya sudah dapat menduga efek apa yang akan terjadi untuk adegan-adegan yang ditampilkan, maka efek kagetnya sudah berbeda dengan saat menonton di 4Dx3D untuk pertama kalinya.

Nah, apakah teman-teman tertarik menonton film di 4Dx3D? Kalau iya, film apa yang menjadi wish list teman-teman untuk bisa ditonton dengan efek 4Dx3D? Lalu, apakah teman-teman penggemar berat Harry Potter seperti saya? Kalau iya, bagaimana tanggapan teman-teman untuk cerita FB di film keduanya ini? Coba ceritakan di kolom komentar di bawah ya! Eh tapi kalau teman-teman ada yang takut baca spoiler, lebih baik jangan baca komentar dulu sebelum menonton filmnya.

Sampai jumpa di post selanjutnya!

Advertisements

Living in Japan: Dealing with Stereotype Part 2.2

Halo! Kembali lagi dengan saya di sini. Sesuai judulnya, di post ini saya akan melanjutkan cerita dari post 2 bulan sebelum ini (ya! nggak nyangka sudah 2 bulan sejak saya menuliskan cerita tentang ini +_+). Buat yang belum baca part 2.1-nya, bisa lihat di sini ya.

Setelah melewati ujian dan alhamdulillah dinyatakan lulus, maka kami tinggal menunggu tahun ajaran baru pada bulan April tahun berikutnya. Selama 6 bulan ini, saya (dan mahasiswa beasiswa MEXT lainnya) hanya fokus mempersiapkan penelitian yang akan dilakukan ketika memulai kuliah S2 nanti.

Kemudian, tahun ajaran baru pun dimulai. Karena satu jurusan, saya sering menanyakan S mata kuliah apa saja yang akan dia ambil tiap semester. Saya ingin ikut mengambil mata kuliah tersebut supaya ada teman kuliah dan ada tempat bertanya seputar tugas dan ujian. Beberapa mata kuliah yang dia ambil ada yang tidak terlalu dekat keilmuannya dengan lab saya, maka tidak saya ambil. Teman-teman juga kadang seperti itu kan ya, mengambil mata kuliah karena ada teman. Hehehe :D.

Jujur saja di saat benar-benar mulai kuliah ini, saya sangat sibuk tidak hanya dengan jadwal kuliah dan tugas-tugasnya, namun juga dengan penelitian yang ternyata tidak semudah itu. Banyak sekali paper yang harus saya baca agar mendapat referensi serta mengetahui penelitian mana yang sudah pernah dilakukan agar saya tidak dituduh mem-plagiat paper orang lain.

Berbeda dengan teman-teman yang jurusannya sebagian besar banyak kegiatan lab yang sifatnya percobaan, kegiatan lab saya sebagian besar adalah pemrograman. Hari-hari saya sebagian besar BANGET dihabiskan di depan laptop, dan sejujurnya itu agak sangat membosankan bagi saya. Saya tahu ada orang yang sangat menikmati ngoding, maka ia bisa lupa waktu jika sedang ngoding, debugging, extracting data, lalu menganalisis hasilnya. Sangat disayangkan saya bukanlah orang seperti itu, dan di saat inilah saya mulai menyadari sepertinya salah pilih jurusan dan terutama salah pilih lab. Padahal di saat S2 seperti ini, sangatlah krusial untuk tidak salah pilih jurusan maupun bidang keilmuan, karena keilmuan inilah yang akan kita pegang terus ke depannya saat melanjutkan karir +_+

Kemudian, untuk hal yang sifatnya penelitian yang belum dipublikasikan seperti ini, kami tidak boleh membicarakan penilitian kepada orang di luar lab. Alhasil ketika saya kebingungan, saya hanya bisa berdiskusi dengan sensei (profesor supervisor penelitian) saya atau teman satu lab. Nah mengenai diskusi ini ternyata jadi masalah yang cukup membebani saya di masa S2 saya.

Jadi, teman satu lab saya sebagian besar BANGET tidak dapat berbahasa Inggris. Sementara, saya yang memang saat menjalani S2 ini sudah cukup lancar berbahasa Jepang level SEHARI-HARI, selalu berusaha berbicara menggunakan bahasa Jepang  setiap mengobrol dengan teman lab. Oleh sebab itu, teman-teman lab saya berasumsi bahwa saya sudah dapat berbahasa Jepang selayaknya orang Jepang sehingga mereka tidak berusaha berbicara menggunakan bahasa Inggris dengan saya sama sekali, begitu pun ketika kami mendiskusikan penelitian. Padahal, bahasa Jepang untuk sehari-hari itu sangat berbeda level dengan bahasa Jepang yang terkait masalah penelitian. Banyak sekali technical term yang tidak saya pahami yang berhubungan dengan penelitian kami.  Akibatnya, sulit sekali bagi saya untuk berdiskusi atau meminta tolong teman lab mengajari saya di saat ada yang tidak saya pahami.

Bagaimana dengan sensei saya? Tentu sensei saya cukup lancar berbahasa Inggris (ya, saya bilang ‘cukup’ karena sensei saya tidak selancar itu bahasa Inggrisnya). Namun ternyata, berdiskusi masalah penilitian dengan sensei juga tidak lebih mudah daripada dengan teman lab 😦 Entah mengapa, saya selalu kesulitan menyampaikan ide-ide maupun kesulitan saya kepada sensei. Sehingga tidak jarang setelah berdiskusi dengan sensei, malah timbul pertanyaan yang lebih banyak daripada sebelum berdiskusi. Padahal harusnya sensei lah orang pertama dan utama yang bisa kita curhatin masalah penelitian ini. Turned out that’s not always the case.

Lalu, kepada siapa kah saya bisa mencari jawaban ketika sedang kesulitan masalah penelitian? Ya, pasti teman-teman sudah bisa menebak. Kepada S lah akhirnya saya bertanya dan berdiskusi. Tak jarang setelah saya berdiskusi dengan sensei dan malah tambah bingung, saya diskusi dengan S masalah yang sama persis dan S dengan mudahnya memberikan solusi atas permasalahan saya.

S ini tidak pernah menolak kalau saya meminta waktunya untuk berdiskusi. Dan saat berdiskusi dia juga benar-benar mengajari sampai saya paham dan sampai selesai permasalahan yang saya tanyakan.

Meskipun dengan tertatih-tatih, akhirnya berhasil juga saya menyelesaikan pendidikan S2 serta penelitian saya. Tibalah waktu sidang penelitian saya (dan juga S) pada akhir bulan Januari 2016. Saya pun memberi tahu teman-teman Indonesia maupun internasional termasuk S jadwal sidang saya secara sekilas saja karena saya tidak berharap ada yang punya waktu luang untuk datang. Tidak saya sangka, di antara sekian banyak teman yang saya beri tahu, S-lah satu-satunya yang datang menonton sidang saya.

Mulai dari belajar untuk ujian masuk universitas, tugas kuliah, permasalahan terkait penelitian, semua saya tanyakan ke S. Bisa dibilang saya tidak tahu bagaimana nasib S2 saya kalau saya tidak bertemu dengan S. But indeed, everyone comes in our life for a reason, right?

*****

PS: Sejak lulus pada Maret 2016 lalu hingga saat ini, S masih bekerja di salah satu perusahaan IT di Jepang.

Tes 17 Jam Pemakaian Foundation Estee Lauder Double Wear Stay in Place

Halo, semuanya!

Dari judulnya, teman-teman yang follow blog ini pasti sudah bisa menebak bahwa postingan kali ini akan membicarakan hal yang sangat-sangat berbeda dengan yang biasa saya tulis di sini. Bagi teman-teman beauty lovers yang sampai di blog ini karena ingin membaca review tentang foundation ini, selamat datang dan salam kenal!

Mungkin untuk perkenalan sedikit, saya sendiri adalah seorang beauty enthusiast yang sebenarnya sudah cukup lama hobi mencoba-coba beauty products, tapi baru kali ini saya benar-benar ingin menuliskan review sebuah produk seperti ini. Ini adalah kali pertama saya menulis post dengan tema seperti ini jadi mohon maaf jika ada yang kurang jelas dalam penjabarannya nanti, ya. Baiklah tanpa berlama-lama lagi, mari kita mulai saja reviewnya! ^^

Intro

Seperti yang mungkin sudah teman-teman ketahui, foundation (mulai sekarang disebut foundie saja ya) Estee Lauder adalah salah satu foundie high end paling tersohor di kalangan beauty guru. Namun, disebabkan harganya yang memang tidak terjangkau, saya selalu maju mundur untuk membelinya, meskipun dia telah ada di wish list saya sangat lama.

Saya sendiri, selama sekitar 4 tahunan ini lumayan suka mencoba-coba berbagai produk kecantikan, tidak pernah memiliki produk high end apa pun. Semua produk yang saya pakai adalah drugstore atau lokal. Namun saya tahu, jika suatu saat ini saya akan pada akhirnya membeli produk high end, produk pertama yang saya beli akan berupa foundie. Karena menurut saya, make up akan terlihat bagus jika base-nya atau dasarnya lah yang bagus. Oleh sebab itu, foundie estee lauder ini memang ada di no.1 wish list saya.

Hingga akhirnya pada bulan Juni 2018 lalu, ceritanya tabungan saya sudah terkumpul alhamdulillah, saya pun mulai browsing shade foundie estee ini yang cocok untuk warna kulit saya. Dari hasil browsing ini, sebenarnya saya masih ragu mau ambil shade yang mana. Sementara, saya memang berniat beli online saja karena harganya yang jauh lebih murah daripada di konter resmi (maaf ya, estee). Ada juga online shope yang menjual versi shared-nya, namun saya merasa harganya tidak worth it dibanding beli langsung full sized (karena saya sudah yakin saya mau beli full sized jadi tidak merasa perlu beli shared). Alhasil saya pun belum jadi beli online.

Hingga pada bulan Juli 2018, saya ada keperluan ke Singapura, maka saya pun memutuskan membeli di duty free bandara Changi saja sekalian swatch shade-nya langsung di kulit saya. Akhirnya, inilah shade tercocok bagi kulit saya, yaitu Estee Lauder Double Wear Stay in Place SPF 10 2N2 Buff.

Kondisi Wajah Saya

Sebelum kita lanjut ke review pemakaian, ada baiknya saya jelaskan juga tipe kulit saya. Kulit saya termasuk oily-combination, berminyak di bagian T-zone namun tidak terlalu parah, kering sekali di bawah mata, dan normal di bagian lain. Bagian yang kering di bagian bawah mata ini sering patchy jika foundienya tidak cocok, dan pasti creasing kalau pakai concealer terlalu banyak, jadi memang agak tricky.

Saya memiliki jerawat hormonal, yaitu PASTI berjerawat satu dua biji saat lagi ‘dapet’. Jadi di wajah saya banyak bekas jerawat yang menghitam. Namun untuk tekstur cenderung rata, tidak bopeng-bopeng, dan tidak ada jerawat meradang yang merah-merah.

Selain itu, hidung saya cukup sering komedoan, dan pori-pori di sekitar hidung cukup besar.

Review Pemakaian Selama 17 Jam

Sejak saat beli itu hingga sekarang ini, saya sudah cukup sering menggunakan foundie ini dan alhamdulillah cocok di kulit saya yang oily-combination serta tidak menimbulkan jerawat atau breakout. Namun, saya belum pernah benar-benar memakainya dalam waktu yang lama dan dalam kondisi tidak ideal (cuaca panas dan mobilitas tinggi). Jadi saya belum pernah benar-benar membuktikan claim-claim yang disebutkan estee di websitenya ini:

Flawless. Natural. Matte. Feels lightweight and so comfortable, you won’t believe it’s super long wear. No touchups needed.

Unifies uneven skintone and covers imperfections with buildable, medium-to-full coverage.

Stays color true. Won’t look grey on deeper skintones.

Double Wear is oil-free and oil-controlling. Waterproof and transfer-resistant, it lasts in hot and humid weather.

Keeps up with your busy day. For millions of women, it’s Double Wear or nothing. Put it on once and don’t think twice.

Kesempatan itu akhirnya datang pada akhir Oktober 2018 lalu. Saya dijadwalkan untuk menghadiri pelantikan dokter sepupu saya. Acara akan berlangsung dari pukul 07.30 pagi hingga 13.00 siang, lokasi semi-outdoor (di ruangan terbuka namun ada atapnya), ada jadwal makan siangnya, dan saya akan mengenakan kebaya. Saya pun lagi ‘dapet’ jadi tidak perlu wudhu sama sekali. Pas sekali ya semua kondisi ini sangat mendukung untuk mencoba ketahanan suatu foundie. Maka saya pun sudah meniatkan akan memakai foundie estee dari pagi sampai malam sebelum tidur.

Semalam sebelum hari H, saya juga menyempatkan membersihkan komedo dengan Innisfree Blackhead Balm dan Biore Pore Pack, serta memakai sheet mask. Bisa dibilang kondisi kulit saya sedang cukup prima.

Oke, pagi harinya, saya selesai memakai foundie pada pukul 06.00. Ini foto ketika saya baru memakai riasan mata dan foundie, belum selesai make up seluruh wajah, dan TANPA concealer ataupun color-corrector sama sekali.

154157203795160705

Bisa dilihat bahwa warna kulit sudah rata sepenuhnya, namun di dahi memang ada jerawat kecil yang muncul (jerawat hormonal karena lagi ‘dapet’). Namun semua bekas-bekas jerawat dan warna yang tidak rata sudah tertutupi sempurna dan menghasilkan base makeup yang flawless.

Saat baru pakai foundie ini, saya langsung merasa wajah saya sangat matte dan tidak tacky. Maka saya pun memutuskan untuk tidak menggunakan loose powder dengan teknik baking, melainkan hanya dab-dab dengan pressed powder karena saya juga tidak mau look ini terlihat banyak layer dan powdery.

154157203795160705 (1)

Oh ya, saya akan menuliskan di akhir post ini semua produk yang saya pakai di makeup look kali ini supaya teman-teman juga bisa tau produk apa yang mendukung dalam uji coba pemakaian foundie estee kali ini.

Pada pukul 07.30 saya dan sepupu otw ke lokasi acara lalu foto-foto di luar gedung hingga pukul 09.30. Selama 2 jam ini, tidak ada oil yang terproduksi dan saya tidak melihat adanya keperluan untuk touch up sama sekali. Untungnya memang cuaca sedang cerah berangin (bukan terik panas menggentang), jadi meskipun memakai kebaya, saya juga tidak merasa terlalu bekeringat. Acara pelantikan pun mulai pada pukul 09.30 hingga 12.00. Selama acara berlangsung saya hanya duduk bersama tamu-tamu lainnya di semacam tenda beratapkan tarup dan di depan kami ada kipas angin yang sangat memadai. Foundie masih sangat sangat aman.

Sekitar pukul 12.00 tamu undangan dipersilakan makan siang prasmanan seperti kalau kita ke undangan pernikahan. Saya memilih menu sup, capcay, fillet ikan rica-rica, serta minum teh hangat. Sengaja pilih yang panas, berkuah, berminyak, dan pedas supaya bisa melihat apakah akhirnya foundienya goyah 😀 Tapi maaf lupa banget ngefoto makanannya sebagai bukti karena waktu itu sudaah sangat kelaparan secara terakhir makan adalah sebelum jam 6 pagi 😀

Setelah selesai makan dan minum, saya pun membersihkan sekitar mulut saya dengan kertas tisu, dan sangat-sangat surprisingly, foundienya tidak ada yang menempel sama sekali di tisunya. Namun di bagian T-zone sudah muncul shine tapi masih terlihat seperti glowy sehat bukan minyak yang greasy ataupun foundie yang mulai meleleh *nangis terharu*. Sebagus itu T_T

Ini foto setelah makan siang. Saya sudah touch up lipstiknya ya ini. Bisa dilihat bahwa wajah masih sangat-sangat terkontrol.

154157203795160705 (2)

Oke lanjut. Sekitar jam 1 siang kami pulang ke rumah, namun jam 4 sore berencana keluar lagi untuk makan malam dalam rangka syukuran keluarga. Saya tidak menghapus makeup, dan memang makeupnya terasa sangat nyaman sampai saya pun tidak merasa harus buru-buru membersihkannya. Beda yang ketika kita selesai suatu acara dan makeupnya sudah tidak karuan bentuknya, bleber ke saana kemari, patchy, luntur, dan segala macem, pasti kita pengennya segera cuci muka. Nah kalau ini tidak ada perasaan seperti itu sama sekali. Saya bahkan sempat tidur siang masih menggunakan makeup 😀

Bangun sekitar jam 3 sore, saya touch up sedikit karena memang mukanya beler banget secara baru bangun tidur. Touch upnya hanya menggunakan bloting paper, bedak, dan setting spray. Seperti ini penampakan saya setelah bangun tidur masih dengan makeup yang sama.

154157203795160705 (3)

Acara makan malam pun berlangsung, saya makan ayam ungkep, ayam goreng, dan tempe mendoan plus sambal yang cukup pedas. Hingga saat akhir waktu makan yaitu sekitar pukul 7 malam, foundie bener-bener masih menempel dengan baik, bahkan tidak ada bagian yang mulai luntur di T-zone yang notabenenya mulai oily.

Sepulang makan malam, saya masih melanjutkan jalan-jalan ke taman bermain lampion bersama anak dan orang tua saya. Seperti ini penampakan saat jalan-jalan sekitar pukul 8 malam.

154157203795160705 (4)

Mukanya udah capek 😀

154157203795160705 (5)

Di T-Zone terlihat shiny tapi masih wajar

Dan pada akhirnya, hari saya pun berakhir pada pukul 20.30. Kami pun pulang ke rumah. Berikut foto saya sesaat setelah pulang. Masih terlihat glowy sehat.

154157203795160705 (6)

Saya pun melepas jilbab serta dalaman jilbab yang berbahan rajut. Dan ternyata bahkan tidak ada foundie yang menempel di jilbab maupun di dalaman jilbab saya. Lalu saya mencoba bloting pakai tisu, seperti ini penampakan tisunya.

154157203795160705 (7)

Sebersih ini, hanya ada warna coklat muda sedikit di kiri bawah.

Sekitar pukul 23.00, saya akhirnya memutuskan sudah saatnya membersihkan wajah karena saya sudah sangat mengangtuk. Saya lalu mencoba men-swipe bagian di dekat hidung sebelah kiri dan dagu untuk melihat apakah foundienya terangkat. Ternyata setelah 17 jam sejak pemakaian pertama, foundie pun mulai transfer sedikit.

154157203795160705 (8)

Semoga bisa terlihat dari foto di atas, di bagian dekat hidung sebelah kanan dan dagu ada foundie yang sudah terhapus.

Lalu saya pun membersihkan wajah dengan face wipes, seperti ini hasilnya.

IMG_20181025_230049

Masih ada sebanyak ini foundie yang menempel di wajah saya bahkan setelah 17 jam.

Kesimpulan

Setelah saya sendiri mencoba foundie ini selama 17 jam dan full kegiatan dari pagi hingga malam, maka berikut ini kesimpulan yang saya dapatkan mengenai foundie ini:

  • Ringan di wajah, seperti tidak memakai foundie
  • Hasil natural
  • Warna tidak abu-abu di wajah, tidak oxidize
  • Tidak tacky atau lengket-lengket saat baru dipakai, langsung matte
  • Tidak memerlukan pemakaian bedak berlebihan untuk menge-setnya
  • Tidak transfer, tidak menempel di pakaian
  • Tidak mudah luntur dan pudar
  • Tahan tanpa touch up sekitar 9 jam
  • Tidak greasy sama sekali bahkan hingga pemakaian selama 17 jam
  • Tidak crease sama sekali di bawah mata dan smile line meskipun tidak pakai concealer
  • Tidak cakey
  • Coverage medium dan buildable, dapat menutupi warna tidak rata dengan baik meskpun tanpa concealer
  • Menyamarkan pori-pori
  • Tidak mengaksentuasi komedo dan jerawat
  • Semakin lama dipakai, semakin menyatu dengan kulit

Beberapa kondisi yang menurut saya mendukung percobaan ini bisa memberikan hasil yang baik adalah:

  • Karakter kulit saya yang berminyak namun memang tidak berlebihan dan bukan acne prone skin
  • Kondisi kulit wajah saya sedang cukup baik (komedo baru dibersihkan, tidak banyak jerawat matang, lumayan smooth)
  • Cuaca yang tidak terlalu panas dan lumayan berangin sehingga membuat saya tidak terlalu berkeringat dan mengeluarkan minyak

Dan terakhir, berikut daftar produk yang saya pakai di makeup look ini:

  • Wet n Wild & Canmake Brushes
  • Etude House Drawing Eye Brow – gray brown
  • Maybelline Brow Precise Fiber Volumizing Eyebrow Gel – medium brown
  • Colourpop No Filter Concealer – medium 28 (was medium 30) untuk membingkai alis
  • Innisfree Eye Primer
  • Colourpop Eye Shadow Palette – Give it To Me Straight
  • Maybelline Hyper Impact Eye Liner
  • L’oreal Lash Paradise Mascara
  • Wet n Wild Photofocus Primer – matte finish
  • Estee Lauder Double Wear Stay in Place SPF 10 – 2N2 Buff
  • Fanbo Beauty Blender
  • Wet n Wild Photofocus Pressed Powder – neutral buff
  • Wet n Wild Contouring Palette – dulce de leche
  • Elf Blush Palette – light
  • Wet n Wild Megaglo Highlighter – precious petals
  • Wardah Exclusive Lip Cream – 17 rosy cheeks
  • Wet n Wild Photofocus Setting Spray – matte finish

Penutup

Baiklah, demikian cerita pengalaman saya menggunakan foundie ini selama 17 jam dari jam 6 pagi hingga 11 malam. Semua cerita yang saya sampaikan di atas insya Allah jujur, mungkin ada yang lupa-lupa sedikit, namun insya Allah tidak mengubah kenyataan yang ingin disampaikan. Saya merasa sangat puas bisa membuktikan sediri kualitas dari foundie ini. Saya jadi bisa bilang sendiri bahwa foundie ini benar-benar worth the price.

Satu catatan adalah, karena foundie ini ternyata terbukti sangat sweat-proof, water-prrof, dan oil-proof, saya tidak menyarankan untuk dipakai jika teman-teman yang muslimah akan melewati waktu solat dan harus berwudhu, karena saya cukup yakin air tidak akan sampai ke kulit jika kita memakai foundie ini.

Semoga review ini bermanfaat bagi teman-teman yang baru akan membeli foundie ini, ya! Sampai ketemu di review beauty products selanjutnya!

*****

PS: 

Mohon tidak mengambil foto yang saya unggah di post ini, baik tanpa izin maupun tidak.

Mohon tidak mengambil review saya tanpa izin.

Mohon mencantumkan tautan post ini jika teman-teman mengambil sebagian atau seluruh isi post ini karena saya membuat post ini dengan usaha yang murni saya lakukan sendiri.

Mohon tidak mengambil hasil kerja orang lain tanpa izin dan tanpa memberikan tautan ke post aslinya.