Siapa yang Tidak Ingin Traveling Gratis?

Seharusnya postingan kali ini adalah melanjutkan cerita saya tentang stereotip di Jepang. Namun, saya ingin berbagi sedikit kesan saya setelah membaca sebuah buku karya penulis favorit saya, sekaligus salah seorang inspirasi yang bisa dibilang membentuk pribadi saya hingga seperti sekarang ini. Beliau adalah Kak Trinity.

Saya yakin pasti teman-teman pun sudah tahu siapa sosok Kak Trinity ini. Beliau adalah seorang travel blogger. Namun uniknya dari Kak Trinity adalah, di saat para travel blogger kebanyakan membahas dengan detail bagaimana ‘cara’ jalan-jalan di suatu tempat, Kak Trinity lebih sering membahas hal-hal lucu dan unik dari perjalanan yang pernah ia alami. Sebagai pembaca bukunya, kita serasa ikut mengalami hal-hal tersebut dan jadi ingin juga pergi ke tempat-tempat yang pernah beliau datangi.

Saya ingat pertama kali saya membaca “The Naked Traveler” (buku seri cerita perjalanan Kak Trinity) adalah pada saat saya kuliah. Saat itu saya menjadi benar-benar terinspirasi untuk bisa banyak jalan-jalan dan menuliskan perjalanan saya. Dan karena itulah blog ini lahir :’) Bisa dibilang, Kak Trinity dan karyanya memiliki kedekatan emosional dengan saya dan blog ini (ih ngaku-ngaku ๐Ÿ˜› ).

Berkat Kak Trinity dan cerita-ceritanya, saat (kuliah) itu saya makin yakin bahwa saya harus melihat bumi Allah yang begitu luas ini lebih banyak lagi. Singkat cerita, saya yang memang bercita-cita ingin sekali melihat negara Jepang sejak kecil, jadi semakin mantap mengikuti seleksi beasiswa Monbusho untuk melanjutkan studi S2 di Jepang, karena saya sadar saya tidak berasal dari keluarga berlebih, maka saya harus mencari cara agar bisa ke Jepang gratis tanpa memberatkan orang tua.

Baru-baru ini, Kak Trinity merilis sebuah buku terbaru berjudul “69 Cara Traveling Gratis”. Sebagai emak-emak yang sudah punya anak dan jadi lebih sering di rumah, sebenarnya hobi jalan-jalan saya tidak pernah padam ataupun menurun dibandingkan dengan saat masih single dulu. Saya tahu saya harus baca buku ini. Saya harus bisa jalan-jalan (gratis) lagi!

Buku kali ini agak berbeda style-nya dengan buku-buku Kak Trinity sebelumnya. Buku kali ini sengaja dibuat berilustrasi full-colour karena diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Indonesia sekarang untuk lebih cinta buku dan tentu saja lebih cinta traveling!

Nah, siapa sih yang tidak suka jalan-jalan? Ada sih, tapi anggap aja sebagian besar BANGET orang suka jalan-jalan ya (maksa), apalagi kalau gratis. Ya kan? Namun tentu saja, namanya manusia itu hidup, pasti punya tanggung jawab yang harus dilakukan sehari-hari, yang menyebabkan kita harus menunggu waktu cuti/libur untuk bisa traveling atau jalan-jalan (kecuali kalau kamu anak konglomerat yang Sabtu-Minggu aja mainnya ke Singapura ya). Lalu bagaimana supaya kita bisa jalan-jalan terus, dan terutama gratis?

Jawabannya mudah saja. Pilihlah profesi yang menyebabkan kamu bisa banyak jalan-jalan! Jika kamu bisa traveling karena tugas dari profesimu itu, maka kamu tidak perlu membayar (setidaknya sebagian) biaya yang normalnya kamu keluarkan untuk traveling pada umumnya. Profesi apa saja itu? Jawabannya ada di buku ini.

Sesuai judulnya, Kak Trinity (dan Kak Yasmin, partner-in-crime per-traveling-an Kak Trinity), menjabarkan berbagai profesi yang berpotensi untuk sering traveling. Dilengkapi dengan ilustrasi yang lucu-lucu, buku ini sangat ringan dibaca, dan saya pun selesai membacanya hanya dalam beberapa jam saja (sambil diselingi mengasuh anak).

Alhamdulillah, saya pernah mengalami dari beberapa profesi yang disebutkan di buku ini. Dan tak dapat dipungkiri, waktu-waktu ketika saya menjalani profesi ini adalah waktu-waktu terbaik dalam hidup saya.

Pertama, beasiswa. Dengan kesempatan berkuliah dan tinggal di negara orang, saya jadi dapat kesempatan untuk mengeksplor negara tersebut selama beberapa tahun, sehingga sangat banyak tempat-tempat yang saya datangi, yang mungkin tidak bisa saya kunjungi jika saya hanya berlibur ke negara itu. Dan dengan tinggal di negaranya, saya juga merasakan menjadi bagian dari penduduk negara tersebut, yang secara tidak langsung, membuat saya menjadi lebih terbuka terhadap berbagai budaya dan kebiasaan.

Kedua, KKN, atau dalam kasus saya disebut KP (Kerja Praktek). Sebenarnya saya KP sengaja di kota kelahiran agar bisa tinggal di rumah. Saya KP di salah satu foreign oil & gas company di kota kelahiran saya, Balikpapan. Saat itu saya ditugaskan untuk memeriksa sebuah alat di salah satu tempat pengeboran minyak yang terletak di tengah laut. Maka saya pun berkesempatan naik chopper (helikopter) untuk menuju tempat tersebut dan menginap di sana selama 5 hari! Saat itu saya benar-benar wanita sendirian selama 5 hari di antara bapak-bapak dan mas-mas XD Akibatnya, saya mendapat perlakuan istimewa, dong. Dikasih tempat tidur di satu-satunya kamar di kilang minyak itu dengan kamar mandi pribadi (asalnya kamar ini milik pemimpin kilang, tapi bapaknya jadi ngalah sama saya selama saya menginap di sana). Pegawai biasa yang lain tidur di bunk bed di kamar berisi 3 bunk bed dengan kamar mandi luar bareng-bareng.

Walaupun ini disebut kilang minyak, namun jangan salah, fasilitasnya top notch, karena mereka juga sering kedatangan ekspat yang inspeksi ke kilang. Makan tiga kali sehari lengkap dengan pembuka, inti, dan penutup yang dibuatkan oleh chef beneran. Bisa pilih mau Indonesian style atau western style (demi mengantisipasi jika ada bule yang lagi datang dan tidak cocok dengan makanan Indonesia). Makannya pun bisa tambah sepuasnya, bisa request dibikinin telor berbagai macem. Uniknya, saat malam menjelang, kadang kamar saya terasa bergetar jika ombak sedang kencang. Hiii…

Ketiga, lomba. Sejak SD, SMP, dan SMA, saya sering dikirim oleh sekolah untuk mengikuti lomba cerdas cermat atau pun olimpiade bidang mata pelajaran Matematika dan Fisika. Akibatnya, saya pun beberapa kali dikirim keluar kota untuk mewakili sekolah saya. Bahkan saat SMP, saya pernah masuk TV lokal provinsi untuk mengikuti cerdas cermat tersebut. Salah satu puncaknya, saat SMP, saya mengikuti Olimpiade Sains Nasional dan alhamdulillah lolos dari tingkat kota, provinsi, hingga nasional, dan mewakili provinsi saya di tingkat nasional tersebut. Saat itu puncak olimpiade dilaksanakan di Kota Pekanbaru, Riau. Saya yang tidak memiliki kerabat di Kota Pekanbaru, tidak pernah terpikir bisa ke sana, jika bukan karena lomba ini.

Keempat, nikah (bukan jadi simpanan orang kaya, lho ya). Karena suami saya berasal dari kota yang sangaaat jauh dari kota asal saya, saya jadi punya kesempatan berlibur di sekitar kota kelahiran suami, yaitu Ciamis. Salah satu tempat yang berkesan adalah Green Canyon, saat itu kami melakukan body rafting di sungainya. Jika biasanya rafting dengan naik boat, ini hanya badan kita berlapis pelampung telempar-lempar oleh arus sungai. Seru banget! Kalau tidak karena mengenal suami saya, mungkin saya nggak akan seniat ini buat jalan-jalan sampai ke Green Canyon.

Kelima, outing kantor, atau dalam kasus saya outing bersama teman-teman lab saat kuliah S2 di Jepang. Di lab kami ada sebuah tradisi setiap musim panas untuk menginap di penginapan ala Jepang untuk membahas riset sekaligus berlibur, dengan tujuan refreshing agar tidak terlalu mumet membahas riset di lab terus-menerus. Umumnya penginapan ini tidak terletak di kota-kota besar di Jepang, melainkan di kota kecil dan bahkan pedesaan. Jika bukan karena outing lab ini, saya mungkin tidak tahu kota ini ada. Alhamdulillah saya jadi pernah mengunjungi kota-kota non-touristy di Jepang, yang sebenarnya tak kalah indah dengan kota yang sering kamu dengar namanya.

Keenam, peneliti. Masih saat saya S2 di Jepang, sebagai mahasiswa S2, kami juga bagian dari peneliti di lab kami. Beberapa kali kami mengadakan konferensi kecil dan bertemu dengan peneliti dari universitas lain untuk saling bertukar ide dan pemikiran, juga menjalin koneksi.

Di luar keenam ‘profesi’ ini, sebenarnya masih ada lagi seperti kunjungan keluarga/berlibur bersama keluarga. Namun tentu saja teman-teman pernah mengalami ini juga, kan?

Setelah ditulis seperti ini, saya jadi bersyukur sekali akan rejeki jalan-jalan yang sudah Allah kasih ke saya hingga saat ini. Namun, selama masih ada umur, saya masih ingin terus berjalan-jalan dan mengalami berbagai hal unik yang tidak bisa saya dapatkan jika hanya berdiam di rumah saja. Dan dari membaca buku “69 Cara Traveling Gratis” ini, saya menjadi tersadar masih banyak cari lain yang belum pernah saya coba. Saya berjanji akan mencobanya juga mulai sekarang. Saya yakin berkeluarga dan memiliki anak tidak menjadi hambatan kan? Mohon doanya, ya!

Untuk teman-teman yang suka jalan-jalan juga, coba baca buku ini deh, siapa tau ternyata teman-teman juga sudah tanpa sadar mengalami yang dituliskan di buku ini. Kalau malas beli di toko buku, belinya online aja di www.bentangpustaka.com.

Untuk adik-adik yang masih di bawah SMA usianya dan pengen jalan-jalan gratis juga, yuk baca buku ini supaya kalian bisa dapat inspirasi profesi apa yang akan kalian pilih jika sudah dewasa nanti dan bisa mempersiapkannya dari sekarang sesuai bakat dan minat adik-adik, karena tidak pernah terlalu dini untuk merencanakan masa depan. Percayalah pada kakak! *atau ‘tante’ ya? ๐Ÿ˜ฆ

******

Psst, siapa yang sudah baca buku ini selain saya? Nyadar nggak kalau urutan penulisan profesinya berdasarkan abjad? ๐Ÿ™‚

Advertisements

2 thoughts on “Siapa yang Tidak Ingin Traveling Gratis?

  1. nadiinn, toss buat profesi pertama yang Alhamdulillah bs bikin kita jalan2 dibayarin, pulang2 dpt ijazah yaaaa ๐Ÿ˜‰ seru nih kykny klo qt bkn blog post ttg jalan2 dgn anak, mskpun “hanya” jalan2 dlm rangka mudik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s